Posisi desil Timbul, seorang pengemudi becak motor yang tinggal di Kulon Progo, Yogyakarta, telah mengalami perubahan dari desil 9 menjadi desil 3. Perubahan ini terjadi setelah Badan Pusat Statistik (BPS) memperbarui data sosial ekonomi berdasarkan kondisi terkini keluarganya.
Kasus Timbul sebelumnya menjadi perhatian di media sosial karena ia tercatat dalam kelompok desil 9 dalam Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN), meskipun kondisi ekonominya tidak mencerminkan tingkat kesejahteraan yang seharusnya. BPS mengakui bahwa informasi mengenai kondisi Timbul yang sebelumnya tercatat dalam DTSEN tidak mencerminkan keadaan terbaru.
Pemutakhiran Data oleh BPS
Melalui pengecekan yang dilakukan oleh BPS Provinsi DI Yogyakarta dan BPS Kabupaten Kulon Progo, ditemukan adanya ketidaksesuaian antara data yang tercatat dan kondisi terbaru Timbul. BPS kemudian mendampingi Timbul untuk melakukan pemutakhiran data secara mandiri melalui kanal Cek DTSEN.
Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, menegaskan pentingnya pemutakhiran DTSEN secara berkala. Ia menyatakan bahwa partisipasi aktif masyarakat dalam melakukan pemutakhiran mandiri dapat meningkatkan akurasi DTSEN dari waktu ke waktu. Amalia juga menjelaskan bahwa posisi desil Timbul kini telah diperbarui menjadi desil 3 sesuai dengan kondisi terkini.
Proses dan Pentingnya Pemutakhiran Data
Perubahan status desil ini dilakukan melalui mekanisme pemutakhiran data yang memungkinkan hasil pembaruan desil dapat diketahui dalam waktu sekitar dua minggu. "Kasus Bapak Timbul merupakan bagian dari mekanisme pemutakhiran data untuk mendukung kebutuhan pengajuan KIP-K bagi anaknya," ungkap Amalia dalam keterangan resmi.
Setelah data Timbul diperbarui dan diproses sesuai dengan mekanisme yang berlaku, posisinya kini berada pada desil 3. Pemutakhiran data ini dilakukan karena anaknya memerlukan data tersebut untuk mengajukan Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP-K). Sebelumnya, Timbul belum pernah melakukan pemutakhiran data secara mandiri melalui kanal yang tersedia.
BPS juga mengingatkan masyarakat untuk aktif memeriksa dan memperbarui data sosial ekonomi mereka jika terdapat informasi yang sudah tidak akurat. DTSEN dibangun dengan mengintegrasikan berbagai sumber data pemerintah, termasuk Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) dan Registrasi Sosial Ekonomi (Regsosek), serta disinkronkan dengan data kependudukan.
Pemutakhiran DTSEN dilakukan setiap tiga bulan dan saat ini telah menghasilkan versi terbaru yang mencakup 290,13 juta record individu atau 95,98 juta record keluarga. Desil menjadi sorotan karena banyaknya keluhan terkait ketidaksesuaian data dengan kondisi masyarakat, di mana Timbul adalah salah satu contohnya. Desil juga digunakan sebagai salah satu tolok ukur pemerintah dalam menentukan penerima bantuan sosial.
Selain bantuan sosial, desil juga menjadi acuan dalam kebijakan lain, termasuk rencana pemerintah untuk membatasi pembelian bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi bagi masyarakat yang berada pada desil 9-10.