Pendidikan

Anak-anak Kampung Sadang Menyeberang Waduk Saguling untuk Bersekolah

Anak-anak dari Kampung Sadang, Bandung Barat, rutin menyeberangi Waduk Saguling dengan rakit untuk mencapai sekolah mereka. Warga berharap pembangunan jembatan segera terwujud.

A
Ananta Prana
29 August 2026 16 pembaca
Anak Kampung Sadang, Bandung Barat, menyeberangi Waduk Saguling dengan rakit untuk sekolah. Warga berharap akses jembatan segera dibangun. /Antara.
Anak Kampung Sadang, Bandung Barat, menyeberangi Waduk Saguling dengan rakit untuk sekolah. Warga berharap akses jembatan segera dibangun. /Antara.

Di Kampung Sadang, Desa Budiharja, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, anak-anak mulai berangkat ke sekolah sebelum pukul 06.00 WIB. Dengan mengenakan seragam putih-merah dan membawa tas, mereka berjalan menuju tepian Waduk Saguling, di mana sebuah rakit bambu telah disiapkan untuk menyeberang ke Kampung Gombong, tempat SD Negeri Budiharja berada.

Setiap siswa menaiki rakit secara bergiliran, duduk berdekatan sambil menjaga barang-barang mereka. Seorang warga setempat membantu mengarahkan rakit dengan tali yang terikat di atas permukaan waduk. Perjalanan menyeberangi waduk ini sudah menjadi rutinitas harian bagi mereka, meskipun jarak antara Kampung Sadang dan sekolah tidak terlalu jauh jika dilihat dari titik penyeberangan.

Perjalanan yang Menantang

Namun, saat ini belum ada jembatan yang menghubungkan kedua lokasi tersebut, sehingga anak-anak hanya memiliki dua pilihan: menyeberang dengan rakit atau berjalan melalui jalur darat yang lebih panjang. Menurut Kepala SD Negeri Budiharja, Taufik, jarak melalui jalur darat mencapai hampir empat kilometer, dan anak-anak memerlukan waktu sekitar setengah jam untuk sampai ke sekolah. Hal ini menjadi tantangan tersendiri, terutama karena mereka harus tiba di kelas sebelum pukul 06.30 WIB.

Taufik mengungkapkan, “Makanya untuk mempersingkat perjalanan anak-anak tersebut dan semangat untuk sekolah itu mungkin, saya mohon ada jembatan penyeberangan supaya sampai dari sana ke sini 10 menit juga atau 5 menit. Itu sangat diperlukanlah jembatannya.” Saat ini, terdapat 16 siswa dari SD Negeri Budiharja yang masih menggunakan rakit untuk pergi dan pulang sekolah, terdiri dari berbagai kelas.

Kekhawatiran Orang Tua

Santi Nur Setiani, seorang ibu dari Kampung Sadang yang memiliki anak di kelas 3 SD, juga merasakan dampak dari situasi ini. Setiap pagi, anaknya bersiap untuk berangkat sekolah, dan biasanya Ketua RT serta warga lainnya membantu mengantar anak-anak hingga ke tepian waduk. “Tidak ada transportasi yang lain,” kata Santi, menambahkan bahwa rakit adalah pilihan paling memungkinkan untuk memangkas waktu perjalanan.

Namun, penggunaan rakit tetap menimbulkan kekhawatiran bagi orang tua, terutama saat hujan deras atau ketika permukaan waduk dipenuhi eceng gondok. Santi khawatir anaknya bisa terpeleset saat bermain di atas rakit. “Takutnya terpleset. Kalau musim hujan, dia suka main-main, bercanda sama teman-temannya kalau naik rakit,” ujarnya. Jika tidak ada yang mengantar, anak-anak terpaksa harus berjalan kaki melalui jalur darat.

Penggunaan rakit sebagai sarana penyeberangan anak sekolah sudah berlangsung selama puluhan tahun. Ketua RT 05, Agus Sumpena, menjelaskan bahwa tradisi ini dimulai sekitar tahun 1990, ketika orang tua mengantar anak-anak mereka sendiri. Seiring berjalannya waktu, pihak sekolah menyediakan rakit umum untuk penyeberangan siswa.

Rakit yang digunakan dibuat secara swadaya oleh warga dengan bahan utama bambu, yang memiliki masa pakai terbatas. Agus menyatakan bahwa rakit tersebut biasanya hanya bertahan sekitar dua hingga tiga tahun sebelum perlu diganti. “Kadang-kadang dua-tiga tahun sudah rusak, ganti lagi. Kadang-kadang swadaya bikin,” jelasnya. Rakit yang berukuran besar dapat mengangkut sekitar 15 hingga 20 anak dalam satu perjalanan.

Setelah mengantar anak-anak ke sekolah, warga kembali melanjutkan aktivitas mereka hingga waktu penjemputan. Di sekolah, penjaga juga membantu mengatur proses penyeberangan siswa. Selain berfungsi sebagai sarana transportasi bagi anak-anak, rakit juga menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari warga RT 05, yang sebagian besar bekerja sebagai perajin atau petani.

Dengan adanya rakit, mereka dapat melakukan perjalanan ke kebun, membawa barang, serta menjalankan aktivitas jual beli di seberang waduk. Oleh karena itu, kebutuhan akan jembatan dirasakan tidak hanya oleh siswa dan orang tua, tetapi juga oleh masyarakat yang beraktivitas di sekitar Waduk Saguling.

Agus menambahkan, keinginan untuk memiliki jembatan telah disampaikan oleh warga sejak lama. “Harapan warga memang dari dulu kalau dibikin jembatan, kalau dibikin jembatan ini enaklah buat penyeberangan, khususnya anak sekolah,” ujarnya. Diharapkan, keberadaan jembatan dapat memangkas waktu perjalanan anak-anak menuju sekolah dan memberikan akses yang lebih baik bagi masyarakat.

Perhatian publik terhadap kondisi anak-anak Kampung Sadang menggunakan rakit mulai meningkat setelah video penyeberangan mereka viral di media sosial. Dalam video tersebut, terlihat siswa SD hingga SMP menaiki rakit untuk menyeberangi Waduk Saguling. Meskipun bagi warga setempat pemandangan ini adalah hal biasa, video tersebut menunjukkan kepada masyarakat luas bagaimana anak-anak harus berjuang untuk mendapatkan akses pendidikan.

Respons positif datang dari Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, yang menyatakan bahwa tim Dinas PUPR Provinsi Jawa Barat akan meninjau lokasi untuk mengevaluasi potensi pembangunan akses penyeberangan. Rencana peninjauan ini memberikan harapan baru bagi warga Kampung Sadang yang selama bertahun-tahun mengandalkan rakit bambu untuk menghubungkan aktivitas mereka di kedua sisi Waduk Saguling.

Artikel Terkait