Saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) menunjukkan fluktuasi harga yang cukup mencolok selama periode perdagangan dari 15 hingga 19 Juni 2026. Data dari Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat adanya aktivitas transaksi yang besar pada saham ini, yang disebabkan oleh aksi jual dari salah satu anggota bursa.
Sepanjang pekan tersebut, Maybank Sekuritas Indonesia (ZP) melepas sebanyak 12,5 juta lot saham DSSA, dengan total nilai transaksi mencapai Rp1 triliun. Pelepasan saham oleh ZP ini menjadi salah satu transaksi dengan nilai nominal terbesar untuk satu emiten dalam waktu satu pekan perdagangan. Berdasarkan informasi dari BEI, total nilai transaksi bruto di seluruh pasar selama periode tersebut mencapai Rp175,21 triliun.
Transaksi Broker Teratas
Dari total nilai transaksi tersebut, sekitar 51,48 persen, yang setara dengan Rp90,2 triliun, berasal dari lima broker teratas, yaitu UBS Sekuritas Indonesia (AK), Stockbit Sekuritas Digital (XL), Mandiri Sekuritas (CC), ZP, dan J.P. Morgan Sekuritas Indonesia (BK). Dalam struktur transaksi lima besar ini, ZP mencatatkan total nilai transaksi bruto sebesar Rp15,6 triliun. Sementara itu, AK memimpin dengan total transaksi mencapai Rp26,1 triliun, diikuti oleh XL dan CC masing-masing dengan Rp19,6 triliun, serta BK dengan Rp9,3 triliun.
Aksi jual yang dilakukan ZP terhadap saham DSSA senilai Rp1 triliun memberikan dampak signifikan terhadap pergerakan harga saham di pasar reguler. Di sisi lain, terdapat pula aktivitas beli yang berusaha mengimbangi tekanan jual pada saham DSSA. XL tercatat melakukan akumulasi beli pada saham DSSA senilai Rp133,6 miliar. Selain itu, XL juga melakukan transaksi beli pada saham PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) dengan nilai Rp125,3 miliar. Perbedaan pola transaksi antara ZP yang melepas saham dalam volume besar dan XL yang melakukan akumulasi pada saham yang sama menunjukkan adanya variasi dalam posisi portofolio antaranggota bursa.
Tekanan Jual pada Saham Blue Chip
Selama periode yang sama, tekanan jual juga terjadi pada saham blue chip. Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi sasaran penjualan oleh empat dari lima broker teratas, dengan total nilai jual mencapai Rp1,53 triliun. Rincian penjualan menunjukkan bahwa AK menjual saham BBCA senilai Rp763,4 miliar, BK senilai Rp523,1 miliar, ZP senilai Rp132,7 miliar, dan XL senilai Rp113,7 miliar. Aksi jual ini turut menyumbang pada posisi net sell investor asing di pasar modal.
Pada pekan 15 hingga 19 Juni 2026, investor asing mencatatkan aksi jual bersih (net sell) sebesar Rp4,47 triliun. Total nilai beli asing tercatat mencapai Rp36,37 triliun, sementara total nilai jual asing mencapai Rp40,84 triliun. Sebaliknya, investor domestik mencatatkan aksi beli bersih (net buy) sebesar Rp5,13 triliun dengan total nilai beli Rp51,23 triliun dan nilai jual Rp46,10 triliun. Proporsi transaksi investor domestik mencapai 55,93 persen, sedangkan investor asing berkontribusi sebesar 44,07 persen dari total aktivitas pasar.
Khususnya pada sisi beli, kelompok broker asing dalam jajaran lima besar mencatatkan total nilai beli akumulatif sebesar Rp32 triliun. AK memimpin dengan nilai beli sebesar Rp10,5 triliun, diikuti oleh CC dengan Rp10,4 triliun, ZP dengan Rp7,0 triliun, dan BK dengan Rp4,1 triliun. Sementara itu, XL mencatatkan nilai beli tunggal sebesar Rp10,2 triliun, menegaskan peningkatan partisipasi broker domestik dalam perdagangan saham berkapitalisasi besar.