Pendidikan

Analisis Sosiolog UGM Terhadap Kasus Bom Rakitan di Sekolah: Tanda Bahaya untuk Pendidikan

Seorang sosiolog dari Universitas Gadjah Mada menekankan bahwa kasus dugaan bom rakitan yang dibawa siswa ke sekolah mencerminkan kegagalan dalam sistem sosial dan pendidikan, serta perlunya peningkat...

D
Darma Yudhistira
29 July 2026 26 pembaca
Foto siswa SMA.- Ilustrasi dibuat menggunakan Artificial Intelligence ChatGPT
Foto siswa SMA.- Ilustrasi dibuat menggunakan Artificial Intelligence ChatGPT

SLEMAN—Andreas Budi Widyanta, seorang sosiolog dari Universitas Gadjah Mada (UGM), berpendapat bahwa dugaan aksi seorang siswa yang membawa bom rakitan ke sekolah tidak hanya dapat dilihat sebagai masalah keamanan. Menurutnya, insiden ini mencerminkan kegagalan dalam konstruksi sosial dan menjadi panggilan untuk memperkuat sistem pendidikan nasional, terutama dalam membangun budaya dialog dengan anak.

Pentingnya Lingkungan Sosial bagi Anak

Abe, sapaan akrabnya, menjelaskan bahwa setiap anak dibesarkan dalam lingkungan sosial yang memengaruhi karakter dan pola pikir mereka. Ketika anak mengalami kekurangan kasih sayang, perhatian, atau bahkan mengalami rasa sakit, hal tersebut dapat meninggalkan dampak psikologis yang mendalam. Situasi menjadi lebih rumit jika anak juga menjadi korban perundungan di sekitarnya. Ia menekankan bahwa pengalaman tersebut dapat menimbulkan kemarahan yang terpendam tanpa diketahui oleh orang lain.

"Kemudian diguncang dengan bullying oleh dunia sekitarnya, kadangkala oleh teman-temannya. Situasi itu tentu membuat anak juga memendam rasa amarah yang tidak semua orang bisa ketahui," ungkap Abe dalam rilis yang diterima pada Senin (27/7/2026).

Dampak Perkembangan Teknologi dan Media Sosial

Abe juga menyoroti bahwa kemajuan teknologi telah mengubah cara pendidikan anak. Konsep Tripusat Pendidikan yang selama ini mengandalkan keluarga, sekolah, dan masyarakat kini semakin tergerus oleh perkembangan teknologi digital. Akses mudah ke media sosial membuat anak berisiko terpapar konten yang tidak pantas, mulai dari kekerasan hingga pornografi. Informasi tersebut dapat memengaruhi cara pandang anak dan bahkan menginspirasi mereka untuk meniru tindakan kekerasan.

"Bisa jadi justru menginspirasi anak-anak kita untuk mengikuti apa yang dilakukan oleh jejak-jejak kekerasan yang ditinggalkan oleh sosial media," tegasnya. Ia menjelaskan bahwa anak memiliki kemampuan mimesis, yaitu kecenderungan untuk meniru apa yang mereka lihat. Dalam konteks media sosial, hal ini bisa menjadi masalah serius ketika anak mengakses konten yang berisi kekerasan.

Menurut Abe, ruang digital masih sulit untuk dikendalikan sepenuhnya, termasuk dalam menyaring konten yang dapat membahayakan anak. "Kemampuan mimesis yang salah tersebut ialah bentuk kegagalan bagi konstruksi pendidikan dari keluarga, sekolah, dan masyarakat," tambahnya.

Evaluasi Pendidikan Dibutuhkan

Abe menilai bahwa dua kasus ledakan yang terjadi di lingkungan sekolah baru-baru ini mencerminkan kegagalan konstruksi sosial. Dampak dari situasi ini bisa berupa ledakan ke dalam diri, seperti self-harm, atau ledakan ke luar dengan menyakiti orang lain akibat represi psikologis. Oleh karena itu, ia berpendapat bahwa masalah ini tidak cukup diselesaikan hanya dengan memperkuat aspek keamanan.

"Kita gali dari akar persoalan gunung es tentang perilaku anak sekolah yang melakukan ini maka kita perlu menukik ke hal yang lebih dalam merefleksikan kembali bagaimana sistem pendidikan kita dan bagaimana memperkuat budaya dialog bersama anak-anak kita," ujarnya.

Lebih lanjut, Abe menekankan bahwa pendidikan di Indonesia saat ini terlalu berorientasi pada pengetahuan. Ia menyatakan bahwa budaya dialog antara orang tua, sekolah, dan anak masih sangat minim. Pendidikan seharusnya memadukan aspek pengetahuan dan nilai, namun praktiknya lebih menekankan pada aspek pengetahuan.

"Sejak kecil, kita tidak pernah diajari mengelola emosi itu karena apa? orangtua maunya yang normatif-normatif saja, kotbah-kotbah moral bahkan dengan dalil-dalil keagamaan kita," jelasnya.

Pentingnya Pendekatan Cura Personalis

Abe menegaskan bahwa perbaikan sistem pendidikan tidak bisa hanya menjadi tanggung jawab sekolah. Keluarga, sekolah, masyarakat, dan pemerintah harus bekerja sama untuk membangun sistem pendidikan yang mengedepankan pendekatan cura personalis. Pendekatan ini penting karena setiap anak memiliki karakter, pengalaman hidup, dan kebutuhan yang berbeda sehingga tidak dapat diperlakukan dengan cara yang sama.

"Tantangannya adalah bagaimana tripusat pendidikan dan pemerintah dapat membangun sistem yang lebih cura personalis. Tidak ada treatment yang general dalam pendidikan. Kalau ada penyeragaman, berarti itu bentuk kekerasan," tutupnya.

Artikel Terkait