Sejak tahun 2015, Lina Lie telah menciptakan tiga lini bisnis yang signifikan dalam bidang kecantikan, fashion, dan pemberdayaan digital. Di Jakarta, ia mendirikan platform Tulandut yang bertujuan untuk membantu ibu rumah tangga mencapai kemandirian finansial dengan modal yang terjangkau. Salah satu merek yang dikelola oleh Lina bahkan berhasil meraih prestasi global sebagai salah satu dari dua merek teratas di TikTok di seluruh dunia.
Di tengah maraknya kesuksesan instan yang sering muncul di media sosial, Lina Lie menawarkan perspektif yang berbeda. Baginya, kesuksesan tidak hanya berasal dari satu konten viral, melainkan merupakan hasil dari konsistensi, kepercayaan, dan proses pembelajaran yang berkesinambungan. Memulai dari nol pada tahun 2015, kini Lina berhasil mengelola tiga lini bisnis besar yang mencakup sektor kecantikan, fashion, dan pemberdayaan UMKM berbasis digital.
Tiga Pilar Bisnis: Kecantikan, Fashion, dan Komunitas
Lina tidak membatasi diri pada satu bidang. Dalam sektor kecantikan, ia menjadi distributor Veirfoo di Indonesia, sebuah merek yang mengutamakan kualitas dan tren terbaru di dunia kecantikan. Selain itu, ia juga terjun ke dunia fashion sebagai distributor eksklusif VIVAIA, yang dikenal karena kenyamanannya bagi perempuan yang aktif. Namun, perhatian utama Lina terletak pada kontribusinya di dunia digital. Ia mendirikan Onelink, yang diakui sebagai Multi-Channel Network (MCN) TikTok pertama di Indonesia.
Selain itu, Lina juga meluncurkan Tulandut, sebuah platform kewirausahaan yang kini memiliki sekitar 50 toko fisik di Jakarta. "Saya percaya tidak ada jalan pintas dalam dunia bisnis. Sampai hari ini pun saya masih terus belajar," ungkap Lina saat mengenang perjalanan hampir satu dekade terakhirnya.
Tulandut: Misi Sosial di Balik Bisnis
Bagi Lina, bisnis tidak hanya sekadar angka di atas kertas. Melalui platform Tulandut, ia memiliki misi sosial untuk membantu ibu rumah tangga agar dapat mandiri secara finansial. Platform ini dirancang agar siapa pun bisa memulai bisnis online dengan modal yang ringan dan sistem yang mudah dipahami. "Saya ingin membangun sesuatu yang berkelanjutan, bukan sekadar mengejar keuntungan jangka pendek. Fokus saya adalah membantu lebih banyak orang agar berani memulai usaha," jelasnya.
Dalam era digital, Lina sangat aktif membagikan konten setiap hari. Namun, ia memiliki pandangan berbeda mengenai viralitas. Menurutnya, media sosial adalah alat untuk membangun kepercayaan, bukan sekadar untuk mencapai popularitas semata.