Jakarta - Suhu dingin atau yang dikenal dengan istilah bediding yang terjadi di berbagai daerah, termasuk Pulau Jawa, dapat memengaruhi kesehatan masyarakat. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengimbau agar masyarakat menjaga daya tahan tubuh di tengah suhu dingin yang menyelimuti pada malam hingga pagi hari.
Sekretaris Utama BMKG, Guswanto, menekankan pentingnya menerapkan gaya hidup sehat, cukup beristirahat, dan mengonsumsi makanan bergizi. Ia juga menyarankan agar masyarakat mengenakan pakaian hangat, terutama saat beraktivitas di malam hari hingga dini hari. Menurutnya, suhu dingin ini perlu diwaspadai karena dapat memengaruhi daya tahan tubuh dan meningkatkan risiko terjadinya gangguan kesehatan seperti flu dan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), terutama pada kelompok yang lebih rentan.
Pentingnya Asupan Cairan
Selain itu, masyarakat juga diingatkan untuk memperhatikan asupan cairan tubuh. Meskipun suhu udara terasa dingin, kondisi siang hari dapat tetap terasa panas, sehingga tubuh berisiko mengalami dehidrasi.
"Fenomena suhu dingin atau bediding di Jawa saat ini merupakan hal yang normal pada musim kemarau. BMKG mengimbau masyarakat untuk menjaga daya tahan tubuh, mengenakan pakaian hangat saat malam/pagi, serta menjaga asupan cairan," ungkapnya saat dihubungi pada Rabu (29/7/2026).
Guswanto menambahkan bahwa kondisi ini diperkirakan akan berlanjut hingga puncak musim kemarau pada Agustus-September 2026 dan tidak hanya terjadi di Jawa, tetapi juga di Bali, NTB, dan NTT.
Dampak pada Sektor Pertanian
Selain berdampak pada kesehatan, fenomena bediding juga perlu diwaspadai dalam sektor pertanian. Suhu dingin, terutama di daerah dataran tinggi, dapat memicu embun beku yang berpotensi merusak tanaman dan hasil panen.
Fenomena bediding juga menyebabkan perbedaan suhu yang signifikan antara siang dan malam. Suhu di siang hari dapat mencapai 33-35 derajat Celsius, sementara suhu di beberapa wilayah dataran tinggi pada malam hari bisa turun hingga di bawah 10 derajat Celsius.