Singapura mengalami lonjakan inflasi inti yang mencapai level tertinggi dalam dua tahun terakhir pada bulan Juli 2026. Kenaikan harga ini terutama disebabkan oleh meningkatnya biaya utilitas rumah tangga, yang dipicu oleh tingginya harga energi global akibat konflik antara Amerika Serikat dan Iran.
Menurut data dari Departemen Statistik Singapura, inflasi inti, yang tidak termasuk biaya perumahan dan transportasi pribadi, tercatat sebesar 2% secara tahunan pada Juli 2026. Ini merupakan angka tertinggi sejak Oktober 2024. Sementara itu, inflasi umum mencapai 2,2%, yang lebih rendah dari perkiraan pasar yang mencapai 2,4%. Kenaikan harga energi menjadi salah satu faktor utama yang berkontribusi terhadap inflasi di Singapura pada bulan lalu, dengan harga utilitas dan bahan bakar lainnya meningkat sebesar 6,1% dibandingkan tahun sebelumnya.
Faktor Penyebab Inflasi dan Dampaknya
Singapura, yang sangat bergantung pada impor untuk kebutuhan energinya, juga terpaksa menaikkan tarif listrik dan gas ke level tertinggi pada kuartal ketiga. Tekanan harga juga terlihat pada sektor transportasi, di mana inflasi transportasi tetap tinggi di angka 7,9%, sedangkan inflasi pangan meningkat menjadi 2,2%. Ekonom dari Oversea-Chinese Banking Corp., Selena Ling, menyatakan bahwa lonjakan inflasi inti mencerminkan dampak berkelanjutan dari kenaikan harga energi akibat konflik di Timur Tengah. Ia menambahkan, “Ini mencerminkan banyaknya dampak lanjutan dari guncangan energi akibat perang Iran, terutama pada transportasi pribadi, transportasi darat, tarif penerbangan, serta asuransi kesehatan.”
Selena Ling juga mengingatkan adanya risiko kenaikan inflasi pada paruh kedua tahun ini, yang dapat dipicu oleh potensi fenomena Super El Niño yang berpotensi menyebabkan kekeringan serta ketidakpastian dalam negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran.
Bantuan dari Pemerintah untuk Masyarakat
Pada kesempatan sebelumnya, Perdana Menteri Singapura, Lawrence Wong, memperingatkan bahwa konflik di Timur Tengah dapat berdampak signifikan terhadap perekonomian negara. Dalam pidatonya pada National Day Rally, Wong menyoroti kerentanan Singapura terhadap gangguan pasokan energi, pangan, dan kebutuhan penting lainnya akibat gangguan pelayaran melalui Selat Hormuz. Untuk mengatasi kondisi ini, pemerintah Singapura telah mengalokasikan bantuan hampir 2 miliar dolar Singapura, yang terdiri dari dua paket kebijakan yang diluncurkan pada bulan Juli dan April 2026.
Paket yang dirilis pada Juli 2026 mencakup Community Development Council (CDC) Vouchers, yang dapat digunakan oleh rumah tangga untuk membeli kebutuhan sehari-hari di pedagang, hawker, dan supermarket yang berpartisipasi. Pemerintah juga memberikan tambahan 300 dolar Singapura per rumah tangga pada Januari 2027, setelah mempercepat pencairan voucher 500 dolar Singapura dari Januari 2027 menjadi Juni 2026. Dengan demikian, setiap rumah tangga akan menerima total 800 dolar Singapura CDC Vouchers untuk tahun fiskal 2026, yang berlaku hingga 31 Desember 2027.
Selain itu, pemerintah juga meningkatkan U-Save rebates, yang merupakan potongan atau rabat untuk membantu membayar tagihan utilitas, seperti listrik dan gas. Pada bulan Oktober 2026 dan Januari 2027, rumah tangga yang memenuhi syarat akan menerima antara 110 hingga 190 dolar Singapura per kuartal. Keluarga berpendapatan rendah yang membutuhkan bantuan mendesak akan mendapatkan peningkatan ComCare Interim Assistance menjadi setidaknya 250 dolar Singapura per bulan selama maksimal tiga bulan, dengan bantuan lebih besar bagi keluarga yang sangat membutuhkan.
Paket yang diumumkan sebelumnya pada bulan April mencakup tambahan Cost-of-Living Special Payment sebesar 200 dolar Singapura bagi penerima yang memenuhi syarat, serta bantuan tunai 200 dolar Singapura untuk pekerja platform, pengemudi kendaraan sewaan pribadi, dan pengemudi taksi yang terdampak oleh kenaikan harga bahan bakar.
Meskipun inflasi inti Singapura mengalami peningkatan, sejumlah ekonom menilai dampaknya masih dalam batas yang terkendali. Mereka memperkirakan bahwa kenaikan inflasi ini tidak akan mendorong Monetary Authority of Singapore (MAS) untuk kembali memperketat kebijakan moneternya. Ekonom Barclays, Brian Tan, berpendapat bahwa kenaikan inflasi inti masih lebih rendah dibandingkan dengan perkiraan pasar. Ia memperkirakan MAS akan mempertahankan kebijakan moneternya hingga tahun depan.
MAS sendiri mempertahankan proyeksi inflasi inti sebesar 1,5%-2,5% untuk tahun 2026 dan memprediksi bahwa tekanan harga akan mulai mereda secara signifikan sekitar pertengahan 2027. Di tengah tekanan inflasi dan konflik geopolitik, perekonomian Singapura masih menunjukkan ketahanan. Pemerintah baru-baru ini menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Singapura pada tahun 2026 menjadi 4,5%-5,5%, didorong oleh meningkatnya perdagangan dan aktivitas manufaktur yang terkait dengan perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI). Ekonom dari DBS Group Holdings, Chua Han Teng, menilai posisi kebijakan moneter MAS saat ini masih cukup baik untuk menghadapi tekanan inflasi.
Namun, para pembuat kebijakan tetap waspada terhadap risiko bahwa pertumbuhan ekonomi yang kuat dan didorong oleh teknologi dapat menciptakan tekanan permintaan serta kenaikan upah, yang pada akhirnya dapat memengaruhi stabilitas ekonomi.