Jakarta - Fenomena cuaca ekstrem yang dikenal sebagai 'Super El Nino' diprediksi akan berlanjut hingga akhir tahun, memicu kekhawatiran di kalangan orang tua. Lonjakan suhu yang ekstrem dan gelombang panas yang berkepanjangan bukan hanya masalah cuaca, tetapi juga berpotensi mengancam kesehatan anak-anak, terutama mereka yang berusia di bawah 12 tahun.
Para ahli kesehatan mengingatkan bahwa anak-anak lebih rentan terhadap dampak cuaca panas dibandingkan dengan orang dewasa. Hal ini disebabkan oleh fakta bahwa tubuh anak lebih cepat mengalami peningkatan suhu dan memerlukan waktu lebih lama untuk mendinginkan diri, sehingga mereka lebih mudah mengalami gangguan akibat paparan panas.
Risiko Kesehatan yang Meningkat
Spesialis Iklim dan Lingkungan dari UNICEF Malaysia, Nasha Lee, menjelaskan bahwa kondisi ini meningkatkan risiko terjadinya dehidrasi, kelelahan akibat panas (heat exhaustion), hingga serangan panas (heat stroke). "Gelombang panas menimbulkan risiko signifikan bagi anak-anak karena paparan yang berkepanjangan meningkatkan kemungkinan dehidrasi, kelelahan akibat panas, dan serangan panas karena tubuh anak-anak memanas lebih cepat dan mendingin lebih lambat daripada tubuh orang dewasa," ungkap Nasha Lee.
Kondisi ini juga dapat sulit dikenali pada tahap awal karena gejalanya sering kali tampak ringan dan mudah diabaikan oleh orang tua. Dokter spesialis anak dari Rumah Sakit Tuanku Ja'afar, Dr. Naveen Nair Gangadaran, menyatakan bahwa tanda-tanda awal yang perlu diwaspadai antara lain anak menjadi lebih rewel, lesu, nafsu makan menurun, hingga kesulitan berkonsentrasi. "Anak-anak sangat rentan karena mereka menghasilkan lebih banyak panas saat beraktivitas dan bergantung pada orang dewasa untuk memastikan kebutuhan cairan serta perlindungan dari panas terpenuhi," jelasnya.
Penyakit yang Mungkin Muncul Akibat Cuaca Panas
Dr. Naveen menambahkan bahwa kehilangan cairan tubuh sebesar 1-2 persen dari berat badan saja sudah dapat memengaruhi fungsi otak, daya ingat, serta ketahanan fisik anak. Orang tua juga diminta untuk memahami berbagai gangguan kesehatan yang dapat muncul akibat paparan suhu tinggi. Menurut dokter spesialis anak dari Sunway Medical Centre, Dr. Ch'ng Tong Wooi, kondisi tersebut dapat dibagi menjadi tiga tingkat keparahan.
Kram Panas (Heat Cramps) merupakan bentuk paling ringan, ditandai dengan kejang otot yang menyakitkan di perut, lengan, atau kaki akibat kehilangan banyak garam dan elektrolit lewat keringat. Kelelahan Panas (Heat Exhaustion) adalah kondisi yang lebih serius dengan gejala kelelahan ekstrem, lemas, mual, sakit kepala, pusing, hingga detak jantung yang cepat. Sementara itu, Serangan Panas (Heat Stroke) adalah fase paling berbahaya dan merupakan kondisi darurat medis. Dr. Ch'ng mengingatkan bahwa dampak fatal dapat terjadi jika terlambat ditangani. "Serangan panas terjadi ketika suhu inti tubuh melebihi 40°C dan disertai dengan gejala neurologis seperti kebingungan, disorientasi, kejang, kehilangan kesadaran, atau bahkan koma," tegas Dr. Ch'ng.
"Pendinginan segera dan perawatan medis darurat sangat penting karena penundaan dapat menyebabkan kerusakan organ permanen atau bahkan kematian," lanjutnya. Selain itu, paparan dehidrasi kronis berulang sejak usia dini juga berisiko memicu gangguan ginjal jangka panjang pada anak.
Salah satu kasus nyata yang baru saja terjadi di Malaysia melibatkan seorang bocah berusia 8 tahun bernama Muhammad Irfan Sufian, yang tiba-tiba tumbang dan dilarikan ke rumah sakit setelah mengikuti kegiatan hari olahraga di sekolah. Sang ibu, Norul Akmah Abdullah (41), menceritakan bahwa anaknya mendadak mengeluh sakit kepala hebat, demam tinggi, hingga muntah-muntah. Dokter kemudian mendiagnosis bocah tersebut mengalami kelelahan akibat panas ekstrem alias heat exhaustion. "Saat itu, saya dan suami tidak tahu bahwa dia mengalami kelelahan akibat panas. Ketika dia pulang mengeluh sakit kepala, demam, dan muntah, kami segera membawanya ke rumah sakit," kenang Norul.
"Dokter kemudian memberi tahu kami bahwa gejala yang dialaminya adalah tanda-tanda kelelahan akibat panas," pungkasnya.