Pendidikan

Dekan UGM: Sepertiga Remaja Menghadapi Tantangan Kesehatan Mental

Dekan Fakultas Psikologi UGM, Rahmat Hidayat, menekankan pentingnya remaja mencari bantuan profesional dalam menghadapi masalah kesehatan mental, di tengah tingginya angka remaja yang mengalami ganggu...

J
Jaya Abdi
01 August 2026 20 pembaca
Ilustrasi pamer kekayaan/Freepik
Ilustrasi pamer kekayaan/Freepik

SLEMAN— Rahmat Hidayat, Dekan Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM), mengingatkan kepada para remaja untuk tidak ragu dalam mencari bantuan profesional ketika menghadapi tekanan emosional atau masalah kesehatan mental. Ia menegaskan bahwa keberanian untuk meminta pertolongan bukanlah tanda kelemahan, melainkan bagian dari proses pemulihan dan pendewasaan diri.

Angka Masalah Kesehatan Mental di Kalangan Remaja

Pernyataan tersebut disampaikan di tengah meningkatnya angka masalah kesehatan mental di kalangan remaja di Indonesia. Berdasarkan hasil Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) 2022, sekitar 15,5 juta remaja atau 34,9 persen pernah mengalami masalah kesehatan mental.

Rahmat menjelaskan bahwa angka 34,9 persen tidak menunjukkan bahwa semua remaja mengalami gangguan kesehatan mental secara bersamaan. Data tersebut mencerminkan lifetime prevalence, yang berarti seseorang pernah mengalami masalah kesehatan mental setidaknya sekali selama masa remajanya. Meskipun demikian, ia menekankan bahwa temuan ini tetap menjadi sinyal yang serius, memerlukan perhatian dari keluarga, sekolah, dan masyarakat.

Krisis Emosi dan Pertumbuhan Remaja

Rahmat juga menjelaskan bahwa tidak semua gejolak emosi yang dialami remaja dapat dikategorikan sebagai gangguan kesehatan mental. Setiap individu secara alami akan menghadapi berbagai fase krisis dari masa kanak-kanak hingga dewasa awal sebagai bagian dari perkembangan psikologis. Ia menyatakan, "Mengalami krisis pada tahap pertumbuhan itu hal yang wajar. Keberhasilan melewati dan menghadapi krisis pertumbuhan itulah yang menjadi tangga menuju kedewasaan dan kematangan."

Namun, jika berbagai krisis tersebut tidak dapat diatasi dan terus menumpuk, kondisi tersebut dapat berkembang menjadi masalah psikososial hingga gangguan kesehatan mental yang lebih serius. Rahmat menjelaskan bahwa masalah psikososial berkaitan dengan terganggunya fungsi sosial seseorang, sedangkan gangguan kesehatan mental memengaruhi fungsi psikologis, termasuk emosi, kemampuan berpikir, dan persepsi terhadap realitas. "Mengalami kebingungan, merasa tidak percaya diri, atau emosi yang bergejolak merupakan bagian dari proses pertumbuhan. Tetapi kalau ini berlanjut menjadi kesedihan tanpa habis, depresi, nah itu sudah menjadi masalah kesehatan jiwa," tuturnya.

Pentingnya Dukungan Lingkungan

Menurut Rahmat, persoalan psikososial yang tidak terselesaikan dapat menjadi beban yang semakin berat tanpa dukungan dari lingkungan sekitar. Ia menilai kehadiran keluarga, teman sebaya, sekolah, dan kampus yang mampu mendengarkan tanpa menghakimi dapat membantu mengurangi tekanan psikologis yang dialami remaja. "Stres itu tidak masalah. Yang menjadi masalah adalah stres yang berlebihan dan berkepanjangan sehingga melewati daya tahan tubuh fisik kita maupun psikologis kita. Kalau tanpa stres, orang tidak akan pernah berkembang," ujarnya.

Rahmat juga menyoroti pentingnya peran orang tua dalam memberikan ruang dan pendampingan kepada anak. Banyak orang tua yang kesulitan membedakan perubahan emosi yang wajar dengan tanda awal gangguan kesehatan mental. Memberikan ruang kepada anak untuk memproses emosinya bukan berarti mengabaikan kondisi yang dialami. Ia menekankan pentingnya sikap empati dan kesiapan orang tua untuk mendampingi ketika anak membutuhkan bantuan. "Membiarkan berbeda dengan memberi kesempatan, memberi ruang, memberi space. Orang tua yang tepat adalah memberikan ruang bagi anak untuk mengalami, tetapi juga menunjukkan bahwa anytime kalau diperlukan siap mendukung dan tidak menghakimi," jelasnya.

Mencari Bantuan sebagai Langkah Awal

Di akhir keterangannya, Rahmat mendorong remaja untuk tidak merasa malu jika mengalami gangguan kesehatan mental. Ia menilai bahwa menerima kondisi yang dialami merupakan langkah awal untuk mendapatkan penanganan yang tepat. "Masalah kesehatan mental dalam satu dan lain situasi tidak bisa dihindari. Jadi sikap yang baik adalah menerima bahwa saya memang sedang mengalami masalah kesehatan mental dan tidak perlu malu untuk meminta bantuan," tuturnya.

Rahmat meyakini bahwa pengalaman menghadapi masalah kesehatan mental yang ditangani dengan baik dapat menjadi proses pembelajaran yang membentuk pribadi yang lebih tangguh dan matang. "Dari masalah kesehatan mental yang diatasi dengan baik, justru akan menjadi proses pertumbuhan pribadi menjadi sosok yang matang, secara psikologis capable, dan siap menjalankan semua peran kehidupan yang ada," tutupnya.

Artikel Terkait