Ekonomi

Dampak Pengeluaran Saham HSC dari IHSG terhadap Kapitalisasi Pasar

Bursa Efek Indonesia (BEI) menyatakan bahwa pengeluaran 81 saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi dari Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tidak akan mempengaruhi total kapitalisasi pasar bursa.

E
Eko Prasetyo
27 October 2026 5 pembaca
Karunia Putri
Karunia Putri

Bursa Efek Indonesia (BEI) mengumumkan bahwa pengecualian 81 saham yang memiliki konsentrasi kepemilikan tinggi atau high shareholding concentration (HSC) dari Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tidak akan berdampak pada total kapitalisasi pasar bursa. Meskipun kapitalisasi pasar dari 81 emiten tersebut mencapai 30% dari total kapitalisasi pasar BEI, Direktur Pengembangan BEI, Iding Pardi, menjelaskan bahwa bobot saham HSC dalam IHSG hanya sekitar 18%.

Iding menambahkan bahwa meskipun saham-saham tersebut dihapus dari IHSG, total kapitalisasi pasar bursa tetap akan dihitung dari keseluruhan saham yang ada, termasuk saham HSC. "Adapun market cap (kapitalisasi pasar) dihitung dari semua saham, termasuk HSC," ungkap Iding dalam keterangannya yang disampaikan pada Selasa (27/10).

Pergerakan IHSG dan Backtest BEI

Berdasarkan data intraday dari BEI pada pukul 10.50 WIB, kapitalisasi pasar bursa tercatat mencapai Rp 9.441 triliun. Sementara itu, IHSG mengalami penurunan sebesar 0,22% dibandingkan dengan penutupan perdagangan sebelumnya, berada di level 5.361. Dalam kesempatan terpisah, Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, menyatakan bahwa bursa telah melakukan backtest untuk menilai dampak dari penghapusan saham HSC terhadap pergerakan IHSG. Hasil analisis menunjukkan bahwa penghapusan tersebut tidak akan menyebabkan penurunan indeks secara signifikan.

Jeffrey menjelaskan bahwa bobot dari saham yang dikeluarkan dari indeks akan didistribusikan kembali kepada saham-saham lain yang masih menjadi bagian dari IHSG. Oleh karena itu, pergerakan indeks di masa mendatang akan bergantung pada perubahan harga dari saham-saham yang tersisa. "Kami sudah melakukan backtest bahwa dengan pengeluaran saham-saham HSC tidak akan mengakibatkan lonjakan, tetapi dapat mengakibatkan IHSG kita yang lebih kredibel," kata Jeffrey dalam konferensi pers di Gedung BEI pada Senin (26/10).

Investigasi dan Rencana Pengawasan BEI

Selain menghapus saham HSC dari indeks, BEI juga akan mengumumkan indikasi awal mengenai dimulainya investigasi terkait dugaan pelanggaran di pasar modal. Dalam proses ini, bursa dapat mengambil langkah pengawasan dengan berkoordinasi dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), termasuk membatasi atau menghentikan sementara aktivitas rekening efek tertentu. BEI juga memiliki kewenangan untuk memeriksa anggota bursa, termasuk transaksi yang dilakukan melalui perantara tersebut. Jeffrey menyatakan bahwa langkah pengawasan ini akan segera dilaksanakan dan diharapkan mulai berjalan pada awal bulan depan.

Bursa akan mulai mengeluarkan saham-saham yang termasuk dalam daftar HSC dari perhitungan IHSG pada 2 November 2026. Managing Director Research Samuel Sekuritas Indonesia, Harry Su, memperkirakan IHSG berpotensi naik ke level 5.925 dalam jangka panjang, berdasarkan level IHSG yang tercatat sekitar 4.997 pada penutupan perdagangan Senin (19/10).

Harry menilai bahwa selama ini saham-saham HSC memberikan tekanan terhadap indeks. Oleh karena itu, pengeluaran saham-saham tersebut dari perhitungan IHSG diharapkan dapat membuat pergerakan indeks terlihat lebih positif. "Kan HSC stocks drop-nya paling banyak, jadi kalau dikeluarkan, indeks kita naik. Saham HSC paling besar menurunkan indeks," ujar Harry.

Analisis pasar modal, Hendra Wardana, menjelaskan bahwa kebijakan ini dapat membuat IHSG lebih mencerminkan pergerakan saham yang likuid dan memiliki distribusi kepemilikan yang lebih luas. Saham yang hanya dimiliki oleh segelintir pihak dan memiliki porsi saham publik yang terbatas cenderung lebih rentan terhadap pergerakan harga yang tajam. Jika saham-saham seperti itu memiliki bobot besar dalam indeks, maka pergerakan IHSG berisiko lebih dipengaruhi oleh perubahan harga pada sejumlah saham, bukan hanya kondisi pasar secara keseluruhan.

BEI mencatat bahwa bobot saham HSC mencapai sekitar 18% terhadap IHSG. Sebelumnya, bursa juga telah mengeluarkan saham-saham HSC dari beberapa indeks unggulan, seperti IDX30, LQ45, dan IDX80. Namun, Hendra mengingatkan bahwa indeks yang lebih representatif tidak serta-merta menjamin harga saham menjadi lebih wajar. Saham HSC tetap akan diperdagangkan, sehingga risiko pergerakan harga yang terkoordinasi tidak otomatis hilang. Perubahan ini hanya membatasi dampak pergerakan saham tersebut terhadap IHSG.

Hendra juga menyoroti adanya perbedaan angka dalam informasi mengenai bobot saham HSC. Infografis yang beredar menyebutkan bahwa 80 saham HSC mencakup sekitar 28,78% dari total kapitalisasi pasar per 16 Oktober 2026, sementara BEI menyatakan bobot saham HSC terhadap IHSG hanya sekitar 18%. Ia menduga perbedaan tersebut berkaitan dengan basis perhitungan yang berbeda, yaitu kapitalisasi pasar total dibandingkan bobot dalam indeks setelah penyesuaian saham yang beredar. Namun, ia menegaskan bahwa dugaan tersebut bukan penjelasan resmi, sehingga BEI perlu memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai metodologi perhitungannya.

Hendra juga mengidentifikasi sejumlah risiko dari kebijakan ini. Dalam jangka pendek, penyesuaian komposisi indeks dapat memicu gejolak teknis, terutama ketika pengelola dana yang mengikuti indeks perlu menata ulang portofolionya.

Artikel Terkait