Ekonomi

--- Menggali Alasan BBCA Raih Laba Hampir Setara BMRI Meski Aset Lebih Kecil ---

--- Kinerja dua bank besar di Indonesia pada semester pertama 2026 menunjukkan laba bersih yang hampir setara, meskipun total aset Bank Mandiri jauh lebih besar dibandingkan Bank Central Asia. ---

V
Vina Maharani
31 July 2026 26 pembaca
Karunia Putri
Karunia Putri
---TITLEEXCERPT--- Kinerja dua bank besar di Indonesia pada semester pertama 2026 menunjukkan laba bersih yang hampir setara, meskipun total aset Bank Mandiri jauh lebih besar dibandingkan Bank Central Asia. ---CONTENT---

Pada semester pertama tahun 2026, terdapat hal menarik terkait kinerja dua bank besar di Indonesia, yaitu PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA). Kedua bank ini mencatatkan laba bersih yang hampir sama, berkisar antara Rp 29 hingga 30 triliun. Namun, perbandingan ukuran kedua bank ini sangat mencolok, di mana total aset Bank Mandiri mencapai Rp 2.527 triliun, sementara BCA hanya memiliki Rp 1.660 triliun, selisih sebesar Rp 867 triliun. Perbedaan ini menimbulkan pertanyaan mengenai bagaimana bank dengan aset yang jauh lebih kecil dapat menghasilkan laba yang hampir setara.

Perubahan Paradigma dalam Industri Perbankan

Menurut pengamat perbankan Moch Amin Nurdin, fenomena ini mencerminkan adanya perubahan paradigma dalam industri perbankan saat ini. Ukuran aset tidak lagi menjadi faktor utama dalam menentukan profitabilitas bank. “Dalam industri perbankan modern, yang lebih menentukan adalah kemampuan bank mengubah aset menjadi pendapatan secara efisien dengan tingkat risiko yang terkendali,” ungkap Amin.

Amin menjelaskan bahwa BBCA mampu meraih keuntungan besar meskipun memiliki aset yang lebih kecil dibandingkan BMRI karena perusahaan ini telah membangun keunggulan struktural selama bertahun-tahun, yang sulit ditiru oleh pesaing. Hal ini menjadi kunci utama keunggulan BBCA.

Dominasi dana murah atau current account saving account (CASA) membuat biaya dana BBCA menjadi salah satu yang terendah di industri. Keunggulan ini diperkuat oleh disiplin dalam menjaga kualitas kredit, efisiensi operasional, serta kontribusi besar dari pendapatan berbasis komisi yang berasal dari transaksi perbankan. Kombinasi dari faktor-faktor ini memungkinkan BBCA untuk menghasilkan laba tinggi meskipun mengelola aset yang lebih kecil dibandingkan BMRI.

Perbandingan CASA dan ROA

Berdasarkan laporan keuangan semester pertama 2026, CASA Bank Mandiri tercatat sebesar 69,2% dari total dana pihak ketiga yang mencapai Rp 1.763 triliun. Sementara itu, CASA BCA mencapai 84,3% dari total dana pihak ketiga, yang meningkat 10,2% secara tahunan menjadi Rp 1.082 triliun. Selain itu, return on assets (ROA) BBCA juga lebih tinggi, yakni 3,82%, dibandingkan dengan BMRI yang mencapai 3,10%.

Amin menjelaskan, “Karena itu, bila laba kedua bank relatif sama sementara aset Mandiri jauh lebih besar, secara matematis memang dapat dikatakan bahwa produktivitas aset BCA saat ini lebih tinggi. Hal tersebut tercermin dalam ROA yang lebih baik.” ROA menggambarkan kemampuan bank dalam menghasilkan keuntungan dari seluruh aset yang dikelola; semakin tinggi rasionya, semakin efisien bank memanfaatkan asetnya untuk mencetak laba.

Namun, Amin mengingatkan bahwa perbedaan ROA tidak serta merta menunjukkan bahwa kualitas bisnis Bank Mandiri lebih rendah dibandingkan dengan pesaing swastanya. Ia menekankan bahwa model bisnis kedua bank ini memang berbeda. Sebagai bank BUMN terbesar, Mandiri memiliki peran strategis dalam pembiayaan korporasi besar, proyek infrastruktur, dan sektor prioritas pemerintah, yang umumnya membutuhkan modal lebih besar dan memiliki tenor lebih panjang, serta menghasilkan margin yang lebih tipis dibandingkan bisnis transaksi yang menjadi kekuatan utama BCA.

“Dengan demikian, aset yang lebih besar tidak selalu menghasilkan laba yang proporsional lebih tinggi, karena setiap jenis aset memiliki tingkat pengembalian dan profil risiko yang berbeda,” tambahnya.

Ketika ditanya apakah perbedaan tersebut menunjukkan bahwa BMRI mengalami diminishing return, Amin berpendapat bahwa masih terlalu dini untuk menarik kesimpulan tersebut. Ia menyatakan bahwa kesimpulan semacam itu baru dapat ditarik jika dalam periode yang cukup panjang pertumbuhan aset tidak lagi mampu menghasilkan pertumbuhan laba atau peningkatan ROA, dengan mempertimbangkan faktor siklus ekonomi, suku bunga, pencadangan, dan strategi ekspansi. “Satu periode laporan keuangan belum cukup untuk menarik kesimpulan tersebut,” ujarnya.

Fenomena ini menunjukkan bahwa persaingan di antara bank-bank besar mulai bergeser. Jika sebelumnya ukuran aset menjadi simbol kekuatan bank, kini investor lebih memperhatikan kemampuan bank dalam menghasilkan laba dari setiap rupiah aset yang dikelola. Amin menambahkan bahwa kualitas laba, efisiensi operasional, pendapatan nonbunga, manajemen risiko, dan produktivitas aset akan semakin menentukan penilaian pasar terhadap industri perbankan. Ke depan, indikator yang paling penting bukan lagi siapa yang memiliki aset terbesar, melainkan siapa yang mampu menghasilkan return tertinggi dari aset tersebut tanpa mengorbankan kualitas kredit dan ketahanan modal. “Di situlah sesungguhnya kualitas sebuah bank akan dinilai oleh pasar dan para investor,” tuturnya.

Ia juga menilai bahwa tren ini menjelaskan mengapa bank yang tidak memiliki aset terbesar, seperti BBCA, sering kali memperoleh valuasi pasar yang lebih tinggi dibandingkan bank-bank lainnya.

Artikel Terkait