Ekonomi

CLEO Adakan Public Expose dan RUPS, Fokus pada Penurunan Laba dan Ekspansi Pabrik Baru

PT Sariguna Primatirta Tbk (CLEO) akan menggelar Public Expose Tahunan secara virtual untuk membahas kinerja keuangan tahun 2025 dan rencana ekspansi pabrik baru. Penurunan laba menjadi perhatian utam...

D
Darma Yudhistira
21 June 2026 2 pembaca
Sepanjang 2025, CLEO berhasil membukukan penjualan sebesar Rp2,83 triliun. (Foto: dok CLEO)
Sepanjang 2025, CLEO berhasil membukukan penjualan sebesar Rp2,83 triliun. (Foto: dok CLEO)

PT Sariguna Primatirta Tbk (CLEO) akan melaksanakan Public Expose Tahunan secara daring, dengan agenda utama untuk memaparkan kinerja keuangan tahun buku 2025 serta perkembangan bisnis yang terjadi sepanjang tahun 2026. Meskipun acara ini bukan merupakan agenda korporasi yang menghasilkan keputusan langsung seperti pembagian dividen, public expose kali ini diharapkan menjadi momen penting bagi investor yang ingin memahami penurunan laba yang terjadi pada tahun 2025 serta prospek ekspansi yang sedang disiapkan oleh manajemen.

Pasar diperkirakan akan lebih fokus pada kualitas pertumbuhan bisnis CLEO. Sepanjang tahun 2025, perusahaan mencatatkan penjualan sebesar Rp2,83 triliun, mengalami pertumbuhan sebesar 4,8 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, pertumbuhan pendapatan ini tidak sepenuhnya tercermin dalam laba bersih, yang tercatat sebesar Rp389,5 miliar, mengalami penurunan sebesar 17,8 persen secara tahunan. Tekanan pada margin menyebabkan pertumbuhan pendapatan belum dapat diterjemahkan menjadi peningkatan keuntungan.

Kinerja Keuangan Kuartal Pertama 2026

Walaupun demikian, perkembangan terbaru pada kuartal pertama tahun 2026 menunjukkan sinyal yang lebih positif. CLEO berhasil mencatatkan pendapatan sebesar Rp774 miliar, meningkat sekitar 15,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai Rp669 miliar. Laba usaha juga mengalami lonjakan menjadi Rp168 miliar, naik dari Rp157 miliar pada kuartal I-2025. Yang menarik, laba bersih berhasil tumbuh menjadi Rp123 miliar dibandingkan Rp117 miliar pada periode yang sama tahun lalu, dengan kenaikan sebesar 5,2 persen, menunjukkan bahwa profitabilitas perusahaan mulai pulih setelah mengalami tekanan sepanjang tahun 2025.

Jika dilihat dari struktur laporan keuangan, terdapat perbaikan yang signifikan dalam efisiensi operasional. Margin laba kotor pada kuartal I-2026 mencapai sekitar 56,7 persen, sementara laba usaha naik menjadi Rp168 miliar dari Rp118 miliar pada kuartal sebelumnya. Hal ini menunjukkan bahwa strategi pengendalian biaya mulai memberikan hasil yang lebih baik. Dengan demikian, pasar akan menunggu apakah tren pemulihan margin ini dapat dipertahankan sepanjang tahun 2026.

Rencana Ekspansi Tiga Pabrik Baru

Selain membahas kinerja, manajemen juga diperkirakan akan memberikan informasi terbaru mengenai rencana pembangunan tiga pabrik baru yang dijadwalkan pada semester II-2026. Agenda ini sangat penting, mengingat CLEO telah dikenal agresif dalam memperluas jaringan produksi dan distribusi. Saat ini, perusahaan memiliki 22 pabrik dan 96 depo logistik yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia, yang menjadi salah satu keunggulan kompetitif CLEO dibandingkan banyak pesaing di industri air mineral dalam kemasan (AMDK).

Dari segi profil perusahaan, CLEO memiliki sejarah bisnis yang cukup panjang. Perusahaan mulai beroperasi secara komersial sejak tahun 2003 setelah mengambil alih bisnis air minum dalam kemasan merek Anda. Setahun setelahnya, pabrik pertama dibangun di Pandaan, Jawa Timur, dan secara bertahap memperluas jangkauan distribusi ke seluruh Indonesia. Strategi ekspansi yang konsisten menjadikan CLEO sebagai salah satu pemain nasional dengan jaringan produksi dan distribusi yang luas.

Di pasar modal, CLEO resmi mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia pada 5 Mei 2017 melalui penawaran umum perdana sebanyak 450 juta saham dengan harga IPO sebesar Rp115 per saham. Saat ini, jumlah saham yang beredar mencapai 24 miliar lembar, meskipun free float CLEO hanya sekitar 12,36 persen, yang tergolong kecil untuk ukuran emiten papan utama. Free float yang terbatas seringkali membuat pergerakan saham menjadi lebih sensitif terhadap perubahan permintaan dan penawaran karena jumlah saham yang beredar di publik tidak terlalu besar.

Dari sisi fundamental, CLEO masih menunjukkan profil yang sehat. Return on Equity (ROE) pada kuartal I-2026 berada di level 5,06 persen, sedangkan Return on Assets (ROA) mencapai 3,67 persen. Kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban bunga juga sangat kuat, dengan rasio cakupan bunga mencapai 25,47 kali, menunjukkan bahwa beban utang masih dalam level yang sangat terkendali.

(*). Disclaimer: Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Artikel Terkait