Ekonomi

Rupiah Menguat Tipis di Tengah Ketegangan Timur Tengah dan Kebijakan The Fed

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mengalami penguatan tipis pada perdagangan Rabu, sementara pelaku pasar memperhatikan situasi di Timur Tengah dan arah kebijakan bank sentral AS.

J
Jaya Abdi
29 July 2026 25 pembaca
Image title
Image title

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup menguat tipis pada perdagangan sore Rabu (29/7). Pelaku pasar mencermati perkembangan konflik di Timur Tengah dan menunggu keputusan dari bank sentral AS, The Fed, yang membuat pergerakan rupiah tetap fluktuatif.

Menurut pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, rupiah ditutup menguat sebesar 10 poin setelah sebelumnya mengalami pelemahan hingga 25 poin. Penutupan rupiah berada di level Rp 17.073 per dolar AS, setelah sebelumnya berada di kisaran Rp 17.083 per dolar AS. "Untuk perdagangan besok, mata uang rupiah diperkirakan akan bergerak fluktuatif, dengan potensi ditutup melemah di kisaran Rp 17.070 hingga Rp 17.130 per dolar AS," jelas Ibrahim.

Ketegangan di Timur Tengah Mempengaruhi Sentimen Pasar

Ibrahim menambahkan bahwa sentimen eksternal masih dipengaruhi oleh meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, terutama setelah Iran meluncurkan rudal balistik yang ditujukan kepada pasukan AS di wilayah tersebut. Meskipun Komando Pusat AS menyatakan bahwa semua rudal berhasil dicegat, serangan ini menandai eskalasi baru setelah beberapa hari situasi relatif tenang, yang kembali menimbulkan kekhawatiran akan meningkatnya konflik.

Di sisi lain, ada sedikit optimisme di pasar terkait jalur diplomasi setelah pertemuan antara Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, dan Presiden AS, Donald Trump, di Washington. Trump mengungkapkan adanya peluang besar untuk kemajuan dalam pembicaraan dengan Iran. Namun, harapan ini kembali memudar setelah Teheran menyatakan tidak memiliki niat untuk melakukan negosiasi atau gencatan senjata.

Respon Pasar Terhadap Kebijakan Dalam Negeri

Kondisi semakin rumit dengan kebuntuan dalam upaya pembukaan kembali Selat Hormuz, di mana Iran menolak usulan Oman untuk membentuk kerangka kerja bersama dalam mengatur lalu lintas pelayaran di jalur strategis tersebut. Selain itu, ancaman terhadap infrastruktur energi di kawasan tetap tinggi, setelah Arab Saudi melaporkan berhasil mencegat serangan drone dan rudal yang menyasar fasilitas minyak di Provinsi Timur.

Ibrahim juga mencatat bahwa pelaku pasar bersikap hati-hati menjelang pengumuman hasil rapat kebijakan FOMC yang dijadwalkan pada Kamis dini hari pukul 01.00 WIB. Keputusan tersebut diharapkan dapat memberikan arah baru terhadap kebijakan suku bunga Federal Reserve ke depan. "Menjelang peristiwa penting terkait kebijakan bank sentral, para pedagang mengurangi taruhan kenaikan suku bunga Fed di tengah harapan baru akan diplomasi AS-Iran untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung selama lima bulan, yang menyebabkan penurunan harga minyak dan meredakan kekhawatiran inflasi," ungkapnya.

Dari sisi domestik, pasar merespons negatif terhadap penurunan tingkat kepuasan publik terhadap kinerja Presiden Prabowo Subianto. Survei terbaru dari Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) yang dilakukan pada 5-19 Juli menunjukkan bahwa tingkat kepuasan publik terhadap kinerja Presiden Prabowo Subianto berada di angka 51,1%. Angka ini mencerminkan penurunan 30,1% dalam sembilan bulan terakhir.

Publik yang merasa tidak puas atau sangat tidak puas terhadap kinerja Presiden Prabowo meningkat dari 16% pada survei November 2025 menjadi 46,5% pada survei Juli 2026. SMRC mencatat penurunan kepuasan publik ini terjadi bersamaan dengan memburuknya penilaian masyarakat terhadap kondisi ekonomi, politik, dan penegakan hukum.

Selain itu, perhatian pelaku pasar juga tertuju pada kondisi Bank Indonesia setelah pengunduran diri Perry Warjiyo sebagai Gubernur BI. Meskipun demikian, Bank Indonesia tetap menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sebagai prasyarat utama dalam mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Bank Indonesia juga terus memperkuat kebijakan moneter melalui optimalisasi berbagai instrumen stabilisasi nilai tukar, tidak hanya mengandalkan suku bunga kebijakan, tetapi juga memperkuat instrumen lain seperti triple intervention di pasar valuta asing.

Langkah-langkah tersebut mencakup pasar spot, non-deliverable forward (NDF), dan domestic non-deliverable forward (DNDF). Selain itu, BI terus mengoptimalkan instrumen moneter seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) yang didukung oleh fasilitas insentif swap dan DNDF hedging untuk menjaga stabilitas nilai tukar sekaligus mendorong masuknya aliran modal asing ke pasar domestik.

Artikel Terkait