Kesehatan

Peningkatan Kasus Serangan Jantung di Kalangan Anak Muda, Apa Penyebabnya?

Kelompok usia muda, yang biasanya dianggap lebih sehat, kini menghadapi risiko serangan jantung yang meningkat. Sekitar 20% kasus serangan jantung terjadi pada individu di bawah 40 tahun.

J
Jarot Kusna
18 May 2026 9 pembaca
Peningkatan Kasus Serangan Jantung di Kalangan Anak Muda, Apa Penyebabnya?
Foto ilustrasi: Getty Images/twinsterphoto

Jakarta - Meskipun dianggap lebih terlindungi, kelompok usia muda ternyata tetap berisiko tinggi mengalami serangan jantung. Saat ini, sekitar satu dari lima kasus serangan jantung terjadi pada orang yang berusia di bawah 40 tahun. Laporan dari Cardio Metabolic Institute mengungkapkan bahwa serangan jantung tidak selalu terjadi secara tiba-tiba, melainkan dapat dipicu oleh kombinasi gaya hidup dan kondisi kesehatan yang kurang baik.

Penyebab Utama Serangan Jantung

Beberapa faktor yang berkontribusi terhadap risiko serangan jantung meliputi obesitas, diabetes tipe 2, hipertensi, kolesterol tinggi, kurangnya aktivitas fisik, serta pola makan yang tidak sehat seperti konsumsi makanan olahan. Selain itu, stres kronis, kurang tidur, kebiasaan merokok, dan konsumsi alkohol yang berlebihan juga menjadi penyebab yang signifikan. Riwayat keluarga dengan penyakit jantung di usia muda juga dapat meningkatkan risiko secara substansial.

Peneliti mulai menyoroti potensi hubungan antara komplikasi pasca COVID-19 dan keberadaan mikroplastik dalam darah terhadap kesehatan jantung. Sayangnya, banyak anak muda yang terlambat mencari bantuan medis karena mereka menganggap gejala serangan jantung sebagai masalah kesehatan yang biasa, seperti pegal, gangguan lambung, atau kecemasan. Padahal, gejala yang perlu diwaspadai mencakup nyeri atau tekanan di dada, nyeri yang menjalar ke rahang, leher, punggung, dan lengan, serta gejala samar seperti keringat dingin, mual, pusing, dan kelelahan berat tanpa penyebab yang jelas.

Pentingnya Kesadaran Terhadap Gejala

Dokter spesialis penyakit dalam konsultan kardiovaskular, Dr. Dede Moeswir dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, menekankan bahwa serangan jantung dapat mengancam nyawa dalam waktu singkat. Selain itu, kondisi ini dapat menyebabkan kerusakan permanen pada otot jantung, yang berujung pada gagal jantung. Ketika serangan jantung terjadi, pembuluh darah yang menyuplai oksigen ke jantung terhambat, sehingga sebagian otot jantung kekurangan oksigen dan mengalami kerusakan.

"Terapi utama yang dilakukan ialah membuka kembali pembuluh darah yang tersumbat melalui tindakan intervensi koroner perkutan menggunakan kawat khusus, balon, dan pemasangan stent," jelasnya dalam sebuah sidang promosi doktor. Serangan jantung terjadi ketika aliran darah ke jantung terhambat, dan jika sumbatan tidak segera diatasi, jaringan otot jantung dapat mati.

Dengan meningkatnya kasus serangan jantung di kalangan anak muda, penting bagi mereka untuk lebih waspada terhadap gejala dan menjaga gaya hidup sehat demi mencegah risiko yang lebih besar.

Artikel Terkait