Kesehatan

Pesan Menteri Kesehatan untuk BGN Terkait Prioritas Penerima Program Makan Bergizi Gratis

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) telah berjalan lebih dari setahun dengan tujuan menurunkan angka stunting, namun distribusi bantuan dinilai belum efektif. Menteri Kesehatan meminta Badan Gizi Nasio...

J
Jarot Kusna
23 June 2026 1 pembaca
Foto: Menkes Budi Gunadi Sadikin (Andhika Prasetia/detikFoto)
Foto: Menkes Budi Gunadi Sadikin (Andhika Prasetia/detikFoto)

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) telah dilaksanakan selama lebih dari satu tahun dengan tujuan utama mengurangi angka stunting di berbagai daerah yang masih tinggi. Namun, terdapat kritik terkait distribusi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang lebih banyak dibangun di area dengan prevalensi stunting rendah, alih-alih difokuskan pada wilayah yang mengalami masalah stunting tinggi.

Data Stunting di Sanggau Meningkat

Sebelumnya, Wakil Bupati Sanggau, Susana Herpena, mengungkapkan bahwa program MBG belum memberikan dampak signifikan dalam menurunkan angka stunting di daerahnya. Data dari Dinas Kesehatan Sanggau menunjukkan bahwa prevalensi stunting pada triwulan pertama 2026 justru mengalami kenaikan dibandingkan tahun sebelumnya. Pada tahun 2024, angka stunting tercatat sebesar 21,48 persen, yang menurun menjadi 20,50 persen pada tahun 2025, namun kembali meningkat menjadi 21,82 persen pada triwulan pertama 2026, atau naik 1,32 persen dari tahun sebelumnya.

Perubahan Fokus Penerima Manfaat

Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin, menyatakan bahwa penurunan angka stunting melalui program MBG tidak dapat dicapai secara instan. Ia mengusulkan kepada Badan Gizi Nasional (BGN) untuk mengalihkan prioritas penerima manfaat. Menurutnya, kelompok yang paling berpengaruh dalam pencegahan stunting adalah ibu hamil, ibu menyusui, dan balita. "Kalau MBG ini benar-benar jalan sukses ke depan, itu sangat mengurangi beban kesehatan," ungkap Budi.

Ia juga menekankan pentingnya perhatian lebih kepada ibu hamil, mengingat kekurangan gizi selama kehamilan dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan pada anak setelah lahir. "Saya bilang ke Bu Nanik, boleh nggak saya fokus ke ibu hamil. Tolong dibantu supaya gizinya bagus," ujarnya.

Evaluasi Program MBG untuk Anak Sekolah

Budi menambahkan bahwa perlu dilakukan pengkajian ulang terkait MBG untuk anak-anak sekolah. Ia menegaskan bahwa meskipun tidak menolak pemberian makanan bergizi untuk anak sekolah, dari sudut pandang kesehatan, prioritas harus diberikan kepada ibu hamil, ibu menyusui, dan balita yang berada dalam periode pertumbuhan emas. "Begitu hamil jangan sampai kurang gizi karena nanti anaknya banyak masalah kesehatan," jelasnya.

Pemerintah saat ini masih dalam proses pengumpulan data untuk mengukur dampak program MBG terhadap status gizi penerima manfaat. Pemantauan ini dilakukan oleh Kementerian Kesehatan bersama Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. "Yang di sekolah sedang dikerjakan Kemendikdasmen dan Kemenkes. Nanti kita bisa lihat perkembangan gizinya seperti apa. Ini akan jadi evidence based apakah programnya sudah benar atau yang kurang masih di sini-sini," pungkasnya.

Hingga saat ini, pemerintah belum mengungkapkan data yang menunjukkan penurunan angka stunting akibat program MBG. Evaluasi berbasis bukti masih dilakukan untuk menilai sejauh mana program ini berkontribusi terhadap perbaikan status gizi masyarakat.

Artikel Terkait