Kesehatan

Transformasi Dito Ariotedjo: Turun 40 Kg Melalui Defisit Kalori

Mantan Menteri Pemuda dan Olahraga, Dito Ariotedjo, berhasil menurunkan berat badan hingga 40 kilogram setelah perubahan pola makan dan gaya hidup. Ia membatasi asupan kalori dan rutin berolahraga.

E
Eira Orelia
02 July 2026 21 pembaca
Foto: Mantan Menpora Dito Ariotedjo (Yogi/detikcom)
Foto: Mantan Menpora Dito Ariotedjo (Yogi/detikcom)

Jakarta - Perubahan fisik mantan Menteri Pemuda dan Olahraga, Dito Ariotedjo, belakangan ini menarik perhatian publik. Dito mengungkapkan bahwa ia telah berhasil menurunkan berat badan sebanyak 40 kilogram setelah tidak lagi menjabat sebagai Menpora. Keberhasilannya ini didukung oleh perubahan dalam pola makan dan gaya hidup yang lebih sehat.

Dito menjelaskan bahwa ia membatasi asupan makanan antara 800 hingga 1.000 kalori setiap harinya, serta rutin berolahraga dan mengurangi konsumsi camilan. "Saya balik ke pola zaman saya disiplin. Makan saya batasin maksimal 800-1.000 kalori per hari," ungkapnya saat ditemui di gedung KPK, Jakarta Selatan, pada Selasa (30/6/2026).

Strategi Penurunan Berat Badan

Lebih lanjut, Dito menambahkan, "Olahraga tiap hari. Camilan sangat minim. Kuncinya asupan gizi dan nahan lapar. Saya kan naik berat badan 2020-2023 hampir 50 kilogram. Naik 50 kilo, turun 40 kilo. Masih ada 10 kilo lagi." Dengan penurunan berat badan yang signifikan ini, Dito menunjukkan komitmennya untuk kembali ke berat badan ideal.

Pentingnya Defisit Kalori

Dokter spesialis gizi klinik, dr Ardian Sandhi Pramesti, SpGK, menjelaskan bahwa penurunan berat badan terjadi ketika tubuh mengalami defisit kalori, yaitu saat kalori yang dikonsumsi lebih sedikit dibandingkan yang dibakar. Ia menekankan bahwa apapun jenis diet yang dilakukan, selama kalori yang masuk lebih rendah dari kebutuhan tubuh, maka seseorang akan mengalami defisit kalori.

Menurut dr Ardian, "Kalau apakah efektif? Defisit kalori sendiri memang paling terbukti secara ilmiah untuk menurunkan berat badan, tapi ada hal yang perlu saya luruskan, angka kalori itu kurang bermakna kalau nggak dibandingin sama kebutuhan masing-masing orang." Ia juga menambahkan bahwa dengan postur tubuh Dito yang besar dan olahraga intensitas tinggi, kebutuhan kalori Dito bisa jauh di atas rata-rata, sehingga saat ia mengonsumsi 800 hingga 1.000 kalori, defisit kalori yang terjadi sangat signifikan.

Lebih lanjut, dr Ardian menjelaskan bahwa asupan 800-1.000 kilokalori per hari termasuk dalam kategori diet sangat rendah kalori (VLCD) yang tidak dianjurkan untuk dilakukan tanpa pengawasan medis. "Pola makan seperti ini tidak dianjurkan dilakukan secara mandiri karena umumnya hanya diberikan pada kondisi tertentu yang membutuhkan penurunan berat badan secara cepat dan terukur," ujarnya.

Ia menekankan pentingnya pengawasan dokter atau tenaga kesehatan selama menjalani program diet ini, untuk memastikan bahwa kondisi kesehatan pasien tetap terjaga dengan melakukan pemantauan secara berkala.

Dengan demikian, perjalanan Dito Ariotedjo dalam menurunkan berat badan menjadi contoh bagaimana perubahan gaya hidup dan pola makan yang tepat dapat memberikan hasil yang signifikan, meskipun perlu diingat bahwa setiap orang memiliki kebutuhan yang berbeda dalam mencapai tujuan kesehatan mereka.

Artikel Terkait