Ekonomi

Risiko Gelembung Kecerdasan Buatan dan Implikasinya bagi Pasar Saham Indonesia

Kenaikan valuasi saham yang dipicu oleh kecerdasan buatan (AI) membawa risiko bagi pasar kredit global, menurut Fitch Ratings. Laporan tersebut mengidentifikasi potensi koreksi besar yang dapat mempen...

A
Agus Wigati
29 July 2026 20 pembaca
Nur Hana Putri Nabila
Nur Hana Putri Nabila

Euforia yang menyelimuti perkembangan kecerdasan buatan (AI) telah menyebabkan lonjakan signifikan dalam valuasi saham dan investasi di seluruh dunia selama setahun terakhir. Namun, Fitch Ratings memperingatkan bahwa hal ini mulai menimbulkan risiko bagi pasar kredit, dengan kemungkinan terjadinya koreksi besar di sektor AI yang dapat mempengaruhi pasar keuangan secara lebih luas, kondisi makroekonomi, serta stabilitas sektor kredit.

Dalam laporan yang dirilis pada Senin (27/7), Fitch Ratings mengungkapkan bahwa lanskap risiko kredit global mengalami perubahan menjelang paruh kedua tahun 2026. Meskipun demikian, Fitch menekankan bahwa situasi ini masih dibayangi oleh dua risiko utama dalam jangka pendek, yaitu meningkatnya kemungkinan koreksi pasar akibat lonjakan di sektor AI dan ketidakpastian geopolitik yang terus berlanjut di Timur Tengah.

Perubahan Ekonomi Global dan Dampaknya

Risiko-risiko tersebut muncul di tengah kondisi ekonomi global yang sedang melambat, termasuk penurunan konsumsi di Amerika Serikat dan meningkatnya tekanan inflasi akibat fluktuasi harga energi pada kuartal II 2026. “Dan tekanan struktural pada keuangan publik yang membatasi kemampuan untuk merespons peristiwa berisiko,” ungkap Fitch Ratings.

Fitch juga mencatat bahwa besarnya investasi di sektor AI dan percepatan siklus teknologi global menjadi faktor pendorong utama kenaikan valuasi pasar saham AS serta peningkatan penerbitan obligasi korporasi dalam setahun terakhir. Dampak dari perkembangan ini juga sangat signifikan terhadap perekonomian riil. Kenaikan investasi modal di bidang teknologi informasi (TI) sebesar 18% secara tahunan berkontribusi langsung sebesar 1,4 poin persentase terhadap pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) AS pada kuartal I 2026. “Efek kekayaan dari optimisme investor terkait AI dan kenaikan pasar ekuitas juga telah menjadi penopang yang berarti bagi pertumbuhan belanja konsumen AS, yang secara umum sedang melambat,” tulis Fitch.

Ketidakpastian di Masa Depan

Meski demikian, Fitch Ratings menilai prospek jangka menengah hingga panjang untuk teknologi AI masih diliputi ketidakpastian. Hal ini mirip dengan siklus teknologi sebelumnya, di mana terdapat keraguan terhadap potensi pendapatan di sektor ini. Fitch juga mengamati bahwa semakin eratnya hubungan antara pasar modal dan ekonomi dengan perkembangan AI dapat meningkatkan kerentanan sektor kredit jika terjadi koreksi terhadap ekspektasi imbal hasil jangka panjang.

Fitch mencatat bahwa risiko ini mulai terlihat dari meningkatnya volatilitas saham dalam jangka pendek, terutama pada saham individu dan indeks yang memiliki eksposur besar terhadap sektor teknologi. Senior Technical Analyst dari Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta, menyatakan bahwa kekhawatiran mengenai potensi gelembung pada saham AI dan teknologi di AS adalah hal yang wajar, mengingat valuasi beberapa perusahaan teknologi utama sudah berada di atas rata-rata historis.

Nafan menilai bahwa perlu ada perbedaan antara valuasi yang dianggap mahal dan kondisi gelembung yang bisa pecah. Ia berpendapat bahwa kenaikan valuasi belum tentu menunjukkan adanya risiko koreksi besar selama didukung oleh fundamental dan prospek pertumbuhan bisnis. “Selama pertumbuhan laba masih mampu mengimbangi ekspektasi pasar, risiko koreksi tajam cenderung lebih terbatas,” ujarnya.

Dalam konteks pasar Indonesia, Nafan mengingatkan bahwa jika skenario koreksi besar pada saham AI dan teknologi global benar-benar terjadi, potensi keluarnya dana asing harus tetap diwaspadai. Meskipun demikian, ia memperkirakan bahwa skala arus dana keluar tidak akan sebesar saat krisis global sebelumnya. Menurutnya, kondisi fundamental makro Indonesia saat ini lebih kuat dibandingkan periode taper tantrum 2013, didukung oleh cadangan devisa yang memadai dan inflasi yang lebih terjaga.

Selain itu, valuasi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih relatif lebih rendah dibandingkan indeks saham di Amerika Serikat, sehingga ruang penurunan valuasi dianggap lebih terbatas. “Di sisi lain, basis investor domestik jauh lebih besar dibandingkan satu dekade lalu sehingga mampu menjadi penyeimbang ketika investor asing melakukan profit taking,” tambah Nafan.

Artikel Terkait