Pendidikan

Penelitian UGM Mengungkap Penyebab Kebakaran di Seyegan

Tim dari Fakultas Teknik UGM melakukan penelitian untuk mengidentifikasi penyebab kebakaran di rumah Mutfiana, Seyegan, yang telah terjadi sebanyak 73 kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa titik ap...

E
Eko Prasetyo
16 June 2026 8 pembaca
kompas.com Sumber: kompas.com
Penelitian UGM Mengungkap Penyebab Kebakaran di Seyegan
Sumber gambar: kompas.com

Tim Pusat Kajian Pelambatan Entropi (PKPE) dari Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM) melakukan observasi dan pengambilan sampel di rumah Mutfiana, lokasi yang menjadi pusat munculnya puluhan titik api di Seyegan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Kebakaran yang terjadi di rumah tersebut telah menarik perhatian banyak pihak, dengan catatan hingga awal Juni lalu, kebakaran tercatat sebanyak 73 kali di 65 titik di dalam rumah.

Pada Jumat, 12 Juni 2026, tim UGM yang terdiri dari 18 peneliti dan akademisi lintas disiplin, melakukan pengujian sampel terakhir di lokasi kejadian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyebab pasti kemunculan titik api adalah residu kebakaran yang dipicu oleh gas hidrogen yang berasal dari limbah pemotongan ayam.

Konferensi Pers dan Temuan Tim

Dalam konferensi pers yang diadakan di Gedung Engineering Research and Innovation Center (ERIC) pada Minggu, 13 Juni 2026, perwakilan tim menyampaikan hasil temuan tersebut. Beberapa pakar yang hadir antara lain Prof. Ir. Alva Edy Tontowi sebagai ketua tim, serta Prof. Dr. Eng. Ir. Deendarlianto, Prof. Ir. Leni Sophia Heliani, Dr. Sarju Winardi, dan Dr. Saptono Budi Samodra.

Prof. Alva menjelaskan bahwa tim berfokus pada identifikasi kemungkinan fenomena alam yang dapat menyebabkan kebakaran. Untuk itu, mereka melakukan pengukuran medan elektromagnetik, pemetaan bawah permukaan tanah dengan teknologi Georadar dan Geolistrik, serta pengukuran kandungan gas menggunakan portable-gas detector. “Sesuai dengan dugaan awal, tim mendeteksi adanya gas hidrogen (H2) pada titik-titik munculnya api yang diduga berasosiasi dengan gas Pyrophoric yang berasal dari limbah potongan ayam,” ungkapnya.

Analisis Residu Kebakaran

Menanggapi dugaan adanya gas hidrogen, tim melakukan pemeriksaan terhadap residu kebakaran yang terdapat pada permukaan dinding keramik, kayu, dan tripleks, serta melakukan analisis menggunakan cahaya inframerah (FITR). Pengambilan sampel terakhir yang dilakukan pada 12 Juni 2026 mengungkapkan adanya kandungan PVC (Polivinil Klorida) yang tidak biasa ditemukan di permukaan keramik maupun dinding dan tripleks. “Saat PVC terbakar, gas Hidrogen Klorida akan muncul. Detektor membaca gas tersebut sebagai gas hidrogen,” jelas Alva.

Tim UGM memulai observasi pertama pada 30 Mei 2026. Hasil analisis spasial yang dilakukan dari ketinggian hingga radius 200 meter menggunakan drone dan sensor inframerah tidak menunjukkan adanya anomali termal, dan retakan yang ditemukan tidak mengandung gas alam. Pengukuran medan listrik dan medan magnetik di lokasi kejadian juga menunjukkan hasil yang normal. “Seiring berjalannya waktu, tim tidak menemukan bukti kuat bahwa api muncul secara alami atau dapat menyala akibat pemantik elektromagnetik maupun karena Spontaneous Ignition,” tambah Sarju, salah satu anggota tim.

Tindak lanjut dari temuan ini sepenuhnya diserahkan kepada BPBD Sleman. Dengan demikian, tim pakar resmi menutup observasi terhadap titik kemunculan api di rumah warga di Seyegan, Yogyakarta.

Artikel Terkait