Kesehatan

Strategi Makan Sehat untuk Memperpanjang Usia

Ahli kesehatan mengungkapkan bahwa pola makan yang berkelanjutan lebih efektif untuk meningkatkan kualitas hidup dan memperpanjang usia dibandingkan dengan diet ekstrem.

I
Indriani Atmaja
03 July 2026 19 pembaca
Potret lansia yang masih aktif beraktivitas. (Foto: Aisyah Kamaliah)
Potret lansia yang masih aktif beraktivitas. (Foto: Aisyah Kamaliah)

Di tengah banyaknya orang yang terfokus pada perhitungan kalori untuk menurunkan berat badan dan menjaga kesehatan, para ahli umur panjang justru berpendapat bahwa pendekatan tersebut kurang efektif untuk investasi kesehatan jangka panjang. Menurut Valter Longo, PhD, dan Sebastian Brandhorst, PhD, dari USC Leonard Davis School of Gerontology, kunci untuk hidup sehat hingga usia tua tidak terletak pada diet ketat, melainkan pada pembentukan kebiasaan makan yang berkelanjutan.

“Tantangannya bukan hanya mengetahui apa yang harus dimakan, tetapi juga menciptakan kebiasaan yang dapat dipertahankan selama bertahun-tahun, bukan hanya dalam hitungan minggu,” tulis mereka dalam sebuah artikel.

Pola Makan untuk Umur Panjang

Berdasarkan penelitian mengenai nutrisi, pola makan yang terbukti dapat meningkatkan harapan hidup adalah diet berbasis nabati yang kaya akan nutrisi. Beberapa pilar utama dari pola makan ini meliputi:

  • Fokus pada Makanan Utuh: Piring sebaiknya didominasi oleh sayuran, biji-bijian utuh, kacang-kacangan, dan lemak nabati yang sehat.
  • Asupan Sedang: Konsumsi buah-buahan dan ikan dalam porsi yang moderat.
  • Batasi Konsumsi: Hindari daging merah, daging olahan seperti sosis dan nugget, gula tambahan, serta makanan yang sangat diproses.
  • Sumber Protein: Cukupi kebutuhan protein harian dengan mengutamakan sumber nabati dibandingkan hewani.

Para peneliti menegaskan bahwa diet ketat yang sering kali populer di media sosial sering kali tidak berhasil karena berat badan cenderung kembali naik setelah diet dihentikan.

Kelebihan Puasa Moderat

Alih-alih menjalani puasa yang ekstrem, para ahli merekomendasikan metode pembatasan waktu makan yang lebih moderat. Membatasi waktu makan dalam rentang 11 hingga 12 jam per hari dianggap lebih realistis dan mudah untuk diterapkan dalam jangka panjang. Metode ini telah terbukti secara klinis dapat memperbaiki kesehatan metabolisme serta menekan tanda-tanda penuaan biologis dalam tubuh.

Perubahan dalam kebijakan kesehatan mungkin memerlukan waktu, namun individu dapat memulainya sendiri di rumah dengan langkah-langkah praktis berikut:

  • Perbanyak Sayuran dan Biji-bijian: Jadikan sayuran dan kacang-kacangan sebagai menu utama dalam piring Anda.
  • Ganti Jenis Lemak: Gantilah lemak jenuh dengan lemak tak jenuh yang lebih sehat, seperti minyak zaitun.
  • Kurangi Gula Berlebih: Batasi konsumsi camilan manis dan makanan kemasan yang mengandung gula tambahan.
  • Kurangi Daging Merah: Jangan menjadikan daging merah atau daging olahan sebagai menu harian yang wajib.
  • Pilih yang Realistis: Temukan pola makan sehat yang nyaman dan dapat dilakukan seumur hidup, bukan hanya sekadar mengejar penurunan berat badan yang cepat.

Dengan mengikuti panduan ini, diharapkan individu dapat meningkatkan kesehatan dan memperpanjang usia dengan cara yang lebih berkelanjutan.

Artikel Terkait