KABARBURSA.COM – Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) masih berada di level rendah setelah mengalami penurunan lebih dari 30 persen dalam satu tahun terakhir. Pada perdagangan yang berlangsung pada Selasa, 13 Mei 2026, saham BBCA ditutup di harga Rp6.100, mencatatkan penurunan tahunan sebesar 32,22 persen.
Sejak awal tahun 2026, saham BBCA juga menunjukkan kinerja yang kurang baik dengan penurunan mencapai 24,46 persen atau setara dengan 1.975 poin. Harga saham ini telah turun dari kisaran awal tahun yang berada di level 8.000, kini terjebak di level 6.100. Tekanan terhadap harga saham BBCA tampak jelas dalam beberapa sesi perdagangan terakhir.
Berdasarkan data perdagangan yang dikumpulkan, pada 13 Mei 2026, saham ini mengalami penurunan sebesar 0,41 persen dengan nilai transaksi mencapai Rp898,1 miliar dan volume perdagangan sebanyak 1,47 juta lot. Selain itu, investor asing tercatat melakukan penjualan bersih sebesar Rp91,76 miliar pada hari tersebut.
Fundamental Perusahaan Tetap Stabil
Manajemen BBCA dalam keterbukaan informasi sebelumnya menyatakan bahwa fundamental bisnis perusahaan tetap berjalan dengan baik meskipun terjadi volatilitas di pasar saham. Hingga saat ini, belum ada pernyataan resmi terbaru dari perusahaan terkait pergerakan harga saham di pasar reguler.
Rekomendasi Analis Masih Positif
Meskipun adanya tekanan dari investor asing, konsensus analis terhadap saham BBCA tetap menunjukkan sikap optimis. Data menunjukkan bahwa 35 analis memberikan rekomendasi beli untuk saham ini, sementara dua analis memilih untuk menahan dan tidak ada yang merekomendasikan untuk menjual. Target harga rata-rata yang ditetapkan oleh analis untuk BBCA berada di level Rp8.912 per saham, yang berarti sekitar 46 persen lebih tinggi dibandingkan dengan harga saat ini di Rp6.100. Target tertinggi yang diperkirakan oleh analis mencapai Rp10.900, sedangkan target terendah berada di Rp5.500.
Pergerakan saham BBCA menunjukkan tren penurunan sejak awal tahun. Hingga 13 Mei 2026, saham ini telah mengalami penurunan sebesar 24,46 persen atau turun 1.975 poin dari awal tahun. Dalam tiga bulan terakhir, harga saham BBCA juga mengalami penurunan bertahap dari level 7.000 hingga akhirnya berada di kisaran 6.000.
Data historis perdagangan menunjukkan bahwa tekanan dari investor asing telah terjadi hampir setiap hari dalam beberapa pekan terakhir. Misalnya, pada 8 Mei 2026, BBCA mencatatkan penjualan bersih asing sebesar Rp34,71 miliar dengan harga penutupan di level Rp6.175. Sehari sebelumnya, arus keluar asing bahkan mencapai Rp83,12 miliar saat harga berada di Rp6.225. Tekanan jual asing juga meningkat pada akhir April 2026, di mana pada 30 April 2026, BBCA mencatatkan penjualan bersih asing hingga Rp690,95 miliar dengan nilai transaksi mencapai Rp1,78 triliun, dan saham ditutup di level Rp5.850.
Di tengah tekanan pasar, struktur kepemilikan saham BBCA masih didominasi oleh PT Dwimuria Investama Andalan dengan porsi 54,94 persen atau sekitar 67,72 miliar saham. Sementara itu, porsi publik nonwarkat tercatat mencapai 42,15 persen dan free float berada di level 42,45 persen. Investor asing institusi juga tercatat sebagai pemegang saham utama BBCA, seperti Government of Norway yang memiliki sekitar 1,03 persen saham BBCA atau setara dengan 1,26 miliar saham per 8 Mei 2026.
Dalam perdagangan harian pada 13 Mei, saham BBCA bergerak di rentang harga Rp6.025 hingga Rp6.200 sebelum ditutup di Rp6.100. Frekuensi transaksi tercatat mencapai 26.545 kali dengan rata-rata harga perdagangan di level Rp6.095. Posisi BBCA saat ini membuat saham perbankan berkapitalisasi besar ini kembali berada di area psikologis penting di pasar. Namun, hingga pertengahan Mei 2026, sebagian besar analis pasar masih mempertahankan pandangan positif terhadap prospek fundamental jangka panjang dari emiten perbankan yang dimiliki oleh Grup Djarum tersebut.
(*) Disclaimer: Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.