Air Minum dalam Kemasan (AMDK) berasal dari berbagai sumber, termasuk mata air pegunungan yang memiliki kualitas alami baik. Pertanyaannya, bagaimana sumber air ini tetap tersedia meski digunakan untuk memenuhi kebutuhan air minum dalam jumlah besar? Keberlanjutan sumber air ditentukan oleh proses alami di kawasan resapan serta upaya menjaga kelestarian lingkungan di sekitarnya.
Tanpa kawasan resapan yang berfungsi dengan baik, cadangan air tanah dapat berkurang, dan kualitasnya berisiko menurun. Oleh karena itu, menjaga kelestarian lingkungan bukan hanya melindungi alam, tetapi juga penting untuk menjaga kuantitas dan kualitas sumber air yang digunakan sebagai bahan baku AMDK agar tetap tersedia secara berkelanjutan.
Proses Alami dalam Penyimpanan Air
Air yang digunakan sebagai bahan baku AMDK merupakan hasil dari proses alami yang berlangsung lama. Ketika hujan turun, tidak semua air langsung mengalir ke sungai atau laut; sebagian meresap ke dalam tanah melalui kawasan resapan dan tersimpan dalam akuifer. Di dalam akuifer, air bergerak perlahan mengikuti karakteristik batuan hingga muncul sebagai mata air, sambil mengalami penyaringan alami melalui berbagai lapisan tanah dan batuan.
Prof Dr Rer Nat Ir Heru Hendrayana dari Universitas Gadjah Mada menjelaskan bahwa batuan vulkanik muda di lereng Gunung Merapi memiliki kemampuan baik dalam menyimpan dan mengalirkan air. Ia menyatakan bahwa air hujan yang meresap di kawasan tersebut memerlukan waktu sekitar 27 tahun untuk muncul sebagai mata air, yang berarti air yang dimanfaatkan saat ini berasal dari hujan puluhan tahun lalu.
Perlunya Konservasi untuk Menjaga Kualitas Air
Air yang digunakan sebagai AMDK berasal dari akuifer tertekan yang lebih dalam dan terlindungi dari kontaminasi permukaan. Meskipun memiliki perlindungan alami, kualitas air tetap perlu dijaga melalui upaya konservasi. Kerusakan kawasan resapan dan pencemaran lingkungan dapat meningkatkan risiko masuknya bahan pencemar ke dalam sistem air tanah.
Prof Heru menekankan pentingnya menjaga kebersihan kawasan resapan dari sumber kontaminasi seperti peternakan. Dengan menjaga lingkungan, kualitas sumber air dapat dipertahankan dalam jangka panjang. Selain itu, kondisi lingkungan yang baik di kawasan resapan mempengaruhi kemampuan tanah dalam menyerap air hujan.
Upaya konservasi tidak hanya dilakukan dengan menanam pohon, tetapi juga melalui penelitian hidrogeologi dan kajian sosial ekonomi untuk memastikan program konservasi memberikan manfaat bagi masyarakat. Pendekatan seperti agroforestri dan pembangunan sumur resapan juga diterapkan untuk meningkatkan penyerapan air ke dalam tanah.
Menjaga sumber air memerlukan kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, akademisi, dan pelaku usaha. Melalui forum Daerah Aliran Sungai (DAS), berbagai pihak dapat merencanakan upaya konservasi sesuai dengan kondisi wilayah masing-masing.