Yayasan Ahmad Subardjo meluncurkan edisi kedua buku "Kesadaran Nasional" di Museum Perumusan Naskah Proklamasi, Jakarta, pada hari Sabtu, 29 Agustus 2026. Peluncuran ini bertujuan untuk memperkenalkan fondasi diplomasi serta sejarah proklamasi kepada generasi Z dan milenial. Karya otobiografi ini mencakup perjalanan hidup Ahmad Subardjo, mulai dari masa pergerakan mahasiswa hingga menjadi Menteri Luar Negeri pertama Republik Indonesia.
Sejarah bukan sekadar angka dan nama dalam buku pelajaran, melainkan merupakan napas perjuangan yang harus tetap relevan. Semangat ini menjadi dasar peluncuran kembali otobiografi legendaris Ahmad Subardjo, "Kesadaran Nasional", dalam edisi kedua yang lebih segar dan mudah dipahami. Setelah sulit ditemukan sejak cetakan pertamanya pada tahun 1978, Yayasan Ahmad Subardjo resmi merilis ulang buku ini di lokasi yang sangat ikonik, yaitu Museum Perumusan Naskah Proklamasi, Jakarta.
Peran Penting di Balik Proklamasi
Pemilihan lokasi peluncuran ini tidak tanpa alasan. Di gedung yang dulunya merupakan kediaman Laksamana Maeda, Ahmad Subardjo berperan penting sebagai "jembatan" yang menyatukan perbedaan antara golongan muda dan golongan tua menjelang Proklamasi 17 Agustus 1945. Desse Yussubrasta, Kepala Badan Pelestarian Kebudayaan DKI Jakarta, menyatakan, "Bapak Ahmad Subardjo berada di museum ini saat merumuskan naskah proklamasi. Ini adalah peninggalan sejarah yang tak terlupakan."
Menanamkan DNA Diplomasi
Buku ini tidak hanya menggambarkan hiruk-pikuk kemerdekaan, tetapi juga meletakkan dasar-dasar diplomasi Indonesia. R. Heru Hartanto Subolo dari Kementerian Luar Negeri menyebut Ahmad Subardjo sebagai sosok yang menanamkan "DNA Diplomasi" bagi negara ini. Mantan Menteri Luar Negeri RI, Dr. Hassan Wirajuda, juga menegaskan pentingnya meneruskan perjuangan Subardjo dengan menyatakan, "Diplomasi belum selesai." Ia menambahkan bahwa tantangan geopolitik saat ini merupakan kelanjutan dari fondasi yang dibangun oleh generasi perintis seperti Subardjo.
Mendorong Generasi Muda untuk Berpikir Cerdas
Salah satu tujuan utama penerbitan ulang ini adalah untuk menjangkau generasi Z dan milenial. Sejarawan Asep Kambali menekankan bahwa sejarah harus menjadi "konsumsi" anak muda dalam kemasan yang relevan dengan kehidupan mereka. Kurator Amanda Katili Niode menyatakan bahwa membaca kisah hidup Subardjo adalah suatu latihan untuk berpikir cerdas.