Politik

--- PDIP Siapkan Sanksi untuk Kader yang Terlibat Intimidasi Terhadap Dokter Icha ---

--- PDIP menegaskan akan memberikan sanksi kepada kader yang terbukti terlibat dalam intimidasi yang diduga menyebabkan meninggalnya dr. Eliza Princila Utami Pakaenoni, atau dokter Icha. ---

A
Ananta Prana
29 June 2026 42 pembaca
Ketua DPP PDIP Djarot Saiful Hidayat dan Ketua DPP PDIP Andreas Hugo Pareira
Ketua DPP PDIP Djarot Saiful Hidayat dan Ketua DPP PDIP Andreas Hugo Pareira
---TITLEEXCERPT--- PDIP menegaskan akan memberikan sanksi kepada kader yang terbukti terlibat dalam intimidasi yang diduga menyebabkan meninggalnya dr. Eliza Princila Utami Pakaenoni, atau dokter Icha. ---CONTENT---

Ketua DPP PDIP, Djarot Saiful Hidayat, menegaskan bahwa partainya akan memberikan sanksi bagi kader yang terbukti terlibat dalam intimidasi yang diduga berujung pada meninggalnya dr. Eliza Princila Utami Pakaenoni, yang lebih dikenal sebagai dokter Icha. Insiden ini melibatkan anggota DPRD Timor Tengah Utara (TTU) yang diduga melakukan intimidasi terhadap dokter Icha.

Nama-nama yang beredar di masyarakat terkait kasus ini antara lain Therensius Lazakar dari Fraksi Partai Golkar, Veronika Lake dari Fraksi PDIP, dan Nobertus Tubani dari Fraksi PKB. Djarot menyatakan, “Diproses sesuai dengan pelanggaran yang dilakukan yang bersangkutan, dan kalau terbukti melakukan intimidasi dan perundungan akan diberikan partai akan berikan sanksi,” saat dikonfirmasi pada Senin (29/6/2026).

Sanksi Beragam Menanti Kader yang Terlibat

Djarot, yang sebelumnya menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta, menjelaskan bahwa sanksi yang akan dijatuhkan bervariasi, mulai dari sanksi lisan hingga pemecatan, tergantung pada tingkat pelanggaran yang dilakukan. “Sanksi sesuai dengan tingkat pelanggarannya, bisa sanksi secara lisan, tertulis sampai pemecatan,” ungkapnya.

Kasus ini sebelumnya mencuat ketika nama Veronika Lake, anggota DPRD Kabupaten Timor Tengah Utara, terlibat dalam dugaan intimidasi yang berujung pada meninggalnya dokter Icha. Veronika pun memberikan pernyataan untuk menjelaskan posisinya. Ia mengungkapkan rasa duka cita yang mendalam atas kehilangan dokter muda tersebut, “Saya, Veronika Lake, dengan penuh kerendahan hati menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya atas meninggalnya Dokter Icha. Semoga almarhumah mendapat tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa, dan keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan serta penghiburan,” katanya kepada media pada Minggu (29/6/2026).

Kronologi Versi Veronika Lake

Veronika merasa perlu untuk memberikan klarifikasi mengenai tuduhan yang dialamatkan kepadanya, bukan untuk mengurangi rasa hormat terhadap dokter Icha, tetapi untuk menjelaskan kronologi kejadian yang dialaminya secara langsung. Ia menjelaskan bahwa pada 13 Juni 2026, ia menghadiri acara arisan istri-istri anggota DPRD Kabupaten TTU di Kecamatan Insana. Setelah acara, Veronika pulang ke Kefamenanu dengan menumpang kendaraan bersama dua anggota DPRD lainnya serta seorang istri anggota DPRD.

Di tengah perjalanan, Therensius Lazakar mengajak rombongan untuk singgah di RS Leona guna menjenguk keponakannya yang dirawat di Instalasi Gawat Darurat akibat gigitan ular berbisa. “Saya ikut membesuk karena kebetulan pulang bersama rombongan tersebut. Kehadiran saya di rumah sakit bukan merupakan kunjungan yang direncanakan sebelumnya,” jelas Veronika.

Setibanya di RS Leona, dua rekannya lebih dahulu masuk ke ruang perawatan, sementara Veronika tetap berada di depan IGD dan berbincang dengan istri salah satu anggota DPRD. Ketika memasuki ruangan, Veronika mengaku melihat perdebatan antara dua anggota DPRD dan seorang dokter. Ia kemudian menghampiri pasien untuk menanyakan kondisi dan tindak lanjut penanganan medis yang diberikan.

Veronika juga menjelaskan mengenai pernyataannya yang menjadi sorotan, yaitu kalimat “panggil wartawan saja”. Ia menegaskan bahwa pernyataan tersebut bukan ditujukan kepada dokter secara pribadi, melainkan sebagai usulan kepada rekannya agar pelayanan kesehatan di rumah sakit mendapatkan perhatian publik. “Terkait perkataan ‘panggil wartawan saja’, itu saya maksudkan sebagai usulan kepada salah satu rekan DPRD agar ada liputan eksternal dan investigatif terkait transparansi pelayanan kesehatan, evaluasi, dan perbaikan kualitas pelayanan,” jelasnya.

Veronika menambahkan bahwa tidak lama setelah itu, pihak manajemen RS Leona dan dokter lain datang untuk memberikan penjelasan mengenai prosedur penanganan pasien.

Artikel Terkait