Jakarta - Pernahkah Anda merasakan bahwa mencium aroma tertentu, seperti bau makanan atau parfum, dapat mengingatkan Anda pada kenangan masa lalu? Aroma tersebut seolah-olah membawa kembali ingatan akan momen-momen yang pernah dialami. Fenomena ini telah menarik perhatian para peneliti sejak lama, termasuk dalam sebuah studi yang dilakukan pada tahun 1935.
Psikolog Donald Laird melakukan penelitian untuk menyelidiki hubungan antara bau dan memori. Dalam studi tersebut, ia meminta 254 partisipan untuk menuliskan aroma yang mereka anggap 'nostalgia' dalam hidup mereka. Hasilnya, Laird menerima banyak cerita, seperti aroma parfum yang mengingatkan seseorang pada saat berdansa, bau wol yang mengingatkan pada pamannya yang telah meninggal, hingga aroma serbuk kayu yang memunculkan kenangan bekerja di tempat penggergajian kayu dari salah satu peserta.
"Kenangan yang dipicu oleh bau-bau tersebut ternyata kuat, emosional, dan tertanam dalam. Bukan sekedar 'bayangan samar yang lewat begitu saja dalam pikiran kita'," ungkap Laird dalam laporannya.
Pemahaman Modern tentang Penciuman dan Memori
Hampir satu abad setelah penelitian Laird, para ilmuwan terus mengeksplorasi fenomena ini. Profesor Sandeep Robert Datta dari Harvard Medical School menjelaskan bahwa meskipun kemampuan penciuman manusia tidak sekuat beberapa hewan, indera ini memiliki keterkaitan yang erat dengan pusat kognitif, emosi, dan memori. Hidung manusia memiliki ratusan reseptor bau yang masing-masing dirancang untuk berinteraksi dengan kelompok molekul aroma tertentu.
Ketika molekul bau tersebut terhirup dan menempel pada reseptor yang sesuai, proses ini mirip dengan 'kunci yang dimasukkan ke dalam gembok'. Selanjutnya, neuron sensorik olfaktori mengirimkan sinyal listrik melalui akson ke berbagai bagian otak. Sinyal ini singgah di olfactory bulb sebelum melanjutkan ke area penting otak yang berkaitan dengan pembelajaran, emosi, dan memori.
Proses Penyimpanan Memori Melalui Aroma
Korteks olfaktori atau piriform cortex berfungsi untuk mengenali bau, amigdala yang terlibat dalam pembentukan emosi, dan hipokampus yang bertugas menyimpan serta mengatur memori. Jika hipokampus menganggap aroma tersebut penting, terutama yang berkaitan dengan momen emosional, informasi itu dapat disimpan tanpa batas waktu. Bahkan, puluhan tahun kemudian, aroma yang sama dapat langsung membanjiri seseorang dengan kenangan dan emosi dari masa lalu.
"Informasi dari penglihatan, suara, dan indra lain harus melewati thalamus terlebih dahulu sebelum mencapai amigdala dan hipokampus. Sebaliknya, sistem penciuman berada tepat di samping kedua area tersebut, sehingga tampak 'berevolusi untuk langsung menghubungkan informasi dengan pusat memori dan emosi'," jelas Datta.
Penjelasan ini mungkin menjadi alasan mengapa penelitian menunjukkan bahwa memori yang dipicu oleh bau cenderung lebih emosional dan lebih sering membawa seseorang kembali ke masa-masa awal kehidupannya.