Perubahan yang dibawa oleh transformasi digital dan kemajuan kecerdasan buatan (AI) telah mengubah cara kerja media dan cara masyarakat mengakses informasi. Dalam konteks ini, media di kawasan ASEAN diharapkan untuk beradaptasi dengan perkembangan tersebut tanpa mengorbankan prinsip-prinsip dasar jurnalisme, seperti akurasi, verifikasi, dan kepercayaan publik. Isu ini menjadi salah satu topik utama dalam panel diskusi bertajuk “Peran Media dalam Membentuk Masa Depan ASEAN” yang berlangsung pada ASEAN Media Forum (AMF) ke-10 di Manila, Filipina, pada hari Kamis (30/7/2026).
Para pembicara dalam forum tersebut menekankan bahwa AI menawarkan peluang besar bagi industri media, namun juga menghadirkan tantangan baru, seperti meningkatnya disinformasi dan menurunnya kepercayaan publik. Akhyari Hananto, pendiri Good News from Indonesia (GNFI), menegaskan bahwa AI seharusnya dilihat sebagai alat bantu untuk meningkatkan kualitas kerja media, bukan sebagai pengganti jurnalis.
Tantangan Kepercayaan Publik
Noel Hidalgo Tan, Pejabat Senior Divisi Budaya dan Informasi Sekretariat ASEAN, mengingatkan bahwa tantangan terbesar saat ini bukan hanya perkembangan teknologi, tetapi juga menurunnya kepercayaan masyarakat terhadap informasi dan institusi. Jaemark Tordecilla, mantan Kepala Media Digital GMA News Filipina, menambahkan bahwa ruang redaksi saat ini berada pada titik di mana mereka harus mengikuti perkembangan teknologi untuk tetap relevan. “Banyak pekerjaan yang dilakukan saat ini berfokus pada efisiensi, memperbaiki alur kerja, dan mampu menghasilkan lebih banyak berita,” ujarnya.
Jaemark juga menyatakan bahwa pemanfaatan AI tidak seharusnya hanya terbatas pada peningkatan produktivitas. “Penggunaan AI yang paling menarik justru adalah menemukan cara baru untuk menceritakan kisah-kisah yang sebelumnya tidak mungkin diceritakan, serta menjangkau audiens yang sebelumnya sulit dijangkau,” ungkapnya. Akhyari menambahkan bahwa Good News from Indonesia telah memanfaatkan AI dalam berbagai tahap produksi konten, tetapi semua hasil tetap harus melalui proses editorial yang ketat. “Kami adalah media yang dibantu AI, bukan media yang dihasilkan AI. Manusia harus menjadi pintu terakhir sebelum sebuah konten dipublikasikan. Dua hal inilah yang paling penting,” tegas Akhyari.
Literasi Media dan Kolaborasi Lintas Sektor
Ia juga mengingatkan bahwa AI masih berpotensi menghasilkan informasi yang keliru atau AI hallucination, termasuk mencantumkan tautan atau referensi yang tidak ada. Oleh karena itu, setiap hasil AI selalu diperiksa ulang menggunakan berbagai model AI lain dan diverifikasi oleh tim editorial. Noel Hidalgo Tan menilai bahwa AI bukanlah penyebab utama munculnya disinformasi. Menurutnya, masalah utama terletak pada krisis kepercayaan publik yang sudah ada jauh sebelum teknologi AI berkembang. “AI generatif akan tetap ada. AI tidak menciptakan disinformasi. Yang berubah adalah aspek ekonominya. Kini jauh lebih mudah memproduksi informasi palsu dalam skala besar,” jelasnya.
Dalam konteks ini, ASEAN telah menyusun ASEAN Work Plan for Information and Media 2026–2035 yang mencakup lima pilar utama: memperluas akses informasi, menjaga integritas informasi, meningkatkan produksi konten, mempercepat transformasi digital, serta memperkuat kolaborasi lintas sektor. Selain itu, ASEAN juga mendorong peningkatan literasi media, penggunaan AI secara bertanggung jawab, serta penguatan kapasitas media agar mampu menghadapi tantangan di era digital.
Para pembicara juga menyoroti perubahan cara masyarakat, terutama generasi muda, dalam mengakses informasi. Media sosial dan platform digital kini menjadi saluran utama bagi masyarakat untuk mendapatkan berita, menggantikan media konvensional. Jaemark menyatakan bahwa generasi muda kini tidak hanya mencari informasi melalui media massa, tetapi juga mulai mengandalkan chatbot berbasis AI. Oleh karena itu, media perlu menyesuaikan strategi agar tetap relevan. Akhyari menambahkan bahwa banyak anak muda kini lebih memilih platform visual seperti TikTok dibandingkan mesin pencari konvensional. Untuk menjangkau kelompok ini, media perlu mengembangkan konten interaktif dan berbasis video yang mampu meraih hampir lima miliar tayangan dalam setahun.
Meski demikian, Akhyari mengingatkan bahwa algoritma media sosial lebih mengutamakan keterlibatan pengguna daripada akurasi informasi. “Media sosial tidak peduli apakah sebuah konten palsu, akurat, atau dibuat-buat. Yang penting bagi mereka adalah seberapa lama konten itu membuat orang tetap berada di platform. Kita tidak bisa berbuat banyak terhadap itu. Yang bisa kita lakukan adalah beradaptasi dengan algoritma baru tersebut,” ujarnya.
Para pembicara juga menekankan bahwa transformasi digital tidak boleh menggeser peran media tradisional. Televisi dan radio tetap menjadi saluran penting untuk menyampaikan informasi resmi, terutama saat terjadi bencana atau bagi masyarakat di daerah terpencil yang memiliki akses informasi terbatas. Selain itu, mereka mendorong kerja sama media lintas negara ASEAN agar pemberitaan mengenai isu-isu kawasan semakin kuat dan masyarakat ASEAN lebih memahami perkembangan di negara-negara tetangga. Dengan memadukan inovasi teknologi, standar jurnalistik, dan kolaborasi regional, media diharapkan tetap menjadi jembatan penting antara masyarakat dan kebijakan ASEAN.