Kesehatan

--- Mengapa Sulit Melepaskan Diri dari Hubungan Toksik? Dokter Jelaskan Trauma Bonding ---

--- Banyak individu terjebak dalam hubungan toksik meskipun mengalami perlakuan menyakitkan, dan hal ini sering kali menimbulkan pertanyaan dari orang-orang di sekitar mereka. Dokter spesialis kejiwaa...

D
Darma Yudhistira
06 July 2026 19 pembaca
Foto: Ilustrasi hubungan toksik (Getty Images/Filmstax)
Foto: Ilustrasi hubungan toksik (Getty Images/Filmstax)
---TITLEEXCERPT--- Banyak individu terjebak dalam hubungan toksik meskipun mengalami perlakuan menyakitkan, dan hal ini sering kali menimbulkan pertanyaan dari orang-orang di sekitar mereka. Dokter spesialis kejiwaan menjelaskan bahwa fenomena ini disebabkan oleh trauma bonding. ---CONTENT---

Jakarta - Banyak korban dari hubungan toksik memilih untuk tetap bertahan meskipun terus mengalami perlakuan yang menyakitkan. Keputusan ini sering kali memicu pertanyaan dari orang-orang di sekitar mereka yang beranggapan bahwa seharusnya korban dapat dengan mudah meninggalkan pasangannya. Namun, kenyataannya tidak semudah itu, ada berbagai faktor yang membuat korban merasa terjebak.

Faktor Trauma Bonding dalam Hubungan Toksik

Dokter spesialis kejiwaan, dr Erickson Arthur S, SpKJ, menjelaskan bahwa salah satu alasan mengapa korban sulit keluar dari hubungan toksik adalah adanya fenomena yang disebut trauma bonding. Menurut dr Erick, saat seseorang mengalami trauma bonding, terdapat beberapa fase dalam siklus yang terjadi. "Yang pertama, tadi kan sudah jelas ada kekerasan. Kekerasan yang terjadi bisa fisik, verbal, atau seksual. Memang itu pasti tidak nyaman ya. Tapi ternyata fasenya tidak sampai di situ," ungkapnya.

Dr Erick melanjutkan bahwa pelaku kekerasan biasanya akan memasuki fase berikutnya, seperti meminta maaf dan berjanji untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. "Pelaku bisa melakukan fase selanjutnya, yaitu meminta maaf dan akhirnya bermanis-manis lagi, memberikan harapan lagi. Itu yang akhirnya membuat ada ikatan secara emosional," jelasnya.

Ikatan Emosional yang Menjerat

Ikatan emosional yang terbentuk ini membuat korban cenderung terus memaafkan pasangannya, terutama jika hubungan tersebut sudah berlangsung dalam waktu yang lama. Namun, siklus tersebut umumnya akan terus berulang. "Akhirnya dia (korban) susah untuk menyingkir atau menyudahi hubungan itu," tambahnya.

Dr Erick juga menekankan bahwa hal ini merupakan bentuk manipulasi. "Itulah yang namanya manipulatif. Dia (pelaku) akan mencari cara agar tidak ditinggalkan, dengan cara meminta maaf," tutupnya.

Artikel Terkait