Ekonomi

Optimisme Pertumbuhan Ekonomi Indonesia di Tengah Suku Bunga Tinggi

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyatakan keyakinannya bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia akan tetap di atas 5% hingga akhir tahun, meskipun terpengaruh oleh suku bunga...

A
Agus Wigati
30 July 2026 21 pembaca
Image title
Image title

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menegaskan keyakinannya bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia akan tetap berada di atas 5% hingga akhir tahun ini, meskipun kondisi perekonomian masih dipengaruhi oleh tingginya suku bunga. Ia memperkirakan bahwa pertumbuhan ekonomi pada kuartal kedua tahun ini akan didorong oleh peningkatan belanja pemerintah dan investasi yang diperkirakan akan semakin kuat.

"Kuartal ketiga dan keempat tentu salah satu yang didorong adalah belanja pemerintah dan investasi," ungkap Airlangga saat memberikan keterangan kepada wartawan di kantornya pada Rabu (29/7).

Minat Investor dan Tantangan Perizinan

Menurut Airlangga, minat investor untuk berinvestasi di Indonesia masih cukup tinggi. Namun, investor mengharapkan pemerintah dapat mengatasi berbagai hambatan yang selama ini mengganggu realisasi investasi, terutama yang berkaitan dengan proses perizinan. "Investasi kemarin sebetulnya minat untuk investasi relatif tinggi, tetapi mereka minta ada beberapa hal yang terkait dengan debottlenecking, termasuk di antaranya terkait dengan perizinan," jelasnya.

Ia menambahkan bahwa pemerintah terus memantau perkembangan berbagai indikator ekonomi. Meskipun demikian, Airlangga tetap optimis bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang tahun ini dapat dipertahankan di atas 5%.

Kebijakan Suku Bunga dan Proyeksi Ekonomi

Bank Indonesia telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 100 basis poin sejak bulan Mei. Namun, dalam Rapat Dewan Gubernur BI yang berlangsung pekan lalu, keputusan diambil untuk mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75%. Faisal Rachman, Kepala Makroekonomi & Riset Pasar Permata Bank, memperkirakan bahwa Bank Indonesia masih berpotensi untuk menaikkan suku bunga lagi pada kuartal ketiga tahun ini sebesar 25 basis poin. Hal ini disebabkan oleh ketidakpastian yang terus-menerus baik di tingkat global maupun domestik, yang dapat menimbulkan risiko terhadap stabilitas rupiah.

"Secara eksternal, konflik yang sedang berlangsung di Timur Tengah terus menimbulkan risiko kenaikan yang signifikan terhadap inflasi global dan jalur suku bunga kebijakan global," tambahnya.

Faisal juga mengingatkan bahwa kerentanan domestik tetap tinggi, terutama terkait dengan dampak dari harga energi dan bahan bakar global yang lebih tinggi terhadap inflasi, posisi fiskal, dan neraca eksternal Indonesia. Risiko-risiko ini dapat berkontribusi pada pelebaran defisit kembar.

Proyeksi serupa juga disampaikan oleh Kepala Ekonom BCA, David Sumual, yang menilai bahwa masih ada kemungkinan Bank Indonesia kembali menaikkan suku bunga acuan seiring dengan proyeksi kenaikan suku bunga The Fed. Meskipun demikian, David masih memperkirakan bahwa ekonomi Indonesia tahun ini akan mampu tumbuh di atas 5%.

Artikel Terkait