Tren lari marathon kini semakin populer, mencerminkan kesadaran masyarakat akan pentingnya gaya hidup sehat. Namun, di balik manfaat tersebut, terdapat risiko yang mengancam nyawa jika seseorang tidak memahami batasan kemampuan fisiknya. Baru-baru ini, sebuah insiden viral terjadi ketika seorang pelari mengalami kolaps dan harus menjalani cuci darah akibat gangguan fungsi ginjal, yang diduga berkaitan dengan kondisi bernama rhabdomyolysis.
Dokter spesialis penyakit dalam, dr Tunggul Situmorang, SpPD-KGH, menjelaskan bahwa risiko rhabdomyolysis saat berolahraga ekstrem sebenarnya dapat dihindari. Ia menekankan pentingnya mengenali tanda-tanda awal, di mana kelelahan akut menjadi sinyal yang harus diperhatikan. "Kelelahan (akut, red). Dipaksakan kok itu, udah merasa lelah, sudah itu dipaksakan sama dia," ungkap dr Tunggul saat dihubungi.
Memahami Rhabdomyolysis
Menurut informasi dari Cleveland Clinic, rhabdomyolysis adalah kondisi medis serius yang terjadi akibat kerusakan atau kematian jaringan otot rangka secara cepat. Kerusakan ini menyebabkan zat-zat dalam sel otot, seperti protein mioglobin dan elektrolit, bocor ke dalam aliran darah, yang dapat berpotensi merusak organ, terutama ginjal. Kondisi ini sering kali muncul akibat aktivitas berlebihan, trauma, atau penggunaan obat tertentu, sehingga aktivitas fisik berat seperti marathon berisiko tinggi terhadap kondisi ini.
Gejala dan Penanganan Rhabdomyolysis
Gejala rhabdomyolysis bervariasi dari ringan hingga berat dan biasanya muncul satu hingga tiga hari setelah cedera otot. Beberapa orang mungkin tidak merasakan nyeri otot sama sekali. Gejala lain yang mungkin dialami termasuk dehidrasi, penurunan frekuensi buang air kecil, mual, dan penurunan kesadaran.
Beruntung, dr Tunggul menyatakan bahwa rhabdomyolysis memiliki beberapa tingkatan dan merupakan bentuk gangguan ginjal akut (Acute Kidney Injury/AKI) yang bisa disembuhkan. "Misalnya AKI grade 1 dan 2, itu pasti reversible (bisa pulih, red) tanpa mungkin dialisis. Tapi kalau sudah grade 3, di AKI itu, itu sudah harus dialisis," jelasnya. Ia menambahkan, "Makin cepat dia diambil tindakan sesuai dengan indikasi, maka tentu dia akan reversible."
Dengan memahami risiko dan gejala rhabdomyolysis, pelari dapat lebih waspada dan mengambil langkah pencegahan yang tepat untuk menjaga kesehatan mereka saat berpartisipasi dalam marathon.