Ekonomi

Pertumbuhan Uang Beredar Mencapai 8,3% di Juli 2026

Uang beredar dalam arti luas di Indonesia mengalami pertumbuhan signifikan pada Juli 2026, mencapai Rp 10.371,1 triliun, dengan kenaikan tahunan sebesar 8,3%.

D
Darma Yudhistira
23 August 2026 20 pembaca
Image title
Image title

Likuiditas perekonomian Indonesia, yang diukur melalui uang beredar dalam arti luas (M2), menunjukkan pertumbuhan pada bulan Juli 2026. Bank Indonesia (BI) melaporkan bahwa posisi M2 mencapai Rp 10.371,1 triliun, mengalami kenaikan sebesar 8,3% dibandingkan tahun sebelumnya.

Kepala Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menjelaskan bahwa pertumbuhan M2 ini melanjutkan tren positif dari bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 8,7% secara tahunan. “Posisi M2 (uang beredar dalam arti luas) pada Juli 2026 tercatat sebesar Rp 10.371,1 triliun atau tumbuh sebesar 8,3% (yoy), melanjutkan pertumbuhan pada Juni 2026 sebesar 8,7% (yoy),” ungkap Ramdan.

Pendukung Pertumbuhan M2

Pertumbuhan M2 pada bulan Juli terutama didorong oleh peningkatan uang beredar dalam arti sempit (M1) yang tumbuh 10% secara tahunan dan uang kuasi yang meningkat sebesar 5,6% yoy. M1, yang menyumbang sekitar 57% dari total M2, tercatat sebesar Rp 5.908,7 triliun, dengan pertumbuhan yang lebih baik dibandingkan bulan Juni yang hanya 9,8% yoy.

Peningkatan M1 ini terutama disebabkan oleh pertumbuhan giro rupiah yang mencapai 10,9% yoy pada Juli, meningkat dari 10,4% yoy di bulan sebelumnya. Di sisi lain, uang kartal yang beredar di luar bank umum dan BPR mengalami sedikit perlambatan, tumbuh 15,7% yoy, dibandingkan 15,9% yoy pada bulan Juni. Sementara itu, tabungan rupiah yang dapat ditarik sewaktu-waktu tetap stabil dengan pertumbuhan 6,8% yoy.

Faktor Lain yang Mempengaruhi M2

Bank Indonesia mencatat bahwa perkembangan M2 pada Juli 2026 juga dipengaruhi oleh penyaluran kredit dan tagihan bersih kepada pemerintah pusat. Penyaluran kredit tumbuh sebesar 13% yoy, meningkat signifikan dari 12,1% yoy pada bulan Juni. Namun, tagihan bersih kepada pemerintah pusat menunjukkan pertumbuhan yang melambat menjadi 4,6% yoy, dibandingkan dengan 10,1% yoy pada bulan Juni.

Berbeda dengan M1, pertumbuhan uang kuasi mengalami perlambatan. Uang kuasi, yang memiliki pangsa 42,2% dari M2, tercatat sebesar Rp 4.375,9 triliun pada Juli 2026 dengan pertumbuhan 5,6% yoy, menurun dari 6,9% yoy di bulan Juni. Penurunan ini dipengaruhi oleh semua komponen uang kuasi, terutama simpanan berjangka yang tumbuh 4,6% yoy pada Juli, turun dari 6% yoy pada bulan sebelumnya.

Selain M2, BI juga melaporkan bahwa Uang Primer (M0) yang disesuaikan tumbuh 17,1% yoy pada Juli 2026, meningkat dari 13,8% yoy pada bulan sebelumnya. Posisi M0 yang disesuaikan tercatat sebesar Rp 2.254,5 triliun, dengan pertumbuhan giro bank umum di BI yang disesuaikan mencapai 17,1% yoy serta uang kartal yang diedarkan tumbuh 15,1% yoy. BI menjelaskan bahwa pertumbuhan M0 yang disesuaikan ini telah mempertimbangkan dampak dari pemberian insentif likuiditas dalam pengendalian moneter yang disesuaikan.

Artikel Terkait