Jakarta - Penelitian terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Nature Communications mengungkap alasan mengapa manusia hampir tidak dapat mengingat kejadian saat masih bayi. Penelitian ini berfokus pada bagian hipokampus yang disebut cornu ammonis 3 (CA3), yang berperan penting dalam penyimpanan dan pengingatan memori.
Neuron di CA3 memiliki kemampuan plastisitas, yaitu kemampuan untuk memperkuat atau melemahkan hubungan antar neuron, sehingga memori dapat menjadi lebih kuat atau memudar. Peneliti menemukan bahwa jaringan hipokampus pada awal kehidupan memiliki koneksi yang sangat padat, dengan banyak neuron saling terhubung dalam pola yang acak.
Proses Pemangkasan Jaringan Neuron
Seiring perkembangan otak, jaringan yang awalnya padat dan tidak teratur menjadi lebih jarang dan terstruktur, karena banyak koneksi yang dipangkas. Proses pemangkasan ini terjadi setelah lahir dan menyebabkan penurunan konektivitas yang signifikan saat memasuki masa remaja. Temuan ini bertentangan dengan anggapan bahwa hipokampus memulai kehidupannya sebagai 'tabula rasa' atau lembaran kosong.
Dalam kesimpulannya, peneliti menemukan bahwa sistem ini bukanlah tabula rasa, melainkan dimulai sebagai tabula plena (lembaran yang sudah terisi penuh), yang kemudian menjadi lebih jarang tetapi dengan koneksi yang lebih spesifik. Pola ini membantu menjelaskan mengapa manusia hanya mengingat sedikit pengalaman di masa bayi.
Kepekaan Sinaps dan Memori
Selama ini, memori diyakini tersimpan dalam jaringan neuron yang aktif secara bersamaan untuk merepresentasikan pengalaman tertentu. Namun, penelitian ini menunjukkan bahwa pada otak yang masih muda, hubungan antar-neuron bekerja dengan cara yang berbeda. Di jaringan otak bayi, satu sinyal saja sudah cukup untuk mengaktifkan sebuah neuron. Sebaliknya, pada otak yang telah matang, sebuah neuron umumnya memerlukan beberapa sinyal agar dapat aktif.
Kepekaan sinaps yang tinggi pada bayi menyebabkan berbagai pengalaman yang berbeda dapat memicu pola aktivitas yang saling tumpang tindih. Jika tumpang tindih ini terlalu besar, otak akan kesulitan membedakan satu memori dengan memori lainnya, sehingga menghasilkan ingatan yang lebih luas tetapi kurang spesifik.
Seiring bertambahnya usia, neuron menjadi lebih selektif dan membutuhkan beberapa sinyal agar dapat aktif. Hal ini menghasilkan terbentuknya jaringan saraf yang lebih terpisah dan jelas, sehingga memori yang dihasilkan menjadi lebih spesifik dan stabil. Peneliti terkejut dengan temuan bahwa pada tahap awal perkembangan, sinaps justru sangat aktif dan tidak lemah seperti yang diperkirakan sebelumnya.