Nasional

Krisis Air Meluas di Sleman: 12 Sekolah dan 1 Puskesmas Terancam Kekeringan, BPBD Bergerak Cepat

S
Safeera Anisa
20 October 2026 4 pembaca
ilustrasi air (magnific)
ilustrasi air (magnific)

Awal Mula Krisis Air di Sleman

Ancaman kemarau mulai memukul sejumlah fasilitas publik di Kabupaten Sleman, Yogyakarta sejak awal Oktober 2026. Penyusutan debit air pada sumur-sumur warga dan instalasi lokal membuat pasokan air bersih bagi aktivitas pendidikan serta pelayanan kesehatan menurun secara mendadak. Berdasarkan pendataan awal serta pengecekan langsung di lapangan oleh tim kebencanaan setempat, ditemukan bahwa belasan institusi pendidikan dan satu fasilitas kesehatan membutuhkan bantuan pasokan air darurat.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman, Uun Mardiyanto, memaparkan rentetan krisis tersebut saat dikonfirmasi pada Senin, 19 Oktober 2026. Ia membenarkan temuan lapangan yang menunjukkan surutnya sumber air utama di area sekolah.

"Iya, ada 12 sekolahan yang terdampak kekeringan" ujar Uun Mardiyanto.

Ia menjelaskan bahwa penurunan pasokan air mulai terdeteksi sejak awal bulan sebelum akhirnya diverifikasi oleh tim lapangan. "Rata-rata sumurnya sudah mulai kering. Awal Oktober mulai ada info beberapa sekolah, setelah kami turun ke lapangan, kami cari data ada beberapa juga yang sudah membutuhkan dropping" ungkapnya.

Langkah Penanganan Tiga Sekolah via Jaringan PDAM

Menanggapi kondisi darurat tersebut, BPBD Sleman langsung mengambil tindakan bertahap sesuai letak geografis sekolah yang terdampak. Untuk tiga sekolah yang posisinya berada dekat dengan akses perpipaan daerah, penanganan dilakukan dengan menghubungkan fasilitas tersebut secara permanen.

Mengenai skema ini, Uun Mardiyanto menegaskan, "Tiga sekolah itu kan berdekatan dengan jalur PDAM sehingga dimungkinkan dipasangkan jaringan PDAM. Dimungkinkan untuk proses langganan PDAM".

Penyaluran Air Rutin ke Sembilan Sekolah Terpencil

Sementara itu, sembilan sekolah dasar lainnya belum terjangkau akses perpipaan sehingga memerlukan penanganan darurat berupa penyaluran air (dropping) secara rutin. Sembilan sekolah tersebut meliputi SDN Muhammadiyah 2 Pakem, SDN Cancangan, SDN Sejati, SDN Turi 2, SDN Kwatuhan, SDN Bulus, SDN Wonosari 2, SDN Turen, dan SD Muhammadiyah Gamplong.

Untuk menjaga keberlangsungan kegiatan belajar-mengajar, bantuan air dikirimkan secara berkala. Menurut Uun Mardiyanto, "Dropping (air bersih) rata-rata tiga atau empat hari sekali. Setiap sekolah kami sediakan tampungan 2.000 liter, kalau SD kan siswanya tidak terlalu banyak jadi bisa ter-cover".

Langkah penyaluran air ini disiagakan sembari merancang infrastruktur jangka panjang bersama pihak terkait. "Saat ini dropping air sebagai solusi darurat. Artinya mereka butuh air kita harus cukupi dulu, sambil kita berpikir solusi jangka panjangnya apa" tuturnya. Ia menambahkan, "Ini baru dikomunikasikan dengan Pamsimas. Barangkali ada Pamsimas terdekat, kita bisa salurkan ke Pamsimas".

Pasokan Harian untuk Puskesmas Ngaglik 2

Dampak musim kering ini tidak hanya melanda sektor pendidikan, melainkan juga menyasar fasilitas kesehatan masyarakat. Pada minggu kedua Oktober 2026, Puskesmas Ngaglik 2 terdeteksi mengalami penurunan debit air sumur yang cukup signifikan.

Menanggapi krisis di pusat layanan kesehatan tersebut, Uun Mardiyanto menyatakan, "Puskesmas ada satu yang termonitor, Puskesmas Ngaglik 2. Itu (terdampak kekeringan) dari minggu kemarin".

Mengingat tingginya intensitas warga yang berobat setiap hari, BPBD Sleman memprioritaskan penanganan dengan mengirimkan pasokan air bersih sebanyak 2.000 liter saban hari. "Puskesmas itu kan pelayanan masyarakat, kadang yang datang juga banyak jadi setiap hari kami dropping. Kami sediakan 2.000 liter" terangnya.

Saat ini, pihak pimpinan kebencanaan daerah masih mengkaji langkah teknis pemenuhan air permanen agar pelayanan medis tetap berjalan optimal. "Karena masih minggu kemarin, kami masih proses identifikasi. Nanti kami akan info kalau sudah ada solusi yang terbaik seperti apa" jelas Uun Mardiyanto.

Artikel Terkait