Ekonomi

Wall Street Menguat, Namun Masih Tertekan oleh Lonjakan Imbal Hasil Obligasi AS

Wall Street mengalami penguatan pada perdagangan Jumat, meskipun masih dibayangi oleh kekhawatiran terkait imbal hasil obligasi pemerintah AS yang meningkat.

E
Eko Prasetyo
24 August 2026 25 pembaca
Nur Hana Putri Nabila
Nur Hana Putri Nabila

Wall Street ditutup dengan hasil positif pada hari Jumat (21/8), ketika para investor berusaha pulih dari aksi jual besar-besaran yang terjadi sebelumnya, seiring dengan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) atau US Treasury. Indeks S&P 500 mengalami kenaikan sebesar 0,43% mencapai level 7.674,37, sementara Nasdaq Composite juga naik 0,43% menjadi 26.180,45. Dow Jones Industrial Average mencatat lonjakan 517,80 poin atau 0,98% ke level 53.277,01, didorong oleh kenaikan saham di sektor kesehatan seperti Merck dan Johnson & Johnson.

Kenaikan Sektor Keuangan dan Bahan Baku

Sektor keuangan turut memberikan dukungan pada Wall Street, terutama saham-saham yang terkait dengan aset kripto, di mana Bitcoin mencatatkan kenaikan 22% dalam satu minggu. Saham Robinhood melonjak hampir 14%, sedangkan Coinbase naik sebesar 8%. Selain itu, sektor bahan baku juga menunjukkan penguatan sebesar 2%. Meskipun Wall Street mengalami kenaikan, hal ini terjadi setelah sebelumnya tertekan akibat meningkatnya imbal hasil Treasury, yang memicu kekhawatiran di kalangan investor tentang risiko inflasi di tengah tingginya harga minyak.

Kinerja Negatif Mingguan dan Risiko di Pasar

Walaupun menguat pada hari Jumat, Wall Street masih mencatatkan kinerja negatif untuk minggu ini. S&P 500 mengalami penurunan sebesar 1,4%, dan Nasdaq melemah 2%, mengakhiri tren kenaikan selama tiga minggu berturut-turut. Dow Jones juga turun 0,9% dalam sepekan, mencatatkan pelemahan mingguan kedua berturut-turut. Tekanan pasar juga dirasakan di luar AS, di mana indeks MSCI All Country World tercatat turun hampir 1% sepanjang pekan.

Pendiri sekaligus CEO Verdence Capital Advisors, Leo Kelly, menyatakan bahwa pasar saham masih berpotensi mengalami tekanan lebih lanjut. Ia menegaskan bahwa Wall Street akan menghadapi risiko koreksi lebih lanjut jika imbal hasil Treasury terus meningkat dan ketegangan di Timur Tengah berlanjut. Pada perdagangan hari Jumat, imbal hasil Treasury tenor 10 tahun naik lebih dari 3 basis poin menjadi 4,734%, sementara imbal hasil tenor 30 tahun juga meningkat lebih dari 3 basis poin menjadi 5,273%.

Kelly menyebutkan bahwa pasar telah menyesuaikan diri dengan kisaran 4% hingga 5% untuk imbal hasil obligasi 10 tahun. "Jika terjadi suatu peristiwa dan pasar melonjak hingga mencapai kisaran 6% hingga 7% untuk imbal hasil obligasi 10 tahun, itu akan menjadi masalah, dan pasar akan bereaksi negatif terhadap hal tersebut," ucap Kelly. Para investor kini menantikan pidato Ketua Federal Reserve Kevin Warsh pada Simposium Kebijakan Ekonomi Jackson Hole yang akan berlangsung minggu depan, untuk mendapatkan kejelasan lebih lanjut mengenai isu-isu lain, termasuk independensi bank sentral.

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id. Nikmati pengalaman membaca yang lebih nyaman dan fitur menarik lainnya melalui aplikasi mobile Katadata.

Artikel Terkait