Kesehatan

Kisah Para Pasien Gagal Ginjal di Malaysia: Dampak Dialisis yang Menghimpit Kehidupan Sehari-hari

Pasien gagal ginjal di Malaysia menghadapi tantangan besar dalam menjalani perawatan dialisis, termasuk masalah kesehatan, biaya, dan kehilangan pekerjaan. Beberapa pasien berbagi pengalaman mereka ya...

V
Vina Maharani
13 May 2026 11 pembaca
Kisah Para Pasien Gagal Ginjal di Malaysia: Dampak Dialisis yang Menghimpit Kehidupan Sehari-hari
Foto: Getty Images/saengsuriya13

Di Malaysia, pasien yang menderita gagal ginjal, terutama yang telah mencapai tahap serius, sering kali disarankan untuk menjalani dialisis atau cuci darah. Sejumlah pasien mengungkapkan perjuangan mereka menghadapi kondisi fisik yang terus memburuk, biaya pengobatan yang tinggi, serta kehilangan pekerjaan demi bertahan menjalani dialisis secara rutin.

Salah satu pasien, Vijiya, seorang wanita berusia 62 tahun dari Petaling Jaya, mengungkapkan bahwa dialisis sangat menguras tenaganya dan bahkan membuatnya mudah pingsan. "Dialisis menguras energi saya dan bahkan membuat saya mudah pingsan," ujarnya. Kini, Vijiya harus menjalani cuci darah secara rutin untuk mempertahankan hidupnya. Ia merasa beban dari rutinitas mingguan tersebut sangat berat bagi kondisi fisik dan kehidupan sehari-harinya.

Vijiya mengurus semua hal sendiri, termasuk transportasi ke rumah sakit dan pusat perawatan. Ia juga menjalani pemeriksaan di rumah sakit pemerintah dan harus membayar sekitar RM200 atau setara dengan Rp 891.047. "Bahkan ketika saya turun dari flat di lantai 11 saya harus duduk dan beristirahat sebelum naik taksi," tambahnya. Sejak berusia 55 tahun, Vijiya sudah menjalani dialisis, sementara biaya pengobatan sebagian ditanggung oleh Organisasi Jaminan Sosial (PERKESO), tetapi ia tetap harus mengeluarkan biaya tambahan untuk transportasi dan kebutuhan sehari-hari.

Kesehatan yang Semakin Menurun

Jamilah, seorang pemilik usaha makanan berusia 65 tahun yang juga tinggal di Petaling Jaya, mengalami hal serupa. Ia merasakan penurunan kesehatan yang signifikan sejak menjalani dialisis secara rutin. "Saya hampir tidak mampu menjalankan usaha makanan saya. Saya menghabiskan berjam-jam menjalani dialisis dan setelahnya, saya merasa terlalu lelah untuk melanjutkannya," ungkap Jamilah.

Jamilah telah mengelola usaha makanan selama 10 tahun untuk memenuhi kebutuhan rumah dan mobilnya. Namun, kondisi kesehatannya kini semakin menyulitkan aktivitas usahanya. Biaya dialisis yang harus ia tanggung mencapai sekitar RM3.000 hingga RM4.000, atau sekitar Rp 13-17 juta. Beruntung, biaya tersebut masih ditanggung oleh asuransi putrinya. Ia mulai menjalani cuci darah sejak Juli 2025 setelah mengalami influenza, dan saat pemeriksaan, dokter menemukan bahwa ginjalnya sudah mengalami gagal ginjal.

Peningkatan Jumlah Pasien Dialisis

Menurut Assoc Prof Datuk Dr Lily Mushahar, seorang konsultan senior nefrologi di Fakultas Kedokteran Universitas IMU, satu sesi hemodialisis selama empat jam memerlukan sekitar 500 liter air. Ia menjelaskan bahwa umumnya pasien memerlukan 12 hingga 13 sesi dialisis setiap bulan. "Dialisis tidak terlalu baik untuk jejak karbon, terutama hemodialisis, karena utilitas (air, listrik) dan barang sekali pakai yang tinggi. Tetapi kita tidak dapat menghindari hal ini untuk terapi hemodialisis, sementara dialisis peritoneal lebih ramah lingkungan," jelas Dr Lily.

Ia juga menambahkan bahwa penggunaan air ultra-murni untuk dialisis memerlukan volume air yang lebih besar karena prosesnya lebih intensif dan mahal. "Satu-satunya hal yang mengarah ke dialisis hijau sejauh ini adalah daur ulang air, misalnya, dengan menggunakan air buangan untuk tujuan lain," katanya. Dalam sebuah tinjauan ilmiah yang dipublikasikan di jurnal Kidney International pada Juli 2023, penggunaan air global untuk hemodialisis diperkirakan mencapai sekitar 265 juta meter kubik per tahun, dengan dua pertiga air dari proses osmosis terbalik pada dialisis akhirnya terbuang ke saluran pembuangan.

Berdasarkan Laporan Tahunan Terapi Penggantian Ginjal Global 2022, hemodialisis menjadi metode pengobatan yang paling umum digunakan untuk pasien penyakit ginjal stadium akhir. Sekitar 90 persen pasien dialisis di dunia, atau sekitar 3,4 juta orang, memilih terapi ini. Jumlah pasien dialisis dilaporkan meningkat sekitar 7 persen setiap tahun, yang otomatis meningkatkan penggunaan air dan limbah yang dihasilkan oleh unit dialisis di berbagai negara. Oleh karena itu, para peneliti mendorong penerapan konsep "3R" dalam pengelolaan air dialisis, yaitu mengurangi penggunaan, menggunakan kembali air limbah, dan mendaur ulang limbah dialisis untuk kebutuhan lain seperti pertanian maupun akuaponik.

Artikel Terkait