Kesehatan

Tahun Ajaran Baru Dimulai, Risiko Miopia Anak Meningkat

Pekan ini, jutaan anak di Indonesia memulai tahun ajaran baru, namun orang tua diingatkan akan risiko miopia yang meningkat akibat jadwal sekolah yang padat.

E
Eko Prasetyo
13 July 2026 21 pembaca
Ilustrasi anak mata minus (Foto: Annissa Widya/detikHealth)
Ilustrasi anak mata minus (Foto: Annissa Widya/detikHealth)

Pekan ini menjadi momen yang sibuk bagi jutaan anak di Indonesia yang mulai merayakan hari pertama masuk sekolah. Namun, di balik antusiasme memulai tahun ajaran baru, para orang tua diimbau untuk waspada terhadap ancaman kesehatan yang mengintai buah hati mereka, yakni risiko miopia atau mata minus yang berkembang jauh lebih cepat.

Perubahan gaya hidup anak sekolah saat ini menjadi pemicu utama melonjaknya kasus miopia. Berbeda dengan generasi terdulu yang sudah pulang di siang hari, anak-anak masa kini dihadapkan pada beban sekolah yang tinggi hingga sore hari, lalu sering kali masih harus dilanjutkan dengan berbagai jadwal les akademis.

Jadwal yang padat ini memaksa anak menghabiskan sebagian besar waktunya untuk aktivitas melihat jarak dekat, terutama menatap layar gawai secara berlebihan. Imbasnya, anak-anak semakin kehilangan waktu berharga untuk bermain di luar ruangan dan mendapatkan paparan sinar matahari yang cukup.

Pernyataan Ahli Mengenai Risiko Miopia

Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (PERDAMI) Jakarta, dr. Julie Dewi Barliana, Sp.M(K), M.Biomed, menjelaskan bahwa kombinasi antara kurangnya aktivitas luar ruangan dan tingginya intensitas aktivitas jarak dekat dapat mempercepat kerusakan fungsi penglihatan anak, bahkan sebelum mereka genap berusia 8 tahun. "Beban sekolah anak sekarang ini berbeda. Kita dulu mungkin jam 12 atau jam 1 sudah pulang, sekarang mereka jam 4 sore baru pulang. Jadi beban sekolah tinggi dan dilanjutkan lagi dengan les sehingga sangat kurang waktu mereka untuk bermain," ungkap dr. Julie.

Fase Pre-Miopia dan Pentingnya Intervensi Dini

Secara biologis, anak berusia 6 hingga 7 tahun normalnya masih memiliki cadangan rabun dekat atau hiperopia sekitar +1 hingga +1,5 dioptri. Cadangan inilah yang berfungsi melindungi mata mereka dari risiko mata minus dini. Namun, jika cadangan tersebut menipis atau hilang lebih cepat dari seharusnya, anak tersebut dinyatakan masuk dalam fase pre-miopia.

Menurut dr. Julie, kelompok anak yang paling rentan masuk ke fase pre-miopia ini adalah anak-anak dengan riwayat orang tua bermata minus serta memiliki kebiasaan gaya hidup yang minim aktivitas luar rumah. Fase pre-miopia yang bertepatan dengan usia awal sekolah ini sebenarnya merupakan waktu emas atau momentum paling ideal bagi orang tua dan dokter untuk melakukan intervensi dini sebelum kondisi mata anak memburuk.

Jika dibiarkan tanpa kendali dan intervensi medis, kondisi ini dapat merosot menjadi high myopia hingga pathologic myopia. Dalam jangka panjang, kondisi ekstrem tersebut berisiko memicu komplikasi fatal pada organ mata, seperti atrofi retina, myopic maculopathy, hingga neuropati optik yang dapat menyebabkan gangguan penglihatan berat dan permanen. "Kalau progresivitas ini tidak kita tahan, maka ada komplikasi di masa mendatang yang kurang baik, yang tentunya akan menyebabkan gangguan penglihatan berat," tegas dr. Julie.

Artikel Terkait