Ekonomi

Rupiah Menguat Tipis di Tengah Ketidakpastian Geopolitik dan Kenaikan Suku Bunga

Nilai tukar rupiah mengalami penguatan kecil menjadi 17.928 per dolar AS meski dihadapkan pada ketegangan di Timur Tengah dan ekspektasi kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve.

E
Eko Prasetyo
07 August 2026 24 pembaca
Image title
Image title

Nilai tukar rupiah mencatat penguatan tipis sebesar 0,03% menjadi 17.928 per dolar AS dalam perdagangan pagi ini. Meskipun demikian, kurs rupiah masih tertekan di tengah meningkatnya ketegangan konflik di Timur Tengah dan ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed).

Menurut data yang dirilis Bloomberg, rupiah dibuka pada level Rp 17.930 per dolar AS, mengalami penurunan tipis sebesar 0,06% atau setara dengan 10 poin. Namun, hingga pukul 09.15 WIB, rupiah menunjukkan penguatan menjadi Rp 17.928 per dolar AS, turun 0,03%. Pada perdagangan sebelumnya, rupiah ditutup di level Rp 17.923 per dolar AS, sehingga mencatat penguatan sebesar 0,06% dibandingkan dengan penutupan sebelumnya di Rp 17.933 per dolar AS.

Pelemahan Rupiah Diperkirakan Terbatas

Lukman Leong, analis dari Doo Financial Futures, mengungkapkan bahwa rupiah berpotensi mengalami pelemahan seiring dengan kenaikan harga minyak dunia. Hal ini terjadi setelah laporan yang menyebutkan bahwa Iran berencana untuk melarang kapal-kapal dari Amerika Serikat dan Israel melintas di Selat Hormuz. "Rupiah diperkirakan berpotensi melemah terhadap dolar AS seiring harga minyak yang rebound oleh memanasnya geopolitik di Timur Tengah menyusul laporan apabila Iran akan melarang kapal AS dan Israel melalui Selat Hormuz. Namun pelemahan diperkirakan terbatas, dengan investor menantikan data cadangan devisa Indonesia siang ini," jelas Lukman.

Ia memperkirakan pergerakan rupiah akan berada di kisaran Rp 17.850 hingga Rp 17.950 per dolar AS. Senada dengan itu, Fikri C. Permana, Senior Ekonom dari KB Valbury Sekuritas, juga memprediksi bahwa depresiasi rupiah akan terus berlanjut hingga mencapai level Rp 17.950 per dolar AS. Fikri menambahkan bahwa ada beberapa faktor yang mendukung penguatan dolar AS, termasuk meningkatnya ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga The Fed setelah Ketua The Fed, Kevin Warsh, menegaskan sikap hati-hati terhadap inflasi.

Ketidakpastian Geopolitik dan Dampaknya

Di samping itu, ketidakpastian mengenai prospek perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran masih membayangi pasar. Meskipun ada sinyal positif, Presiden AS Donald Trump masih akan memantau perkembangan situasi sebelum mengambil langkah lebih lanjut. Fikri juga mencatat bahwa adanya kesepakatan antara Iran dan Oman dapat membuka peluang untuk normalisasi aktivitas pelayaran di Selat Hormuz. Namun, pasar masih menunggu implementasi nyata dari kesepakatan tersebut, sehingga dampak positifnya terhadap sentimen global masih terbatas.

Selain itu, investor juga memperhatikan potensi kuatnya data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang akan dirilis malam ini. Jika data tersebut menunjukkan hasil yang lebih baik dari perkiraan, maka peluang pengetatan kebijakan moneter The Fed diperkirakan akan semakin besar, yang dapat memperkuat dolar AS. Dari dalam negeri, tekanan terhadap rupiah juga masih berasal dari arus keluar modal asing. Fikri mencatat bahwa aksi jual bersih (net sell) oleh investor asing di pasar saham Indonesia dalam dua hari terakhir masih membebani sentimen terhadap aset domestik.

Artikel Terkait