Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara, yang lebih dikenal sebagai Danantara, telah mengalirkan investasi ke sejumlah proyek strategis, di antaranya pengolahan sampah menjadi energi (waste to energy/WtE), proyek protein, serta pengembangan Kampung Haji di Makkah. Proyek-proyek ini masih dalam tahap pelaksanaan dan mendapatkan dukungan dana besar dari Danantara.
Pandu Sjahrir, Chief Investment Officer (CIO) Danantara, menjelaskan bahwa mereka memiliki berbagai proyek investasi yang melibatkan mitra dari dalam dan luar negeri. Proyek tersebut meliputi WtE, investasi di sektor protein bersama JBS Group, investasi di perusahaan energi HighPeak Energy yang berbasis di Amerika Serikat, pengembangan hotel di Makkah untuk mendukung Kampung Haji, serta bisnis penyewaan pesawat.
Proyek Pengolahan Sampah Menjadi Energi
Pandu menyampaikan informasi ini dalam acara Danantara Technology Innovation Investment Forum (DTIIF) yang berlangsung di Hotel Fairmont Jakarta pada hari Senin, 26 Oktober. Dia mengungkapkan bahwa salah satu fokus utama Danantara adalah pengolahan WtE secara nasional. Proyek ini ditargetkan untuk menjangkau 33 kota dengan kapasitas terpasang mencapai 660 megawatt (MW).
Proyek ini dirancang untuk membantu mengatasi masalah sampah di Indonesia. Danantara mencatat bahwa volume sampah nasional mencapai 35 juta ton per tahun, dengan sekitar 60% di antaranya belum dikelola. Melalui program ini, Danantara menargetkan pengelolaan 18 juta ton sampah setiap tahunnya. Total kebutuhan investasi untuk program ini diperkirakan mencapai US$ 5 miliar, setara dengan Rp 90 triliun, dengan investasi per lokasi berkisar antara US$ 120 juta hingga US$ 150 juta.
Pandu menyatakan, “Melalui proyek ini, kami berupaya mengatasi persoalan sampah di Indonesia sekaligus mengubahnya menjadi peluang ekonomi.” Dia juga mengklaim bahwa proyek WtE ini merupakan salah satu yang terbesar di dunia, dengan lebih dari 34 bank yang terlibat dalam pembiayaannya, sebagian besar berasal dari bank asing.
Investasi di Sektor Protein dan Energi
Selain pengolahan sampah, Danantara juga berinvestasi dalam pembangunan ekosistem protein regional bersama JBS Group, perusahaan pengolahan protein global asal Brasil. Investasi ekuitas yang direncanakan di sektor ini mencapai US$ 2,5 miliar, dengan dana dialokasikan untuk akuisisi fasilitas dan pengembangan investasi di Indonesia, Asia Tenggara, Australia, dan Selandia Baru. JBS juga berperan sebagai mitra dalam pengembangan ekosistem tersebut.
Dengan skema investasi bersama, Pandu menyebutkan bahwa nilai investasi yang ingin dihimpun dari Danantara dan JBS dapat mencapai US$ 5 miliar. Investasi ini diharapkan dapat membuka akses terhadap kemampuan operasional, pengalaman manajemen, dan jaringan distribusi JBS di pasar yang telah berkembang.
Di sektor energi, Danantara telah mengumumkan investasi sebesar US$ 250 juta pada HighPeak Energy, perusahaan energi yang terdaftar di bursa Nasdaq, AS. Investasi ini dilakukan melalui instrumen saham preferen yang dapat dikonversi menjadi saham biasa, dengan ketentuan tertentu. Investasi ini bertujuan untuk memberikan eksposur terhadap industri minyak di Permian Basin, AS, serta mempelajari teknologi gas serpih dan pengelolaan lapangan migas darat yang matang.
Pandu menambahkan bahwa investasi ini juga menjadi sarana untuk mempelajari teknologi yang dapat diterapkan di Indonesia, dan harga saham HighPeak Energy telah meningkat sekitar 20% sejak investasi dilakukan. Danantara juga berencana untuk meningkatkan skala produksi perusahaan tersebut, dengan target peningkatan dari sekitar 50.000 barel menjadi 100.000 barel.
Proyek Hotel dan Penyewaan Pesawat
Di sektor properti, Danantara menyiapkan investasi pada aset Hotel Novotel di Makkah, yang berkaitan dengan kebutuhan akomodasi bagi jemaah umrah dan haji dari Indonesia. Nilai investasi untuk hotel ini mencapai US$ 500 juta. Danantara mencatat bahwa Indonesia merupakan negara dengan jumlah jemaah haji dan umrah terbesar di dunia, dengan sekitar 1,5 juta hingga 2 juta jemaah setiap tahunnya. Namun, pasokan kamar berkualitas masih dianggap kurang sebanding dengan permintaan yang terus meningkat.
Danantara mencatat bahwa jumlah kamar hotel di Makkah mencapai sekitar 310.869 unit pada kuartal ketiga 2025, namun hanya sekitar 21% atau 65.304 kamar yang termasuk dalam kategori berkualitas. Pasokan kamar berkualitas diperkirakan tumbuh 6,1% per tahun hingga 2031, dengan tambahan sekitar 27.660 kamar, tetapi masih berpotensi tertinggal dari permintaan jemaah.
Danantara juga menargetkan pembangunan 11 menara tambahan dalam dua tahun ke depan, yang diharapkan dapat memperkuat kehadiran Indonesia di pasar properti dan akomodasi di Arab Saudi.
Di sektor penerbangan, Danantara berencana untuk berinvestasi melalui pembentukan dana penyewaan pesawat bersama SMBC Aviation Capital. Nilai awal portofolio dana ini mencapai US$ 800 juta, dengan Danantara Investment Management sebagai investor utama. SMBC Aviation Capital akan bertindak sebagai pengelola operasional dan penyewa aset, sementara Danareksa Investment Management Singapore ditunjuk sebagai mitra pengelola bersama.
Pandu menjelaskan bahwa bisnis penyewaan pesawat memiliki karakteristik khusus dan memerlukan keahlian pembiayaan yang tidak banyak dikuasai oleh pelaku industri. Melalui kerja sama ini, Danantara ingin memperoleh pengetahuan dalam pengelolaan aset penerbangan dan mengembangkan kemampuan pembiayaan pesawat secara komersial.
Selain itu, Danantara juga sedang mengevaluasi kerja sama untuk mengembangkan ekosistem kendaraan listrik domestik bersama PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk. Inisiatif ini masih dalam tahap evaluasi dan telah mencapai pembahasan term sheet yang tidak mengikat. Kerja sama yang direncanakan mencakup pengembangan kendaraan listrik komersial dengan model Mobility-as-a-Service (MaaS), termasuk dukungan pembiayaan dan penguatan rantai nilai baterai.
Pandu menegaskan bahwa pengembangan kendaraan listrik, termasuk bus listrik yang diproduksi di dalam negeri, dapat mendukung agenda hilirisasi energi serta memperkuat industri lokal. “Jika melihat ketiga inisiatif tersebut, tujuan kami adalah mendorong keterlibatan sektor swasta, termasuk Anda semua,” ujarnya.
Dia menambahkan bahwa Danantara ingin menggandeng investor dan pelaku usaha untuk mengembangkan bisnis di Indonesia sekaligus membawa keahlian dan pengetahuan dari mitra global ke dalam negeri. “Bagaimana kita dapat bekerja sama untuk mengembangkan bisnis Indonesia sekaligus membawa keahlian dan pengetahuan ke dalam negeri? Itulah tujuan utama Danantara,” tuturnya.