Kesehatan

Pentingnya Memeriksa Keamanan Produk Sebelum Membeli di Era Digital

Di tengah maraknya produk viral yang beredar, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengingatkan konsumen untuk lebih teliti sebelum melakukan pembelian. Produk ilegal dan tanpa izin edar dapat memba...

A
Ananta Prana
31 July 2026 19 pembaca
Foto: detikcom
Foto: detikcom

Jakarta - Di zaman digital saat ini, banyak konsumen yang mengandalkan ulasan di media sosial, marketplace, dan rekomendasi dari influencer sebagai pertimbangan utama sebelum membeli produk. Hal ini seringkali membuat produk menjadi viral dan laris manis hanya karena banyaknya ulasan positif. Namun, tidak semua review dapat dijadikan acuan yang dapat dipercaya. Masih ada produk yang beredar tanpa izin resmi, mengandung klaim berlebihan, atau bahkan belum terjamin keamanan dan mutunya. Produk ilegal ini dapat ditemukan di berbagai kategori, termasuk kosmetik, obat tradisional, suplemen kesehatan, dan makanan olahan.

Pentingnya Cek KLIK BPOM

Kepala BPOM, Taruna Ikrar, mengingatkan bahwa di tengah meningkatnya peredaran produk ilegal, konsumen perlu lebih berhati-hati saat membeli dan menggunakan produk. Melalui Peraturan BPOM Nomor 16 Tahun 2025, BPOM melibatkan masyarakat, akademisi, dan influencer untuk ikut serta dalam mengawasi keamanan produk. "Sebagai lembaga negara, BPOM berkewajiban melindungi masyarakat dari promosi atau iklan yang merugikan. Kami ingin memastikan bahwa produk yang sampai ke konsumen adalah produk yang legal. Jika tidak legal, tidak ada jaminan dan tidak ada proses seleksi terhadap produk tersebut," jelas Taruna dalam acara Leaders Forum bertajuk "Produk Viral, Sebelum Checkout Apa yang Perlu Dicek?" yang diselenggarakan oleh detikcom dan BPOM.

Taruna juga mengingatkan masyarakat untuk menerapkan prinsip Cek KLIK BPOM, yang mencakup Cek Kemasan, Cek Label, Cek Izin Edar, dan Cek Kedaluwarsa. "Harus diingat, BPOM selalu mempromosikan untuk memastikan cek kemasan, label, izin edar, dan masa kadaluarsa. Cek KLIK agar tidak menjadi korban overclaim!" tegasnya.

Tanggung Jawab Produsen dan Pelaku Industri

Di balik popularitas produk yang beredar, produsen dan pelaku industri memiliki tanggung jawab besar untuk memastikan bahwa setiap produk memenuhi standar keamanan, mutu, dan regulasi yang berlaku. Ketua Umum Persatuan Perusahaan Kosmetika Indonesia (PERKOSMI), Sancoyo Antarikso, menegaskan bahwa kepatuhan terhadap regulasi adalah dasar bagi pertumbuhan industri kosmetik. "Popularitas tidak menjamin keamanan produk sesuai regulasi. Produk bisa viral dengan strategi pemasaran yang baik, tetapi setiap pelaku usaha tetap harus memenuhi peraturan yang ada. Regulasi mencakup cara produksi, pemilihan bahan baku, hingga cara memasarkan klaim," ungkapnya.

Ketua Umum Gabungan Produsen Makanan Minuman Indonesia (GAPMMI), Adhi S. Lukman, juga menyoroti fenomena produk viral di era digital. Ia menyatakan bahwa banyak konsumen memilih produk viral karena harganya yang terjangkau atau hanya karena banyak digunakan orang lain. "Saya melihat survei literasi terhadap berbagai label sudah mulai meningkat, tetapi sayangnya, mereka masih terkalahkan oleh tren viral. Terkadang, tren viral mengalahkan rasionalisasi, dan ini berbahaya. Jika ingin mengikuti tren viral, pastikan untuk memeriksa label bahan, serta izin edar," tegasnya.

Adhi menambahkan bahwa asosiasi GAPMMI mendukung setiap produsen untuk mematuhi semua ketentuan yang berlaku, termasuk izin edar dari BPOM. Ia juga mengajak masyarakat untuk lebih memperhatikan nilai suatu produk pangan sebelum melakukan pembelian. "Izin edar itu wajib, sesuai dengan Undang-Undang dan aturan BPOM. Kami telah mengimbau produsen untuk mematuhi hal ini karena sangat sensitif dan perlu diawasi. Jika tidak diawasi, kesehatan masyarakat bisa terancam," katanya.

Keamanan Produk sebagai Dasar Kepercayaan Konsumen

Perubahan tren yang cepat memaksa pelaku industri untuk terus berinovasi agar tetap relevan dengan kebutuhan konsumen. Namun, di balik inovasi tersebut, kualitas dan keamanan produk tetap menjadi fondasi utama untuk membangun kepercayaan konsumen. "Tren berubah dengan cepat, kebutuhan konsumen semakin bervariasi dan mereka semakin kritis. Kita harus bisa mengikuti inovasi. Namun, ada satu hal yang tidak bisa dikompromikan, yaitu kualitas produk dan keamanan konsumen. Kecepatan inovasi penting, tetapi kepercayaan konsumen jauh lebih penting," ungkap Distya Tarworo Endri, Head of PC Social Capabilities & Consumer Market Insight Unilever Indonesia.

Dalam industri Fast Moving Consumer Goods (FMCG), kualitas produk dan keamanan konsumen menjadi prioritas utama. Distya menjelaskan bahwa seluruh proses inovasi dan produksi di Unilever Indonesia dilakukan melalui berbagai tahapan, pengujian, dan pengawasan yang ketat, mulai dari pemilihan bahan baku hingga produk dipasarkan. Untuk menjaga kepercayaan konsumen, Unilever Indonesia selalu menerapkan dua hal. Pertama, menjalin kolaborasi dengan BPOM. "Kami melibatkan BPOM di setiap langkah produksi, seperti jika ada perubahan formula atau ukuran kemasan produk - kami selalu memperbarui dan mematuhi regulasi," tegasnya.

Kedua, Unilever Indonesia juga menjadikan influencer sebagai mitra edukasi untuk produknya. Sebelum bekerja sama, perusahaan memberikan pemahaman kepada influencer mengenai manfaat produk dan memantau informasi yang disampaikan kepada publik. Di era digital saat ini, tantangan yang dihadapi bukan lagi minimnya informasi, tetapi melimpahnya informasi dari berbagai sumber, seperti rating, ulasan, testimoni, dan komentar di media sosial. Oleh karena itu, konsumen perlu lebih cermat dalam menyaring, memverifikasi, dan mengevaluasi informasi yang mereka terima agar dapat mengambil keputusan yang tepat. Kemampuan untuk membedakan informasi yang kredibel dan relevan menjadi faktor penting dalam menentukan pilihan, terutama di tengah derasnya arus informasi yang tidak selalu akurat maupun objektif. "Sebagai pelaku industri, kami memastikan bahwa informasi produk kami mudah ditemukan, dipahami, dan akurat, baik dari kemasan, website, media sosial, maupun saat kami bekerja sama dengan influencer - karena itulah yang dapat membantu konsumen dalam membuat keputusan dan membeli produk," pungkas Distya.

Artikel Terkait