PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) menyelenggarakan Bali Annual Telkom International Conference (BATIC) pada tahun 2026, yang berhasil menghimpun 4.200 pertemuan bisnis. Konferensi ini berfokus pada kemajuan industri digital, termasuk kebutuhan infrastruktur yang mendukung pertumbuhan kecerdasan buatan (AI). Acara tahunan ini, yang diorganisir oleh anak perusahaan TLKM, PT Telekomunikasi Indonesia International (Telin), telah memasuki tahun ke-11 pelaksanaannya. Sebanyak 67 negara turut berpartisipasi dalam event yang berfokus pada sektor telekomunikasi ini.
Kolaborasi untuk Pertumbuhan AI
Abdul Rahman Ansyori, Chief Executive Officer Telin, menyatakan bahwa BATIC berfungsi sebagai platform bagi pelaku industri untuk menjalin kolaborasi dan mendiskusikan perkembangan ekosistem digital. Ia menekankan bahwa pertumbuhan AI di kawasan Asia Pasifik meningkatkan kebutuhan akan infrastruktur digital yang lebih besar. “Di tahun 2026 ini kita memberikan sesuatu yang sedikit berbeda, dimana kita memasukkan salah satu BATIC series. BATIC series yang fokus bahasanya adalah di enterprise business,” ungkap Ansyori dalam konferensi pers BATIC 2026 yang diadakan di Nusa Dua, Bali, pada Selasa (25/8).
Tema yang diusung tahun ini adalah Uniting Ecosystem to Drive Connected Progress, yang dipilih untuk menekankan pentingnya kolaborasi antar pelaku industri dalam menghadapi perubahan teknologi dan tuntutan digital yang terus berkembang. Ansyori menjelaskan bahwa acara ini akan berlangsung selama empat hari, dari 24 hingga 28 Agustus 2026, di The Westin Resort Nusa Dua Bali.
Peluang Ekonomi Digital Indonesia
Dian Siswarini, Presiden Direktur Telkom Indonesia, menambahkan bahwa forum ini bertujuan untuk mendorong kolaborasi di antara pelaku industri dalam sektor digital, terutama terkait dengan pertumbuhan penggunaan AI. Ia mencatat bahwa negara-negara di kawasan tersebut sangat agresif dalam berinvestasi di bidang AI dan melihat Indonesia memiliki potensi besar untuk bersaing di pasar ini. “Memang kami melihat bahwa Indonesia ini memiliki peluang yang luar biasa sebagai pesaing bagi para pemain di kawasan Asia Pasifik,” kata Dian.
Dia juga mengungkapkan bahwa nilai ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan mencapai lebih dari US$ 130 miliar pada tahun 2026 dan dapat menembus angka US$ 360 miliar pada tahun 2030. Potensi ini, menurutnya, harus didukung oleh infrastruktur digital yang memadai, mulai dari konektivitas hingga platform berstandar internasional. Dian menekankan bahwa pembangunan infrastruktur digital tidak dapat dilakukan oleh satu perusahaan saja, melainkan memerlukan kolaborasi antar pelaku industri untuk menciptakan ekosistem yang mendukung inovasi dan nilai ekonomi yang berkelanjutan.
Budi Satria D. Purba, Direktur Wholesale & International Service Telkom, menyampaikan bahwa fokus utama Telkom melalui Telin adalah pengembangan infrastruktur konektivitas internasional, khususnya kabel laut. Ia mencatat bahwa bisnis konektivitas yang didukung oleh kabel laut internasional Telin mengalami pertumbuhan lebih dari 20% secara tahunan dari sisi pendapatan, yang didorong oleh meningkatnya kebutuhan konektivitas akibat perkembangan AI.
Menurut Budi, kebutuhan bandwidth untuk komunikasi antar-komputasi atau AI compute-to-compute dapat meningkat hingga sepuluh kali lipat dibandingkan kebutuhan sebelumnya. Hal ini menyebabkan permintaan terhadap kapasitas kabel laut meningkat secara signifikan. Bahkan, kapasitas kabel laut Bifrost yang menghubungkan Singapura hingga Amerika Serikat melalui perairan Indonesia telah terisi dalam waktu kurang dari satu tahun setelah penyelesaiannya, meskipun pembangunan kabel tersebut memerlukan waktu sekitar lima tahun. “Kecepatan pertumbuhan demand itu jauh lebih tinggi atau lebih cepat dibandingkan dengan kemampuan kita membangun infrastrukturnya,” ujarnya.
Bifrost merupakan salah satu infrastruktur kabel laut internasional yang dikembangkan oleh Telin untuk memperkuat konektivitas antara Asia dan Amerika Serikat. Permintaan kapasitas yang tinggi ini mendorong Telin untuk terus mengembangkan infrastruktur kabel laut internasional. Budi menegaskan bahwa Telin akan melanjutkan investasi di sektor ini dan memperluas kerja sama dengan operator global. Forum seperti BATIC menjadi salah satu sarana bagi Telin untuk membangun kolaborasi dengan mitra internasional, baik dalam pengembangan infrastruktur maupun pemasaran kapasitas kabel laut. “Telin akan terus konsisten berinvestasi infrastruktur khususnya kabel laut internasional,” katanya.