Ekonomi

Perbandingan Kinerja Emiten Prajogo Pangestu di Semester I 2026

Kinerja emiten yang terhubung dengan konglomerat Prajogo Pangestu menunjukkan hasil yang bervariasi pada semester pertama tahun 2026, dengan beberapa emiten mencatatkan kenaikan laba yang signifikan,...

V
Vina Maharani
04 August 2026 23 pembaca
Nur Hana Putri Nabila
Nur Hana Putri Nabila

Emiten yang berafiliasi dengan konglomerat Prajogo Pangestu menunjukkan performa yang beragam hingga paruh pertama tahun 2026. Beberapa emiten mengalami lonjakan laba, sementara yang lain justru mengalami penurunan. Di antara yang menarik perhatian para investor adalah PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) yang mencatatkan peningkatan laba hingga 30 Juni 2026. Sebaliknya, PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) dan PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) dari Grup Chandra Asri mengalami kinerja yang kurang memuaskan. Selain itu, laba PT Barito Pacific (BRPT) juga mengalami penurunan.

Kenaikan Laba BREN dan CUAN

Laba bersih BREN meningkat sebesar 33,1% secara tahunan (YoY) menjadi US$ 87,14 juta atau sekitar Rp 1,57 triliun pada semester I 2026, dibandingkan dengan US$ 65,47 juta atau sekitar Rp 1,18 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Pendapatan BREN juga tumbuh 11,5% YoY menjadi US$ 334,43 juta atau sekitar Rp 6,03 triliun, naik dari US$ 300,07 juta atau sekitar Rp 5,41 triliun pada semester I 2025.

Sementara itu, laba bersih CUAN melonjak menjadi US$ 19,78 juta atau sekitar Rp 356,6 miliar pada semester I 2026, mengalami kenaikan signifikan sebesar 919,6% YoY dari US$ 1,94 juta atau sekitar Rp 35 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Pendapatan CUAN juga meningkat 59,3% YoY menjadi US$ 736,10 juta atau sekitar Rp 13,27 triliun, dibandingkan dengan US$ 462,11 juta atau sekitar Rp 8,33 triliun pada semester I 2025.

Penurunan Kinerja TPIA dan CDIA

Di sisi lain, laba yang diperoleh TPIA dan anak perusahaannya, CDIA, mengalami penurunan yang signifikan pada semester I 2026. Berdasarkan laporan keuangan, TPIA mencatatkan laba sebesar US$ 283,23 juta atau sekitar Rp 5,11 triliun, yang merosot 77,53% YoY dibandingkan dengan laba pada periode yang sama tahun lalu yang mencapai US$ 1,26 miliar atau sekitar Rp 22,71 triliun. Meskipun pendapatan TPIA meningkat 83,6% YoY menjadi US$ 5,34 miliar atau sekitar Rp 96,26 triliun, dari US$ 2,91 miliar atau sekitar Rp 52,46 triliun pada tahun sebelumnya.

CDIA juga mengalami penurunan laba bersih, yang tercatat sebesar US$ 17,28 juta atau sekitar Rp 311,5 miliar pada semester I 2026, turun 74,5% YoY dari US$ 67,84 juta atau sekitar Rp 1,22 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Namun, pendapatan CDIA mengalami kenaikan 22,8% YoY menjadi US$ 82,15 juta atau sekitar Rp 1,48 triliun, dibandingkan dengan US$ 66,87 juta atau sekitar Rp 1,21 triliun pada tahun sebelumnya.

Kinerja BRPT di Semester I 2026

Adapun laba bersih BRPT mencapai US$ 190,48 juta atau sekitar Rp 3,43 triliun hingga semester I 2026, yang mengalami penurunan sebesar 64,7% YoY dari US$ 539,82 juta atau sekitar Rp 9,73 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Meskipun demikian, pendapatan BRPT mengalami lonjakan sebesar 76,1% secara tahunan, mencapai US$ 5,68 miliar atau sekitar Rp 102,50 triliun. Pada semester pertama tahun 2025, BRPT hanya mencatatkan pendapatan sebesar US$ 3,22 miliar atau sekitar Rp 58,20 triliun.

Keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan investor. Artikel ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu.

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga melalui WhatsApp Channel Katadata.co.id. Nikmati pengalaman membaca yang lebih nyaman dan fitur menarik lainnya melalui aplikasi mobile Katadata.

Artikel Terkait