PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) telah memulai langkah untuk mengalihkan saham hasil pembelian kembali (buyback) di tengah proses restrukturisasi grup dan penguatan sektor bisnis digital. Langkah ini diambil saat struktur kepemilikan emiten yang tergabung dalam Grup Sinar Mas semakin terkonsentrasi setelah serangkaian aksi korporasi yang dilakukan sepanjang tahun ini.
Perusahaan mengumumkan rencana untuk mengalihkan hingga 9,63 miliar saham treasury, yang setara dengan sekitar 5% dari total saham yang diterbitkan, melalui mekanisme penjualan di Bursa Efek Indonesia (BEI). Proses pengalihan ini dijadwalkan berlangsung mulai 10 Agustus 2026 hingga selesai, dengan menunjuk PT Sinarmas Sekuritas sebagai anggota bursa yang akan melaksanakan transaksi tersebut.
Rincian Pengalihan Saham Treasury
Dalam keterbukaan informasi, manajemen DSSA menjelaskan bahwa saat ini perusahaan masih memiliki 37,91 miliar saham treasury yang berasal dari program buyback sebelumnya. Rencana pengalihan saham ini merupakan pelaksanaan dari ketentuan POJK Nomor 29 Tahun 2023, yang mengharuskan saham hasil buyback untuk dialihkan paling lambat tiga tahun setelah pembelian kembali selesai. "Untuk memenuhi POJK 29/2023, Perseroan bermaksud melaksanakan pengalihan saham melalui mekanisme penjualan saham di BEI, yang dapat dilakukan tanpa persetujuan rapat umum pemegang saham," tulis manajemen DSSA.
Harga pengalihan saham nantinya akan mengikuti ketentuan peraturan yang berlaku. Menariknya, rencana pelepasan saham treasury ini muncul bersamaan dengan perubahan signifikan dalam struktur pemegang saham DSSA. Berdasarkan data dari Bursa Efek Indonesia per 31 Juli 2026, PT Sinar Mas Tunggal tercatat sebagai pemegang saham terbesar dengan kepemilikan 115,38 miliar saham atau sekitar 59,9%. Di sisi lain, DSSA masih menguasai 37,91 miliar saham treasury, yang setara dengan 19,68% dari modal yang ditempatkan, menjadikannya sebagai porsi terbesar kedua setelah pemegang saham pengendali.
Rapat Umum Pemegang Saham dan Restrukturisasi Anak Usaha
Sementara itu, DSSA juga telah mengumumkan rencana untuk mengadakan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 10 September 2026. Pemegang saham yang berhak hadir adalah mereka yang tercatat dalam daftar pemegang saham pada penutupan perdagangan 11 Agustus 2026. Meskipun agenda rapat belum dijelaskan, waktunya berdekatan dengan pelaksanaan pengalihan saham treasury.
Di luar perubahan struktur kepemilikan, DSSA juga tengah menyelesaikan restrukturisasi anak usaha strategis. Dalam tanggapan kepada Bursa Efek Indonesia mengenai transaksi afiliasi PT Bali Media Telekomunikasi (BMT), perusahaan menyatakan bahwa BMT kini telah menjadi entitas anak yang sepenuhnya dikendalikan. Setelah transaksi yang efektif pada 6 Juli 2026, BMT menerbitkan 8,54 miliar saham baru dengan harga pelaksanaan Rp 1.000 per saham. Dana hasil penambahan modal tersebut digunakan untuk memperkuat struktur permodalan perusahaan.
Menurut DSSA, langkah ini bukanlah transaksi pemindahan aset, melainkan bertujuan untuk meningkatkan kapasitas pendanaan dan fleksibilitas keuangan BMT. Manajemen memastikan bahwa tidak ada dana yang dialirkan kepada entitas anak, entitas asosiasi, maupun pihak lain. "Seluruh dana yang telah diperoleh BMT sebesar Rp 8,54 triliun telah dipergunakan untuk memperkuat struktur permodalan dan memastikan kapasitas pendanaan serta fleksibilitas kemampuan finansial BMT," tulis manajemen.
Restrukturisasi ini menjadi bagian dari transformasi DSSA yang semakin agresif dalam mengembangkan bisnis di luar sektor batu bara. Presiden Direktur DSSA, L. Krisnan Cahya, sebelumnya menyatakan bahwa perusahaan mengarahkan investasi pada infrastruktur digital, energi rendah karbon, pusat data, dan teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI). "Melalui investasi pada energi rendah karbon, konektivitas digital, pusat data, komputasi berbasis AI, dan teknologi masa depan lainnya, DSSA berkomitmen memperkuat daya saing sekaligus mendukung transformasi digital dan transisi energi di Indonesia," ujar Krisnan.
Strategi ini mulai menunjukkan hasil pada kinerja perusahaan. Pada kuartal I 2026, pendapatan dari segmen infrastruktur digital dan teknologi tumbuh sekitar 50% secara tahunan menjadi US$69,1 juta. Perusahaan juga memperkuat ekosistem digital melalui merger MyRepublic Indonesia dengan PT Mora Telematika Indonesia Tbk, pembangunan pusat data berbasis AI, serta akuisisi BMT yang memberikan kepemilikan tidak langsung di PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk (EXCL).
Pendapatan dari sektor energi terbarukan juga meningkat menjadi US$35,72 ribu dari US$28,62 ribu secara tahunan. Pertumbuhan pendapatan ini juga didorong oleh merger antara PT Eka Mas Republik (MyRepublic Indonesia) dan PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA) menjadi PT Ekamas Mora Republik (MoraRepublic), yang kini mengoperasikan jaringan serat optik lebih dari 166 ribu km, menjangkau sekitar 12,7 juta homepass, serta melayani lebih dari dua juta pelanggan ritel dan lebih dari 17 ribu pelanggan bisnis.
Dari sisi pusat data, DSSA melalui PT SMPlus Digital Investama (SM+) mempercepat pengembangan fasilitas yang dirancang untuk mendukung kebutuhan komputasi AI. Setelah menyelesaikan tahap topping off pusat data SMX01 di Jakarta pada Mei 2026, perusahaan menargetkan fasilitas berstandar Tier IV dengan kapasitas lebih dari 18 megawatt tersebut mulai beroperasi pada kuartal keempat 2026.
Selain itu, SM+ juga mengembangkan 25 edge data center untuk mendukung komputasi berlatensi rendah yang dibutuhkan sektor telekomunikasi, bisnis, dan aplikasi AI. Ekosistem ini diperkuat melalui pembentukan PT Brilian Teknologi Sejahtera, perusahaan patungan DSSA dengan perusahaan teknologi asal Cina, iFLYTEK, yang fokus pada pengembangan solusi machine learning dan AI untuk berbagai sektor industri.
Langkah strategis DSSA dalam menjajaki bisnis pusat data lainnya juga terlihat dari akuisisi PT Bali Media Telekomunikasi (BMT), yang memiliki 24,57% saham PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk (EXCL). Melalui transaksi senilai sekitar Rp4 triliun, DSSA memperoleh kepemilikan tidak langsung di EXCL serta memperkuat bisnis telekomunikasi sebagai salah satu mesin pertumbuhan jangka panjang.
Perusahaan juga baru saja mengakuisisi PT Ketrosden Triasmitra Tbk (KETR). Pengambilalihan 994,44 juta saham dilakukan oleh perusahaan terafiliasi Grup Sinar Mas, yaitu PT Inti Mas Bangun Sejahtera (IMBS). Ke depan, DSSA akan menjadi pemegang manfaat akhir KETR, yang bergerak di bidang infrastruktur jaringan telekomunikasi, jasa pemeliharaan dan pengelolaan kabel komunikasi, serta penyedia sistem komunikasi kabel serat optik laut dan darat.
Sejak 2025 hingga awal 2026, DSSA telah melaksanakan sejumlah langkah transformatif besar, termasuk implementasi prinsip berkelanjutan di hulu pertambangan. PT Borneo Indobara (BIB) meluncurkan program elektrifikasi alat tambang terbesar di Indonesia, yang telah memobilisasi 176 unit kendaraan listrik dan hybrid hingga Mei 2026 sebagai bagian dari peta jalan strategis menuju pencapaian target emisi net zero pada periode 2028–2029.
Krisnan menjelaskan bahwa komitmen terhadap energi baru dan terbarukan (EBT) juga diperkuat melalui peresmian pabrik manufaktur sel dan modul surya terintegrasi berkapasitas 1 GW per tahun di Kendal. Selain itu, kemitraan strategis dengan PT FirstGen Geothermal Indonesia, anak perusahaan First Gen Corporation dari Filipina, memperluas portofolio panas bumi perusahaan dengan potensi kapasitas awal mencapai 440 MW di enam wilayah strategis di Indonesia.
Meskipun agresif dalam ekspansi ke sektor digital, struktur pendapatan DSSA masih sangat bergantung pada batu bara. Direktur DSSA, Daniel Cahya, menyatakan bahwa secara struktural, perusahaan terbagi dalam dua pilar besar, yaitu Sinarmas Energy & Infrastructure dan Sinarmas Communication & Technology. Pilar pertama mencakup tambang batu bara melalui Golden Energy Mines (GEMS), energi baru terbarukan (EBT), dan sektor kimia. Sementara pilar kedua mengelola aset telekomunikasi dan digital, termasuk MyRepublic Indonesia serta konsolidasi kepemilikan di PT XLSmart Telecom Sejahtera Tbk (EXCL).
Dengan diversifikasi yang luas, ketimpangan kontribusi pendapatan masih terlihat jelas. Pada 2025, GEMS menyumbang sekitar 89% dari total pendapatan DSSA dengan nilai mencapai US$2,48 miliar. Angka ini menunjukkan bahwa mesin utama perusahaan masih bertumpu pada komoditas. Daniel mengakui bahwa dominasi tersebut akan berlanjut dalam jangka pendek, tetapi ia menegaskan bahwa arah diversifikasi perusahaan mulai bergeser. "Yang kami harapkan, bisnis infrastruktur digital dan energi akan naik signifikan dalam 3-4 tahun ke depan dan kontribusi ke revenue bisa tumbuh dua digit," ujar Daniel.
Ambisi untuk menyeimbangkan pendapatan antara batu bara dan non-batu bara dalam 3-4 tahun ke depan bukan tanpa tantangan. Ketergantungan pada batu bara membuat DSSA rentan terhadap fluktuasi harga komoditas global. Manajemen DSSA mengakui bahwa tekanan harga masih terjadi meskipun volume produksi meningkat. Di sisi lain, ekspansi ke digital dan EBT memerlukan belanja modal besar dengan periode pengembalian yang lebih panjang.
Tantangan lain juga muncul dalam ekosistem digital. DSSA kini mengintegrasikan berbagai lini usaha mulai dari backbone fiber sepanjang puluhan ribu kilometer, layanan broadband, hingga pengembangan data center Tier IV dan inisiatif AI. Kombinasi ini membentuk model bisnis end-to-end, dari infrastruktur hingga layanan ke pengguna akhir. Meskipun batu bara masih menjadi fondasi jangka pendek, arah strategis DSSA mulai bergeser. Kontribusi energi fosil secara bertahap akan diseimbangkan dengan pertumbuhan bisnis digital dan EBT.
Wakil Presiden Direktur DSSA, Lokita Prasetya, menjelaskan bahwa dominasi GEMS akan terdilusi oleh ekspansi segmen baru. Meski begitu, Lokita menegaskan bahwa sektor energi tetap menjadi fondasi bisnis perusahaan dengan fokus pada operasional yang efisien dan berkelanjutan. "Strategi ini diwujudkan melalui penguatan sustainable mining practices, mulai dari peningkatan efisiensi energi hingga pengelolaan lingkungan yang terintegrasi," ujar Lokita.
Lokita juga menambahkan bahwa perusahaan saat ini sedang mempercepat elektrifikasi armada operasional (EV fleets) di PT Borneo Indobara (BIB). Inisiatif ini tidak hanya mengurangi biaya operasional, tetapi juga memelopori transisi menuju green mining di sektor pertambangan. Dengan adopsi teknologi ini, perusahaan memastikan operasional tetap relevan dengan kebutuhan energi masa depan sekaligus secara aktif menekan emisi karbon. Selain itu, DSSA secara bertahap juga memperkuat portofolio Energi Baru Terbarukan (EBT), terutama pada sektor panas bumi dan tenaga surya.
"Langkah ini menjadi strategis mengingat Indonesia memiliki sekitar 40% potensi panas bumi global, yang merupakan sumber baseload energi hijau paling andal dalam jangka panjang," ujar Lokita. Ia menjelaskan bahwa komitmen ini diwujudkan melalui pengoperasian pabrik panel surya terintegrasi 1 GW di KEK Kendal serta pengembangan proyek panas bumi melalui PT DSSR Daya Mas Sakti. Dengan total potensi mencapai 440 MW, perusahaan kini tengah mengakselerasi eksplorasi di enam wilayah strategis mulai dari Cisolok dan Cipanas di Jawa Barat, hingga Sumatera, Flores, dan Sulawesi Tengah.
Untuk memperkuat kapabilitas teknis dan operasional, DSSA juga menjalin kemitraan strategis dengan PT FirstGen Geothermal Indonesia, yang merupakan anak usaha Energy Development Corporation (EDC). Sejalan dengan itu, DSSA terus memperkuat penerapan praktik yang lebih hijau, efisien, dan berkelanjutan. "Pendekatan kami adalah menjaga keandalan pasokan energi saat ini, sekaligus secara bertahap mengembangkan sumber energi yang lebih rendah emisi sebagai bagian dari strategi jangka panjang perusahaan," tutup Lokita.