PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) atau BCA telah mengumumkan adanya perubahan dalam struktur pengendaliannya. Saat ini, bank swasta besar ini memiliki pengendali tunggal, yaitu Robert Budi Hartono. Sebelumnya, kepemilikan BBCA dipegang oleh PT Dwimuria Investama Andalan (DIA), yang dipimpin oleh dua anggota keluarga Hartono, yakni Michael Bambang Hartono dan Robert Budi Hartono.
Sekretaris Perusahaan BCA, Rudy Budiartjo, menjelaskan bahwa perubahan ini terjadi setelah meninggalnya almarhum Bambang Hartono. "Sehubungan dengan telah meninggal dunianya Alm Bambang Hartono, maka terdapat perubahan pemegang saham pengendali PT DIA menjadi Robert Budi Hartono," ungkap Rudy dalam keterbukaan informasi yang disampaikan kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Senin (3/8).
Sejarah dan Latar Belakang Keluarga Hartono
Michael Bambang Hartono, yang lahir pada tahun 1939, dikenal sebagai salah satu pengusaha paling berpengaruh dan terkaya di Indonesia. Ia merupakan pendiri dan pemimpin utama Grup Djarum, salah satu perusahaan rokok terbesar di tanah air. Bersama saudaranya, Budi Hartono, mereka memulai usaha keluarga yang awalnya bergerak di sektor perdagangan dan industri kecil.
Seiring berjalannya waktu, fokus usaha mereka beralih ke industri rokok dan mereka memperluas portofolio bisnis ke berbagai sektor. Selain industri rokok, Djarum juga merambah ke bidang perbankan, properti, dan teknologi. Beberapa bisnis yang berada di bawah naungan Djarum termasuk BCA, Polytron, mal Grand Indonesia, Blibli, Mola, Bakmi GM, serta klub sepak bola Italia, Como.
Data Kepemilikan Saham dan Kinerja BCA
Hingga 31 Juli 2026, berdasarkan data kepemilikan saham yang diterbitkan oleh Bursa Efek Indonesia (BEI), PT Dwimuria Investama Andalan sebagai pengendali utama BCA memiliki 67,73 miliar saham, yang setara dengan 54,94% dari total saham perusahaan. Selain itu, PT Tricipta Mandhala Gumilang memiliki 1,31 miliar saham atau 1,07%, dan PT Caturguwiratna Sumapala memiliki 1,26 miliar saham atau 1,02%. Sementara itu, Anthoni Salim tercatat memiliki 1,41 miliar saham atau 1,15% dari total saham BBCA.
BCA mencatatkan penyaluran kredit mencapai Rp 1.036 triliun hingga semester pertama 2026, mencatat pertumbuhan sebesar 8% secara tahunan. Ini merupakan pertama kalinya portofolio kredit BCA melampaui angka Rp 1.000 triliun. Pertumbuhan tersebut didukung oleh pendanaan yang solid, di mana dana giro dan tabungan (CASA) meningkat 10,2% menjadi Rp 1.082 triliun, dan total dana pihak ketiga (DPK) naik 7,9% menjadi Rp 1.284 triliun.
Porsi CASA mencapai 84,3% dari total DPK, yang menjaga cost of fund tetap rendah. Rasio loan at risk (LAR) tercatat sebesar 4,9% dan non-performing loan (NPL) sebesar 1,9%. Di sisi profitabilitas, BCA dan entitas anaknya membukukan laba bersih sebesar Rp 29,5 triliun hingga semester pertama 2026. Selain itu, penyaluran pembiayaan hijau atau green financing juga mengalami pertumbuhan 19% menjadi Rp 123 triliun.