Palpitasi adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan sensasi jantung yang berdebar, bergetar, atau berdenyut dengan kuat. Meskipun sering kali kondisi ini tidak berbahaya, penting untuk mengetahui kapan harus waspada terhadap gejala tersebut.
Penyebab Jantung Berdetak Kencang
Menurut dokter spesialis jantung, dr Deddy Hermawan Susanto, SpJP(K), jantung berdebar dapat terjadi dalam berbagai situasi, termasuk saat seseorang baru bangun tidur. Beberapa penyebabnya meliputi konsumsi stimulan seperti kafein, serta masalah hormonal. "Bisa karena konsumsi kopi, kafein yang berlebih, bisa karena faktor lain dari psikis juga bisa," ungkap dr Deddy.
Selain itu, gangguan pada hormon tiroid juga dapat menyebabkan jantung berdebar lebih cepat. "Atau dari masalah gangguan hormon tiroid, karena peningkatan hormon tiroid juga bisa menyebabkan jantung berdebar lebih cepat," tambahnya. Faktor lain yang dapat menyebabkan jantung berdetak kencang termasuk olahraga, anemia, dehidrasi, dan penggunaan obat-obatan.
Menurut informasi dari Cleveland Clinic, beberapa penyebab lain yang perlu diperhatikan adalah kecemasan, konsumsi makanan pedas atau berlemak, posisi tidur yang tidak tepat, serta kehamilan. Selama masa kehamilan, peningkatan detak jantung dan volume darah yang beredar adalah hal yang umum terjadi. Selain itu, ketidakseimbangan hormon tiroid, baik yang berlebihan maupun yang kurang, juga dapat memicu kondisi ini.
Kapan Harus Waspada?
Jantung berdetak kencang yang terjadi jarang dan hanya berlangsung beberapa detik umumnya tidak perlu dikhawatirkan. Namun, bagi mereka yang memiliki riwayat penyakit jantung dan sering mengalami palpitasi, disarankan untuk segera berkonsultasi dengan dokter. Jika jantung berdebar disertai dengan gejala seperti rasa tidak nyaman atau nyeri di dada, pusing parah, sesak napas, atau pingsan, sebaiknya segera mencari pertolongan medis.
Pemeriksaan yang Dapat Dilakukan
Tenaga medis akan melakukan pemeriksaan fisik dan mendengarkan detak jantung menggunakan stetoskop. Selain itu, pemeriksaan juga dilakukan untuk mendeteksi kemungkinan kondisi medis yang mendasari jantung berdebar, seperti pembengkakan kelenjar tiroid. Jika dokter mencurigai adanya hubungan dengan penyakit jantung, beberapa tes yang mungkin dilakukan antara lain:
- Elektrokardiogram (EKG): Tes ini mengukur aktivitas listrik jantung dengan menggunakan elektroda yang ditempelkan di dada, lengan, dan kaki. EKG dapat menunjukkan apakah jantung berdetak terlalu cepat, lambat, atau tidak berdetak sama sekali.
- Holter monitoring: Ini adalah pemantauan jantung menggunakan perangkat EKG portabel yang digunakan selama sehari atau lebih untuk merekam denyut dan irama jantung, sehingga dapat mendeteksi palpitasi yang tidak terdeteksi selama pemeriksaan EKG biasa.
- Ekokardiogram: Juga dikenal sebagai USG jantung, pemeriksaan ini menggunakan gelombang suara untuk menghasilkan gambar bergerak dari jantung. Tes ini dapat menunjukkan aliran darah dan masalah pada struktur jantung.
Dengan memahami penyebab dan tanda-tanda jantung berdebar, diharapkan masyarakat dapat lebih waspada dan segera mengambil tindakan yang diperlukan jika mengalami gejala yang mencurigakan.