Kesehatan

Pola Makan Anti-Inflamasi Turunkan Risiko Demensia

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa pola makan yang menekan peradangan dapat mengurangi risiko demensia, bahkan pada individu dengan risiko biologis tinggi.

E
Eira Orelia
09 July 2026 24 pembaca
Foto: ilustrasi/thinkstock
Foto: ilustrasi/thinkstock

Jakarta - Penelitian terbaru mengungkapkan bahwa menjaga pola makan sehat dapat bermanfaat bagi kesehatan otak dan menurunkan risiko demensia. Temuan ini dipublikasikan dalam jurnal JAMA Network Open dan melibatkan lebih dari 1.800 orang berusia 60 tahun ke atas di Swedia yang tidak mengalami demensia saat penelitian dimulai.

Selama enam tahun, para peneliti menilai pola makan peserta melalui kuesioner rinci serta mengukur tiga biomarker dalam darah yang berkaitan dengan penyakit Alzheimer dan cedera otak. Para peserta kemudian dipantau hingga 15 tahun untuk melihat siapa yang mengalami demensia.

Hasil Penelitian

Dari hasil penelitian, sebanyak 240 peserta didiagnosis demensia selama masa tindak lanjut. Penelitian menunjukkan bahwa peserta dengan pola makan yang memiliki potensi inflamasi lebih rendah cenderung memiliki risiko demensia yang lebih kecil. Pada kelompok dengan kadar biomarker Alzheimer p-tau217 lebih tinggi, kepatuhan terhadap pola makan anti-inflamasi dikaitkan dengan penurunan risiko demensia hingga 29 persen.

Penurunan risiko serupa juga terlihat pada peserta dengan biomarker lain yang berhubungan dengan cedera sel saraf dan peradangan. Temuan ini memberikan harapan bahwa faktor gaya hidup dapat berperan dalam menjaga kesehatan otak.

Pola Makan Anti-Inflamasi

Menurut Dr. Leana Wen, seorang dokter spesialis kegawatdaruratan, tidak ada pola makan resmi yang disebut diet anti-inflamasi. Istilah ini merujuk pada pola konsumsi makanan yang dikaitkan dengan tingkat peradangan kronis yang lebih rendah di dalam tubuh. Dalam penelitian ini, peserta tidak diminta menjalani diet tertentu, melainkan peneliti menghitung dietary inflammatory index berdasarkan jenis makanan yang dikonsumsi.

Pola makan dengan potensi inflamasi rendah umumnya mencakup lebih banyak sayuran, buah-buahan, kacang-kacangan, biji-bijian utuh, dan polong-polongan. Sebaliknya, konsumsi minuman manis, makanan ultra processed food (UPF), serta daging merah dibatasi. Pola ini memiliki kesamaan dengan diet Mediterania yang menekankan konsumsi buah, sayuran, ikan, dan lemak sehat lainnya.

Peradangan adalah respons normal tubuh saat melawan infeksi atau memperbaiki cedera. Namun, peradangan ringan yang berlangsung terus-menerus dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit terkait penuaan. Meski demikian, demensia merupakan penyakit kompleks yang juga dipengaruhi oleh faktor genetik, penyakit pembuluh darah, dan kebiasaan hidup lainnya.

Artikel Terkait