PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) mengumumkan rencananya untuk melepas merek penyedap rasa Royco. Isu ini muncul setelah kabar sebelumnya mengenai niat perusahaan untuk menjual bisnis kecap Bango. Menurut analisis dari BRI Danareksa Sekuritas, pemisahan segmen makanan dan minuman (F&R) masih berjalan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan.
Dalam transaksi yang diajukan dengan McCormick, merek Bango dan Royco akan tetap menjadi bagian dari portofolio yang akan dialihkan. Analis BRI Danareksa Sekuritas, Christy Halim dan Sabela Nur Amalina, merekomendasikan untuk membeli saham UNVR, meskipun mereka menurunkan target harga menjadi Rp 2.200 per saham. Riset yang dilakukan oleh BRIDS menunjukkan penyesuaian kecil terhadap proyeksi laba perusahaan, dengan kenaikan sebesar 0,7% untuk Tahun Buku 2026 dan penurunan 3,6% untuk 2027.
Proyeksi Pertumbuhan dan Laba Bersih
Meskipun demikian, BRIDS masih memperkirakan bahwa pendapatan Unilever Indonesia akan mengalami pertumbuhan sebesar 5,8% dan laba bersih akan meningkat 12,9% pada tahun 2026. Dalam risetnya, Christy dan Sabela menyatakan, “Unilever tetap berkomitmen untuk mendistribusikan 100% laba bersih dari divestasi Sariwangi kepada pemegang saham pada FY26.” BRIDS juga mempertahankan target price to earnings (PE) sebesar 19,8 kali untuk proyeksi laba Tahun Buku 2026, yang berada sekitar 0,5 standar deviasi di bawah rata-rata tiga tahun.
Saat ini, saham UNVR diperdagangkan pada PE 14,9 kali berdasarkan proyeksi laba Tahun Buku 2026, yang menunjukkan posisi sekitar 1 standar deviasi di bawah rata-rata tiga tahun. BRIDS juga mengidentifikasi beberapa risiko yang dapat memengaruhi kinerja UNVR, termasuk potensi cuaca ekstrem akibat El Niño, ketegangan geopolitik yang berkepanjangan yang dapat meningkatkan biaya logistik dan bahan baku, serta lemahnya permintaan dari konsumen.
Perjanjian dengan McCormick
Pada kuartal pertama tahun 2026, McCormick & Company dan Unilever Plc telah menandatangani perjanjian untuk menggabungkan bisnis McCormick dengan bisnis makanan Unilever. Transaksi ini tidak mencakup bisnis makanan Unilever di India dan beberapa bisnis lainnya yang telah ditentukan sebagai excluded businesses. Aksi korporasi besar ini bertujuan untuk menciptakan pemimpin global dalam industri bumbu dan penyedap rasa, dengan proyeksi pendapatan gabungan mencapai sekitar US$ 20 miliar pada Tahun Fiskal 2025.
Setelah transaksi selesai, Unilever dan para pemegang sahamnya diperkirakan akan memiliki sekitar 65% dari saham perusahaan hasil penggabungan, yang dihitung berdasarkan harga rata-rata tertimbang saham McCormick selama satu bulan, senilai sekitar US$ 29,1 miliar. Selain itu, Unilever juga akan menerima pembayaran tunai sekitar US$ 15,7 miliar, dengan penyesuaian tertentu pada saat penutupan transaksi.
Nilai perusahaan bisnis Unilever Foods diperkirakan mencapai sekitar US$ 44,8 miliar, setara dengan 13,8 kali EBITDA untuk Tahun Fiskal 2025. Di sisi lain, nilai perusahaan McCormick diperkirakan sekitar US$ 21 miliar, dengan valuasi yang sama sebesar 13,8 kali EBITDA. Setelah transaksi selesai, pemegang saham Unilever diprediksi akan menguasai 55,1% saham perusahaan gabungan, sementara pemegang saham McCormick akan memiliki 35%, dan Unilever akan mempertahankan kepemilikan langsung sekitar 9,9%.
Kedua perusahaan menilai bahwa penggabungan ini akan menyatukan portofolio merek global di kategori rempah-rempah, bumbu, penyedap rasa, bahan bantu memasak, saus, dan pelengkap makanan. Ke depannya, Unilever global akan lebih fokus pada pertumbuhan dari sektor kecantikan, kesehatan, perawatan pribadi, dan kebutuhan rumah tangga.