Pemilik Grup Bayan, Low Tuck Kwong, telah mengambil alih posisi puncak dalam daftar orang terkaya di Indonesia, menggeser Prajogo Pangestu. Perubahan ini terungkap melalui data Forbes Real Time Billionaires yang dirilis pada Rabu (5/8). Kekayaan Low Tuck Kwong kini tercatat sebesar US$ 16,7 miliar, setara dengan sekitar Rp 301,31 triliun berdasarkan kurs Rp 18.037 per dolar AS. Dengan angka tersebut, ia menduduki peringkat pertama di Indonesia dan peringkat ke-171 di dunia.
Sumber Kekayaan Low Tuck Kwong
Kekayaan Low sebagian besar berasal dari bisnis pertambangan batu bara yang dijalankan melalui PT Bayan Resources Tbk (BYAN) dan PT Samindo Resources Tbk (MYOH) yang beroperasi di Indonesia. Karena itu, ia dikenal sebagai raja batu bara nasional. Selain bisnis batu bara, Low juga memiliki perusahaan energi terbarukan yang berbasis di Singapura, Metis Energy, yang sebelumnya dikenal sebagai Manhattan Resources. Ia juga memiliki kepentingan dalam The Farrer Park Company.
Di luar sektor energi, Low terlibat dalam mendukung SEAX Global, sebuah perusahaan yang membangun jaringan kabel bawah laut untuk meningkatkan konektivitas internet antara Singapura, Indonesia, dan Malaysia. Karir Low dimulai ketika ia bekerja di perusahaan konstruksi milik ayahnya di Singapura sejak remaja. Pada tahun 1972, ia memutuskan untuk pindah ke Indonesia demi mencari peluang bisnis yang lebih baik. Pada Agustus 2024, ia juga mengalihkan sebagian kepemilikan sahamnya di BYAN yang bernilai sekitar US$ 6,6 miliar kepada putrinya, Elaine.
Kenaikan Kekayaan dan Peta Konglomerat Indonesia
Kenaikan kekayaan Low juga didukung oleh peningkatan harga saham perusahaan-perusahaannya. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Rabu (5/8), saham BYAN mengalami kenaikan sebesar 4,31% dalam sebulan terakhir, sedangkan saham MYOH meningkat sebesar 0,98% dalam periode yang sama. Perubahan posisi Low ini turut mempengaruhi peta konglomerat terkaya di Indonesia pada paruh kedua tahun 2026. Meskipun demikian, posisi teratas masih dikuasai oleh konglomerat yang bergerak di sektor tambang dan komoditas.
Prajogo Pangestu, pemilik Grup Barito, kini menempati posisi kedua dengan kekayaan sebesar US$ 16,3 miliar atau sekitar Rp 294 triliun. Ia dikenal sebagai pengusaha di sektor petrokimia. Tahun lalu, Prajogo berada di puncak daftar orang terkaya di Indonesia berkat pertumbuhan bisnis di sektor tersebut. Perusahaan-perusahaannya yang terdaftar di BEI antara lain PT Barito Renewables Energy Tbk (BRPT), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA), dan PT Petrosea Tbk (PTRO).
Di posisi ketiga, Robert Budi Hartono memiliki kekayaan sebesar US$ 16,1 miliar atau sekitar Rp 290,39 triliun. Ia menjadi orang terkaya ketiga setelah mengambil alih kendali PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) setelah meninggalnya saudaranya, Michael Bambang Hartono, pada bulan Maret lalu. Selain bisnis perbankan, Budi Hartono juga mengendalikan Grup Djarum yang bergerak di sektor rokok dan telekomunikasi.
Di bawah tiga besar, daftar orang terkaya Indonesia masih didominasi oleh konglomerat yang bergerak di bidang komoditas, perbankan, dan infrastruktur. Anthoni Salim, pemilik Grup Salim, berada di posisi keempat dengan kekayaan sebesar US$ 10,7 miliar. Salim dikenal sebagai konglomerat dengan diversifikasi bisnis yang luas, mulai dari tambang batu bara, tambang emas, hingga perusahaan makanan terkenal seperti Indomie melalui PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) dan anak perusahaannya PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP).
Posisi selanjutnya diisi oleh Tahir dan keluarganya yang juga memiliki kekayaan berkat diversifikasi bisnis. Otto Toto Sugiri, pendiri PT DCI Indonesia Tbk (DCII), dan Marina Budiman, Presiden Komisaris DCI Indonesia, juga masuk dalam daftar dengan kekayaan masing-masing sebesar US$ 5,7 miliar.
Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga melalui WhatsApp Channel Katadata.co.id. Nikmati pengalaman membaca yang lebih nyaman dan fitur menarik lainnya melalui aplikasi mobile Katadata.