Ekonomi

Merdeka Gold (EMAS) Catat Kenaikan 4,64 Persen, Apakah Menuju Level 8.475?

PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) baru saja mengumumkan pendaftaran prospektus final untuk penerbitan Hong Kong Depositary Receipts (HDR), yang mendorong harga sahamnya naik 4,64 persen dalam sepek...

V
Vina Maharani
21 June 2026 3 pembaca
Penguatan EMAS saat ini lebih banyak ditopang oleh investor domestik. (Foto: Pixabay/Csaba Nagy)
Penguatan EMAS saat ini lebih banyak ditopang oleh investor domestik. (Foto: Pixabay/Csaba Nagy)

KABARBURSA.COM – PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) baru saja mendaftarkan prospektus final untuk rencana penerbitan Hong Kong Depositary Receipts (HDR) di bursa Hong Kong, yang membawa kabar positif bagi investor. Dalam sepekan terakhir, harga saham EMAS mengalami kenaikan sebesar 4,64 persen. Pada perdagangan terakhir yang berlangsung pada Jumat, 19 Juni 2026, saham EMAS ditutup dengan baik di zona hijau secara konsisten. Secara teknikal, saham ini menunjukkan potensi untuk mencapai level 8.475.

Sejak awal pekan pada 15 Juni 2026, harga EMAS berada di angka 7.000, dan kemudian meningkat menjadi 7.325 pada 19 Juni 2026. Hal ini menunjukkan bahwa investor yang membeli saham ini pada penutupan awal pekan telah meraih keuntungan sekitar 325 poin atau 4,64 persen hanya dalam waktu empat hari perdagangan. Menariknya, kenaikan ini tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan dengan pergerakan stabil dari 7.000 ke 7.100, sebelum akhirnya menembus 7.325 pada akhir pekan. Proses akumulasi yang terjadi menunjukkan pola yang lebih sehat dibandingkan lonjakan harga yang agresif dalam satu hari.

Volume Transaksi Meningkat Signifikan

Pada 19 Juni, volume transaksi juga mengalami peningkatan signifikan, mencapai 714 ribu lot dengan nilai transaksi sebesar Rp534,9 miliar, yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan hari-hari sebelumnya. Ini menunjukkan bahwa minat beli masih mendominasi pasar. Namun, perlu dicatat bahwa aktivitas investor asing menunjukkan tren net sell yang konsisten. Pada 19 Juni, net sell asing tercatat mencapai Rp52,78 miliar, setelah sebelumnya juga mencatatkan net sell sebesar Rp22,40 miliar hingga Rp37,48 miliar per hari. Saat ini, penguatan harga EMAS lebih banyak didorong oleh investor domestik.

Strategi Perdagangan yang Direkomendasikan

Dari analisis teknikal, posisi EMAS masih terlihat positif. Harga saat ini berada di atas area MA20, yang merupakan salah satu indikator untuk tren menengah. Selain itu, proyeksi gelombang menunjukkan bahwa posisi awal wave [C] dari wave {B} mengindikasikan potensi kenaikan masih berlanjut. Dalam teori Elliott Wave, fase awal wave [C] sering kali menjadi periode di mana momentum mulai terbentuk sebelum memasuki fase kenaikan yang lebih kuat.

Untuk perdagangan esok hari, strategi yang disarankan adalah mengikuti skenario buy on weakness, daripada mengejar harga pada pembukaan. Area antara 7.125 hingga 7.300 dianggap sebagai zona ideal untuk mencermati peluang masuk, karena merupakan area support terdekat dan juga area akumulasi yang sejalan dengan struktur uptrend saat ini. Jika harga mengalami koreksi ke area tersebut namun tetap bertahan, maka peluang untuk melanjutkan penguatan menuju target pertama di 7.975 masih terbuka.

Di sisi lain, jika EMAS langsung dibuka dengan penguatan dan mendekati area 7.500 hingga 7.600 tanpa melalui fase konsolidasi terlebih dahulu, investor disarankan untuk lebih berhati-hati karena risiko profit taking jangka pendek akan meningkat. Secara keseluruhan, EMAS saat ini berada dalam posisi yang relatif lebih kuat dibandingkan banyak saham lainnya yang terpengaruh oleh volatilitas IHSG. Kenaikan 4,64 persen dalam sepekan menunjukkan bahwa saham ini berhasil mempertahankan momentum positif. Selama harga mampu bertahan di atas level psikologis 7.000 yang juga berfungsi sebagai batas stop loss, tren naik jangka pendek masih dapat terjaga. Dengan volume yang meningkat dan struktur teknikal yang masih bullish, peluang untuk mencapai area 7.975 hingga 8.475 tetap terbuka, meskipun investor harus tetap waspada terhadap tekanan jual dari investor asing yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda.

Artikel Terkait