Ekonomi

Rupiah Berpotensi Menguat Didukung Data Ekonomi AS yang Lemah

Rupiah memulai perdagangan akhir pekan ini dengan pergerakan yang melemah terhadap dolar AS, meskipun ada potensi penguatan akibat data ekonomi yang kurang baik dari AS.

J
Jarot Kusna
31 July 2026 19 pembaca
Image title
Image title

Rupiah membuka perdagangan pada hari Jumat (31/7) dengan pergerakan yang mengalami pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat. Berdasarkan informasi dari Bloomberg, mata uang Indonesia tersebut dibuka di level Rp 18.073 per dolar AS, mengalami penguatan sebesar 0,20% atau 37 poin. Pada pantauan Katadata hingga pukul 09.10 WIB, rupiah semakin menguat dan berada di level Rp 18.053 per dolar AS, naik 0,32% atau 58 poin.

Pada perdagangan sebelumnya, rupiah ditutup dengan depresiasi sebesar 38 poin atau 0,21% ke level Rp 18.111 per dolar AS. Nilai tukar rupiah menutup perdagangan dengan pelemahan yang lebih dalam dibandingkan saat pembukaan yang berada di posisi Rp 18.063 per dolar AS, terkoreksi 10 poin atau 0,06%.

Proyeksi Penguatan Rupiah

Diperkirakan bahwa nilai tukar rupiah akan menguat terhadap dolar AS pada perdagangan hari ini. Penguatan ini didorong oleh pelemahan dolar AS setelah dirilisnya data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) dan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) AS yang lebih rendah dari ekspektasi pasar. Analis Doo Financial, Lukman Leong, menyatakan bahwa dolar AS menghadapi tekanan setelah dua indikator utama ekonomi AS menunjukkan perlambatan yang lebih dalam dibandingkan perkiraan.

"Rupiah berpotensi menguat terhadap dolar AS yang melemah tajam setelah data inflasi PCE dan PDB AS yang jauh lebih lemah dari perkiraan," ungkap Lukman.

Faktor Pembatas Penguatan

Meski ada potensi penguatan, Lukman menilai ruang untuk penguatan rupiah masih terbatas. Hal ini disebabkan oleh ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang kembali memicu kenaikan harga minyak mentah dunia. Selain faktor eksternal, sentimen domestik juga dianggap belum cukup kuat untuk mendukung penguatan rupiah secara signifikan.

"Namun penguatan mungkin terbatas oleh eskalasi di Timur Tengah dan kenaikan harga minyak mentah dunia serta sentimen domestik yang masih lemah," tambahnya. Ia memperkirakan rupiah akan bergerak di kisaran Rp 18.000 hingga Rp 18.050 per dolar AS sepanjang perdagangan hari ini.

Pelemahan dolar AS terjadi setelah pelaku pasar meningkatkan ekspektasi bahwa perlambatan inflasi dan pertumbuhan ekonomi AS dapat membuka ruang bagi Federal Reserve untuk mengambil kebijakan moneter yang lebih akomodatif ke depan. Namun, di sisi lain, konflik yang kembali memanas di Timur Tengah terus mendukung harga minyak dunia. Kenaikan harga energi ini berpotensi meningkatkan tekanan inflasi global dan memicu kembali sentimen risk-off di pasar keuangan, sehingga membatasi penguatan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Di dalam negeri, pelaku pasar juga masih mencermati perkembangan transisi kepemimpinan di Bank Indonesia setelah pengunduran diri Gubernur Perry Warjiyo. Kondisi ini membuat investor cenderung berhati-hati meski tekanan terhadap dolar AS mulai mereda.

Artikel Terkait