Ekonomi

Prabowo: Cabut Izin Usaha yang Tidak Aktif Selama Dua Tahun

Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa izin usaha yang tidak dimanfaatkan selama dua tahun akan dicabut oleh pemerintah, termasuk HGU dan HGB.

V
Vina Maharani
20 July 2026 22 pembaca
Pemerintah tak lagi akan mentoleransi izin yang sudah diberikan tetapi tidak dimanfaatkan. (Foto: Tangkapan layar Youtube Sekretariat Presiden)
Pemerintah tak lagi akan mentoleransi izin yang sudah diberikan tetapi tidak dimanfaatkan. (Foto: Tangkapan layar Youtube Sekretariat Presiden)

Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa pemerintah akan mencabut berbagai izin usaha, mulai dari hak guna usaha (HGU), hak guna bangunan (HGB), hingga surat izin usaha perdagangan (SIUP), apabila tidak ada kegiatan selama dua tahun. Menurutnya, pemerintah tidak akan mentoleransi izin yang sudah diberikan tetapi tidak dimanfaatkan.

"Sekarang kita tidak toleransi HGU, HGB, SIUP, izin kita beri, dua tahun tidak ada kegiatan, dua tahun tidak ada kegiatan, cabut!" kata Prabowo dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jakarta Pusat, Senin (20/7).

Kebijakan untuk Proyek Strategis Nasional

Ia mengatakan kebijakan tersebut juga diterapkan dalam percepatan sejumlah proyek strategis nasional (PSN), termasuk pengembangan Proyek Blok Gas Abadi Masela yang sempat tertunda selama 28 tahun. Prabowo mengaku telah menyampaikan langsung kepada pimpinan perusahaan Jepang, Inpex Corporation, mengenai kepastian kelanjutan proyek tersebut saat berkunjung ke Tokyo.

"Saya sampaikan dengan baik dan sopan, 'Saudara masih berminat enggak? Kalau saudara tidak berminat, saya akan alokasi, saya akan tunjuk perusahaan lain,'" ujarnya.

Pendekatan Sopan namun Tegas

Prabowo menekankan bahwa pendekatan yang digunakan tetap mengedepankan hubungan baik, tetapi disertai ketegasan agar proyek yang telah lama tertunda dapat segera berjalan. "Sopan tapi tegas. Sebagai bangsa Indonesia yang ramah enggak mungkin kita kasih ultimatum. Bukan ultimatum itu, imbauan," katanya.

Ia juga menyampaikan kepada pihak Jepang bahwa Indonesia membutuhkan proyek tersebut untuk mendukung ketahanan energi dan meningkatkan penerimaan devisa negara. "Yang Mulia, apakah Jepang masih berminat? Masalahnya bangsa Indonesia sangat butuh energi, sangat butuh devisa,'" ujar Prabowo menirukan percakapannya.

Artikel Terkait