Kesehatan

Peningkatan Pengawasan Sawi Putih Impor Terkait Dugaan Formalin

Singapore Food Agency (SFA) memperketat pemeriksaan terhadap sawi putih setelah terungkapnya penggunaan formaldehida di China. Langkah ini diambil menyusul kekhawatiran akan keamanan pangan yang melan...

V
Vina Maharani
02 September 2026 1 pembaca
Foto: Getty Images/iStockphoto/Elena_Danileiko
Foto: Getty Images/iStockphoto/Elena_Danileiko

Jakarta - Pada hari Selasa (1/9), Singapore Food Agency (SFA) mengumumkan bahwa mereka telah meningkatkan pemeriksaan terhadap sawi putih setelah muncul laporan mengenai penggunaan formaldehida pada sayuran tersebut di China. SFA menyatakan bahwa mereka akan terus memantau situasi dan memperkuat pengawasan serta pengujian sebagai bagian dari program pemantauan keamanan pangan yang mereka jalankan.

Respon dari Korea Selatan dan Taiwan

Langkah SFA ini juga sejalan dengan tindakan Korea Selatan yang telah memperketat pemeriksaan terhadap sawi putih yang diimpor dari China. Skandal mengenai keamanan pangan yang melibatkan sawi putih yang direndam dalam formaldehida di China telah menimbulkan kekhawatiran di berbagai negara di kawasan tersebut. Taiwan pun berupaya menenangkan konsumen dengan memeriksa kemungkinan produk yang terkontaminasi masuk ke wilayahnya secara tidak langsung.

Pemeriksaan Nasional di China

China sendiri telah melaksanakan pemeriksaan secara nasional terhadap sayuran yang mudah rusak. Tindakan ini diambil setelah otoritas di Provinsi Hebei, China utara, mengonfirmasi pada 22 Agustus bahwa formaldehida, yang dikenal sebagai zat karsinogenik, digunakan secara ilegal untuk mengawetkan sawi putih selama proses pengangkutan. Kasus ini mulai mencuat setelah seorang blogger lingkungan di China, yang dikenal dengan nama akun Qige, mengunggah video di Douyin yang menunjukkan praktik tersebut.

Dalam video itu, Qige mengklaim bahwa sejumlah pekerja di Kota Tunken, Kabupaten Kangbao, Provinsi Hebei, mencelupkan sawi putih ke dalam larutan yang diduga mengandung formaldehida sebelum mengirimnya. Dia juga bertanya kepada para pekerja mengenai durasi perlakuan tersebut untuk menjaga kesegaran sayuran. Salah satu pekerja menjawab, "Dua hingga tiga hari," seperti yang dilaporkan oleh CNA. Mereka juga menyebutkan bahwa muatan tersebut akan dikirim ke Kota Suqian, Provinsi Jiangsu.

Tuduhan ini dengan cepat menjadi viral, dan otoritas setempat mengonfirmasi pada 22 Agustus bahwa penyelidikan awal menunjukkan bahwa praktik yang ditampilkan dalam video tersebut memang terjadi, menurut laporan dari China Daily. Formaldehida telah diklasifikasikan sebagai zat karsinogenik bagi manusia oleh International Agency for Research on Cancer (IARC) dan digunakan dalam berbagai industri, termasuk pembuatan plastik dan resin, serta sebagai bahan pengawet.

Artikel Terkait