Ekonomi

PTBA Tingkatkan Penggunaan Biomassa untuk Energi Bersih

PT Bukit Asam (Persero) Tbk (PTBA) melaksanakan uji coba cofiring tahap II di PLTU Mulut Tambang Banko Barat untuk mendukung pengurangan emisi karbon melalui pemanfaatan biomassa.

D
Dinda Mughni
15 June 2026 7 pembaca
Uji Corfiring tahap II. Foto: dok PTBA.
Uji Corfiring tahap II. Foto: dok PTBA.

PT Bukit Asam (Persero) Tbk (PTBA) telah melaksanakan uji coba cofiring tahap kedua di PLTU Mulut Tambang Banko Barat yang memiliki kapasitas 3x10 MW. Kegiatan ini bertujuan untuk menurunkan emisi karbon dan mendukung inisiatif dekarbonisasi. Pada tahap ini, PTBA meningkatkan penggunaan biomassa dibandingkan dengan uji coba yang dilakukan sebelumnya pada September 2025.

Pada pelaksanaan terbaru, perusahaan menggunakan wood pellet dari Kaliandra Merah sebesar 2 persen dan biomassa campuran yang terdiri dari tanaman pulai, akasia, dan puspa sebesar 3 persen. Sementara itu, pada Uji Coba Tahap I, biomassa hasil land clearing yang digunakan masing-masing hanya sebesar 1 persen.

Pengujian Berjalan Lancar

Kepala Departemen Pengembangan Tambang PTBA, Ferry Fadri Al Ilham, menjelaskan bahwa pengujian ini dilakukan dengan parameter yang sama seperti pada tahap pertama, namun dengan jenis dan volume biomassa yang lebih besar. "Uji coba ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan PTBA untuk mengoptimalkan pemanfaatan biomassa sebagai sumber energi pendamping batu bara. Hasilnya akan menjadi dasar evaluasi dalam pengembangan implementasi cofiring ke depan," ungkapnya dalam keterangan tertulis pada Senin, 15 Juni 2026.

Ferry menambahkan bahwa seluruh rangkaian uji coba berlangsung dengan baik tanpa memerlukan modifikasi pada konstruksi maupun sistem utama pembangkit yang telah beroperasi. Hal ini juga diperkuat oleh Direktur PT Bukit Energi Servis Terpadu (PT BEST), Zulkurniadi, yang menyatakan bahwa penerapan cofiring tidak mengubah sistem operasional PLTU yang saat ini berjalan.

Kerja Sama untuk Biomassa Berkelanjutan

Keandalan operasional PLTU Banko Barat didukung oleh penggunaan boiler tipe Circulating Fluidized Bed (CFB). Dengan teknologi ini, performa pembangkit tetap terjaga meskipun biomassa memiliki nilai kalor yang lebih rendah dibandingkan batu bara. Pasokan biomassa Kaliandra Merah dalam program ini berasal dari kerja sama PTBA dengan Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Yogyakarta (UPNVYK). Kolaborasi ini telah dimulai sejak Januari 2024 melalui pengembangan Kebun Energi, termasuk pembangunan fasilitas pengolahan wood pellet.

Guru Besar Fakultas Pertanian UPN "Veteran" Yogyakarta, Mohammad Nurcholis, menjelaskan bahwa Kaliandra Merah memiliki kemampuan menyerap karbon dioksida dan dapat menghasilkan biomassa berkualitas tinggi. Dia menambahkan bahwa tanaman ini memiliki nilai kalor di atas 4.300 kilokalori per kilogram, sehingga dapat mendukung proses pembakaran tanpa mengurangi kualitas energi yang dihasilkan.

Selain berkontribusi pada program dekarbonisasi, Kaliandra Merah juga diproyeksikan sebagai sumber pasokan biomassa yang berkelanjutan. Tanaman ini dipilih karena termasuk dalam kategori cepat tumbuh, memiliki kandungan energi tinggi, dan mampu tumbuh kembali setelah dipanen tanpa perlu penanaman ulang.

Kepala Divisi Sekretaris Perusahaan PTBA, Eko Prayitno, menyatakan bahwa kolaborasi antara perusahaan, akademisi, dan pelaku industri merupakan elemen penting dalam transformasi PTBA menuju perusahaan energi yang berkelanjutan. "Langkah ini merupakan bukti nyata komitmen Perseroan dalam mendukung ketahanan energi nasional, mengurangi emisi karbon, dan mempercepat transisi menuju masa depan energi yang lebih bersih," tutup Eko.

Artikel Terkait